Powered By Blogger

Senin, April 20, 2015

[CERPEN] Linuwih Aroma Jarik Baru



Muat di Harian Kompas, Minggu, 19 April 2015
Ilustrasi Cerpen oleh Yusuf Susilo Hartono

 Kaulah perempuan itu; perempuan yang bangun dari kematian. Entah untung atau buntung, Tuhan mengembalikan ruhmu tak lama setelah mencabutnya paksa; seperti menyentak gulma dari tanah, lalu menjejalkannya kembali sedemikian rupa.
Seminggu sebelum kejadian itu, kau tengah berladang di sawah ibumu yang cuma sepetak. Hujan deras membuatmu kuyup. Karena awalnya memang kau tak sehat betul, hawa dingin dengan cepat membuat badanmu membara setiba di rumah. Bergelung jarik, kau mengigau tak keruan. Segala obat kau telan, tetap sia-sia. Tepat di malam purnama, hari ketujuh demammu, tiba-tiba tanganmu terulur ke udara, seakan menahan sesuatu. Apakah malaikat datang merenggut paksa jiwamu, tapi kau teguh memperjuangkannya?
Samar kau ingat, air mata ibumu luruh saat melihatmu meregang nyawa. Tangisnya menyayat ke seluruh penjuru dusun. Tetangga berdatangan. Sebagian besar karena tak tega mendengar isak ibumu yang mendadak sebatang kara. Tubuhmu disemayamkan berselimut jarik baru bermotif kawung yang aroma lilinnya belum luntur. Doa para tamu dan tangis ibumu bersahut-sahutan; tak ada yang mau kalah.
Lalu, di antara riuh itu, menyeruaklah suara batuk-batuk. Pertama lirih, lama-lama melantang. Tahu-tahu kau bangkit, membuat jantung mereka setengah terlontar lepas. Mulut-mulut menganga, persis ikan-ikan yang menggelepar. Kau yang bangun-bangun bingung—masih pening oleh aroma kain penutup jenazah—ditubruk peluk limbung ibumu.
Sejak itu kau memiliki linuwih. Kemampuan ”lebih” tiba-tiba dijatuhkan begitu saja dari langit. Kau bisa tahu siapa saja yang dijemput ajal. Pertanda itu menghampirimu dalam bentuk aroma jarik baru, yang bau lilinnya masih pekat. Persis bau pertama yang kau cium setelah bangun dari matimu. Awalnya samar serupa liukan tangan penari yang menuntunmu ke atas panggung. Mau tak mau kau mengikutinya. Jika aroma itu makin kuat, maka makin dekatlah kau pada si calon mayat.
Maka selelah atau sesibuk apapun, bila aroma jarik baru mendatangimu, kau akan mencari sumbernya dan mengunjunginya untuk tanda penghormatan. Bukankah itu inti hidup? Perjalanan demi pencarian yang mengantar pada kepulangan sesungguhnya?
Hanya ibu yang tahu linuwih ini. Padanya kau memberanikan diri bertanya kenapa kau dilimpahi linuwih aroma jarik baru. Kelak akan ada satu kematian yang mengajarimu makna linuwih itu sendiri, begitu katanya sambil melipat kain jarik yang baru dicuci.
Ah, jarik selalu identik dengan ibu. Kain batik selalu membungkus tubuh mungilnya yang mirip ranting; berkali-kali meliuk ditiup angin, tapi tak kunjung patah.
Suatu kali kau menjulurkan kepala di ambang kamar ibu. Wanita itu bersimpuh. Hening dan tenang, tangannya mewiru selembar jarik. Dilipat-lipatnya pinggiran kain dengan telaten, rapi bertumpuk sama lebar. Garis putih pada ujungnya tak ditekuk ke dalam.
”Temani ibu ngawiron jarik dari bapak. Cium bau malamnya, masih baru.” Ibu mengangsurkan kain itu padamu.
Kau menghirup pekat aroma lilin. Kaubayangkan wajah bapak, tapi gagal. Bagaimana bisa mengingat orang yang kepulangannya nyenyai?
Ngawiron iku aja nganti kleru. Lipatannya harus sama. Jangan sampai keliru, apalagi merusak keseimbangan. Hidup tidak akan harmonis dan bahagia.”
Kau membatin, apa ibu bahagia? Selembar kain batik dari bapak apa cukup mengisi kekosongan besar di hati ibu yang terlalu lama ditinggalkan? Bagimu, tidak.
”Jarik selalu ada dalam siklus hidup orang Jawa,” papar ibumu tanpa diminta. ”Alas tidur bayi, gendongan, kain basahan untuk mandi, semuanya memakai jarik. Menikah nanti, kamu dan suamimu akan berkain jarik. Bahkan ketika meninggal, jarik kawung akan menyelimutimu kembali ke alam suwung.”
Ada yang membuatmu pilu saat ibu menyebutkan kata suami. Namun kau belajar menyimpan gundah, karena itulah dada perempuan diciptakan. Ibu pun melanjutkan mewiru jarik, yang kau ketahui di kemudian hari, dikenakan ibu di pesta pernikahan bapakmu dengan istri mudanya.
”Kamu tahu kenapa bapak menghadiahi jarik ini?” bisik ibu di tengah kerumunan tamu bapak. ”Jarik artinya aja gampang serik. Mengingatkan ibu tidak boleh iri pada apa-apa yang bukan milik.”
Tersembul getir di nada ibu. Hatimu ikut teriris. Sepasang matamu merekam ibu yang berbalut jarik melangkah hati-hati, tanpa terburu; menghampiri kedua pengantin.
Begitukah keinginan bapak terhadap jalan hidup kalian? Tidak iri dan berjalan lambat menghayati tiap ketentuan yang dipilihkan, tanpa bisa menggugat?
Dan di sanalah kau mencium aroma itu. Pekat lilin baru di lembar kain mori. Samar awalnya, kemudian menguat di tiap langkahmu mendekat ke pelaminan bapak.
Kau tahu apa yang akan terjadi. Namun, kau memilih diam. Bahkan ketika lelaki itu harus tewas di atas pelaminan, ditancap perutnya berkali-kali oleh belati, karena amuk pemuda yang geram kekasihnya dinikahi bapak, kau bergeming. Bukankah itu yang dia telah tanamkan di hatimu dan ibu? Kepasrahan.
Termasuk pasrah menghayati tangis ibu; berkelindan dengan ruap aroma jarik baru yang perlahan memudar.
Ketika pagi itu kau menghirup aroma yang sama, ada rasa tak enak yang luar biasa. Tak pernah sebelumnya, rasa takut menderamu seperti itu. Kau menuju dapur, berusaha menenangkan diri dengan segelas air.
Betapa rusuh benak dan isi dadamu; aroma jarik baru itu menguat saat ibu melintas di depanmu. Nyaris saja gelas di tangan meluncur jatuh, persis jantungmu yang mencelus.
”Kau seperti baru melihat hantu,” ujar ibu berlalu menuju kamar.
Dua gelas air habis kau teguk untuk menutupi kebohongan. Dalam kepalamu, segala bayang buruk berlesatan. Apa kau sanggup hidup membayangkan hidup tanpa ibu? Sungguh, sepanjang kau memiliki linuwih ini, tak sekali pun terpikirkan ini.
Tak tahan lagi, kau terobos pintu bilik kamar ibu. Wanita itu menegakkan tubuh, menjauh dari tumpukan jarik yang tengah dirapikan.
”Mari ke kota, Bu. Membeli jarik baru,” begitu katamu tiba-tiba. ”Ada sedikit uang. Aku ingin memberi ibu hadiah.”
Sejenak mata sayu ibu mencoba membacamu. Jantungmu berderap, siap merancang kebohongan lainnya. Namun, ibu mengiyakan dan menyuruhmu menunggunya berganti baju.
Jarik terbaik dikenakannya. Rambutnya digelung rapi. Tak ada gincu atau bedak berlebihan. Dari rumah, kalian menyusuri setapak menuju jalan besar. Tak jauh dari sana ada perempatan dengan pos menunggu mobil angkutan menuju kota. Tak sedetik pun tangan ibu lepas menggamit lenganmu. Dadamu sesak. Udara yang kau hirup beraroma tajam, mengiris hatimu lamat-lamat.
Ada keakraban yang tiba-tiba muncul. Sepanjang perjalanan, ibu bercerita banyak, termasuk bagaimana kau dulu nyaris tak berhasil dilahirkan.
”Ibu sudah ikhlas, tapi ibu tetap berjuang.”
Hatimu menghangat mendengarnya.
”Persis ketika kamu sempat mati. Ibu ikhlas.”
Namun jika hal itu dibalik, kau tak yakin apa juga bisa ikhlas.
”Yang sudah ditulis takdir, tak mungkin dicurangi.”
Kau curiga ibu mengintip isi pikiranmu. Selanjutnya, ibu tak berkata apa-apa lagi. Kalian hanya diam sampai angkutan berhenti di depan pasar. Di sebuah kios, seorang emak tambun berwajah lembap keringat dan bertangan kemerincing gelang emas sepuhan menyambut kalian. Ibumu meminta diambilkan selembar batik kawung. Hatimu langsung terjun bebas.
Emak tambun itu membentangkan lembar batik motif kawung. Tak lagi bisa kau bedakan aroma linuwih atau kain pilihan ibu. Dominan hitam dan coklat tua membuat pandanganmu sekejap menggelap. Bentuk-bentuk lonjong sama besar dengan garis bersinggungan, mengingatkanmu pada lengkung kolang-kaling dengan motif serupa keping uang sen kuno. Batik kawung memang terkenal sebagai lurup—kau ingat dulu kain inilah yang menutupi jasadmu.
”Yang ini saja,” ujarnya mantap.
Kau tersenyum sekenanya, menutupi rasa gamam di dada. Ibu selalu tahu gundah apa di hatimu, binar riang di matamu, bahkan hela napasmu yang mendadak lain. Kau adalah buku yang tak pernah gagal dibaca ibu. Namun, pernahkah kau bertanya, kematian seperti apa yang diinginkan ibu?
”Kenapa jarik kawung, Bu?”
”Apa seharusnya ibu pilih truntum atau sidomukti? Memangnya sudah ada yang melamarmu?”
Seharusnya pipimu memerah. Mestinya kau salah tingkah. Namun, kau makin susah bernapas. Udara di sekelilingmu dipenuhi aroma, yang untuk pertama kalinya sejak memiliki linuwih itu, sangat kau benci.
”Bayarlah, lalu kita pulang,” ujar ibu.
Kata terakhir itu membuatmu bergidik. Pulang ke mana? Tentu saja ke rumah yang telah kalian huni bertahun-tahun. Bukan menuju keabadian.
Saat menunggu angkutan ke dusun, di depanmu ada selembar daun tertiup angin. Kau genggam tangan ibu kuat-kuat. Kau takut ibu seperti daun itu; tahu-tahu terbawa pergi.
Saat angkutan menghampiri, kau hitung detik yang tersisa. Sembari mendekap bungkusan berisi batik kawung itu, ibu memiringkan kepala menyuruhmu lekas naik.
”Ayo pulang,” ujar ibu tersenyum, seakan tahu segala rahasia yang berimpitan di kepalamu.
Walau ragu, tetap saja kau naik. Kau pejamkan mata sambil terus menggenggam tangan ibu. Iya, Bu. Kita pulang sekarang. Mobil itu melaju, sesekali berguncang melintasi jalan bergelombang. Di luar, kau lihat langit menggelap. Seakan apa yang kau punya di dada, tertular ke semesta. Kau menatap wajah ibu sekali lagi. Matanya terpejam, damai sekali. Mungkin bungkusan jarik barunya memberikan ketenangan. Kau makin takut, kalau-kalau mata itu tak terbuka lagi.
Langit pecah jadi hujan. Jalan basah makin rawan. Saat mobil berbelok di tikungan tajam, kau hendak mengingatkan sopir untuk hati-hati. Lelaki tua bertopi lebar dan berkalung handuk itu menoleh sekilas. Namun, kau takkan lupa sorot di sudut matanya. Kelam dan kosong. Kalian pernah jumpa, kau bisa merasakan itu. Mengingatkanmu pada hening alam suwung yang pernah kau kunjungi, di suatu masa.
Kembali kau disergap sesuatu. Aroma itu.
Tunggu! Ya, aku juga menciumnya. Bau lilin batik di kain yang masih baru. Makin lama makin kuat…

Sabtu, Maret 28, 2015

[CERPEN] - Kembang Pulang



Jika ada yang bertanya mana yang lebih dingin, udara malam atau hawa hatinya, Ros akan meraba dadanya. Ada gunung es tumbuh di sana. Sekarang pukul tiga dini hari. Yu Jum terkantuk-kantuk di meja kasir. Pendar papan iklan bir berneon merah-hijau di beranda wisma, tengah meregang kelip terakhir sebelum benar-benar padam. Tamu kelimanya di hari ini baru pulang dengan langkah terseok, setengah mabuk. Ros keburu lupa wajah tamunya itu. Baginya, lelaki selalu tak lebih dari sosok tak berwajah.
Termasuk lelaki itu, yang seharusnya dihukum karena telah mendinginkan dadanya. Dari cerita masa kecilnya, lelaki itu suka sekali pada rumpun kembang ros yang berayun-ayun di bawah jendela kamar tidur ibunya.
Masih nunggu tamu, Ros? Yu Jum menaikkan resleting jaketnya tinggi-tinggi. Kejar setoran ya. Jangan lupa, sisakan buat yang lain.
Tak mengacuhkan Yu Jum, matanya menatap neon box sebuah merk bir. Suaranya terdengar berderak-derak nyaris padam. Angin menjelang fajar semakin kejam. Jalanan di depan pintu wisma mulai sepi. Denting penggorengan tukang tahu tek beradu dengan sayup musik dangdut. Bahkan di masa seharusnya dunia terlelap, kehidupan masih berdenyut. Kalau hatinya sudah sedingin ini, biasanya Ros berlari ke pinggir jalan dan menatap ujungnya. Ada harap yang menggelembung, kalau-kalau lelaki itu––ayahnya––pulang.
Ke mana ayah?
Kapan pulang?
Kenapa ayah pergi tidak mengajak kita?
Ros kecil yang cerewet. Kata orang-orang dulu, bibir Ros serupa butir anggur ranum, menggemaskan. Kata orang-orang kini, bibir Ros layak disebut berpulas anggur merah, memabukkan. Bibir itu Ros warisi dari ibu, yang sepanjang ingatannya pula, tak pernah ia dapati bibir itu banyak berbicara.
Tak sekalipun Ros tahu apa ayahnya kurus atau tambun. Berkumis atau berjenggot. Beraroma kretek atau wangi parfum murahan. Yang ia tahu, ayah tak pernah. Kadang Ros berharap ibu sama cerewetnya seperti Yu Jum, yang selalu mengurusi hidup orang hingga ia tak perlu meraba sosok ayahnya dalam sosok lelaki yang berganti lebih cepat dari guguran daun meranggas.
Minggu depan wisma tutup, Ros, Yu Jum menyalakan rokoknya. Dapat uang kamu nanti. Tiga juta.
Derak tembakau di kiri Ros beradu dengan pendar neon box yang menyedihkan. Yu Jum ikut-ikutan menatap ke arah yang sama.
Apa rencanamu, Ros?
Pulang, Yu.
Ke mana? Memangnya punya rumah untuk pulang?
Ros diam.
Gang ini mau disapu, Ros. Biar bersih, katanya. Memangnya kita sampah ya, Ros? Padahal mereka menyebut kita perempuan harapan, yang masih bisa hidup lebih baik walau ditukar dengan uang tiga juta, asap embusan rokok Yu Jum melayang-layang lebih jauh. Kasihan papi-papimu nanti, Ros. Pasti mereka kangen kamu.
Dada Ros makin dingin. Entah berapa lelaki yang ia senangkan, tapi tak sebanding untuk menambal lubang di dadanya. Tak ada ayah yang bermain ayunan bersama, mengantarkannya ke sekolah, menepuk manja kepalanya. Menyelimutinya saat demam, memarahinya saat pulang pacaran terlalu malam.
Mungkin karena itu Ros lebih suka tamu lelaki yang lebih tua, yang sebenarnya lebih pantas ia sebut ayah. Seluruh penghuni wisma maklum itu. Mereka selalu menyodorkan lelaki setengah baya ke pangkuan Ros untuk disenangkan, berharap Ros juga bisa menyenangkan hatinya sendiri.
Tiap ada lelaki masuk ke wisma, melewati pintu yang dinaungi neon box bir itu, asa di dadanya menyerupai balon. Mengembang besar. Namun, Ros belajar sejak lama tentang cara lelaki menatap dirinya. Mereka yang datang tak pernah menatapnya penuh rindu, sebagaimana dirinya merindukan ayah. Ia hanya dianggap kembang, untuk dihirup wanginya, menghias sepi, lalu ditinggalkan bila waktunya tiba.
Dingin di dadanya menjadi-jadi. Ros tinggal menunggu hari di mana hatinya benar-benar mati. Persis wisma ini. Mirip neon box itu.
Aku pengin ketemu ayah, Yu.
Di mana dia? Ayahmu bahkan sudah pergi sebelum ibumu tahu dirinya hamil. Kamu lahir di sini, besar di sini, cari makan juga di sini. Gang ini boleh disapu, Ros, tapi ini kampungmu. Ibumu dulu kembang di sini. Sekarang kamu juga. Buat kita, inilah rumah. Mau ngapain ketemu lelaki itu lagi?
Ada skenario di kepalanya kalau ia bertemu ayah. Pertama, ia akan marah sebesar-besarnya. Bagaimana bisa ayah sekejam itu, meninggalkan anak perempuannya seorang diri, tanpa membekali pengetahuan tentang hidup. Bagaimana caranya naik sepeda. Bagaimana mengerjakan PR matematika. Bagaimana menghadapi teman sekolah yang centil. Bagaimana membedakan laki-laki yang benar-benar baik dari sekian banyak lelaki yang tampak baik.
Lalu ia akan menangis. Air matanya berjatuhan persis hujan di Desember. Segala momen yang hilang akan ia tangisi. Bukankah lelaki lemah pada air mata wanita? Ayah akan semakin sedih hatinya, lalu memeluknya. Maka, gunung es di dadanya akan pelan mencair, sehingga airmatanya menjadi air bah yang menenggelamkan mereka berdua.
Selanjutnya, Ros akan bercerita. Tentang luka di lututnya karena terjatuh saat belajar sepeda sendiri. Tentang pacar pertama yang diam-diam menciumnya di atas becak selepas nonton dangdut di kampung sebelah. Tentang ibu yang tak pernah berhenti menangis tiap tengah malam. Tentang sulitnya hidup perempuan yang bertahan seorang diri. Tentang lembar rupiah yang cepat menguap entah menjadi apa. Tentang tamu pertama yang menaiki tubuhnya, dengan dengus napas seperti kerbau mengamuk, tapi tak juga Ros bisa ingat seperti apa wajahnya. Tentang dingin di dadanya, yang tak bisa dihangatkan oleh lelaki yang silih berganti menghangatkan ranjangnya di wisma.
Sampai tiba akhirnya Ros memaafkannya, karena toh ia telanjur mencintai ayahnya. Bukankah cinta pertama seorang perempuan adalah ayahnya, dan konon cinta pertama itu takkan mati?
Kalau wisma ini tutup, kita bagaimana ya Ros?
Ya pindah. Pulang ke kampung, buka warung atau apalah.
Ngomongmu sudah seperti Walikota saja.
Ros membalikkan badan. Tubuhnya mendadak begitu lelah. Sendi-sendinya mulai berlepasan, entah karena tamu terakhir membolak-balik tubuhnya seperti adonan panekuk setengah matang atau karena tak ada lagi tenaga untuk berpikir. Derak neon box itu kini lebih cepat, tapi sekaligus melemah.
Pulang, Yu. Aku pengin pulang.
Pet!
Mata Yu Jum dan Ros bertautan tepat saat neon box itu padam, seakan menandai usainya kehidupan di sebuah lekuk jalanan yang disesaki wisma-wisma penuh kembang yang wangi, yang tinggal menunggu hari untuk hilang.
***
Ros menutup berkasnya sembari menghela napas. Setengah mati dia berusaha mengabaikan sorot mata dari ujung ruang tunggu. Padahal dia sudah berpakaian teramat sopan. Kemeja lengan panjang dan pantalon hitam. Pagi tadi dia malah menghabiskan setengah jam hanya untuk memutuskan apakah rambutnya diurai atau digelung. Mana yang terlihat tak terlalu “mengundang”. Namun, prasangka buruk memang selalu lebih mudah dilakukan.
Mantan “itu” ya?
Nyari dana katanya. Buat LSM tempatnya sekarang kerja.
Sekalian jualan?
Ngawur!
Sayang sekali, padahal cantik.
Jangan-jangan masih terima order.
Kalau sama aku, dia mau nggak ya?
Wani piro kowe, Mas, hahaha?
Pagi tadi, sebelum Ros tiba di kantor institusi swasta yang konon mengajaknya meeting untuk urusan pendanaan, Ros melewati gang itu. Jalanan di sana tak lagi sama ramainya. Lokalisasi itu memang resmi ditutup. Gang yang dulu begitu hidup kini mati. Kembang-kembang yang dulu tumbuh merekah, dicabut paksa kemudian mati. Atau tertatih-tatih mencari tanah, untuk kembali menancapkan akar di tanah lain yang masih sudi menerimanya.
“Mbak Ros ini mantan penghuni gang ya? Sekarang kerja di LSM pemberdayaan perempuan?” tanya pimpinan itu dengan sorot menyelidik. Tadinya Ros kira, begitu masuk ruang pimpinan, dia terbebas dari tatapan menghakimi di ruang tunggu. Sayangnya tidak. Ros menggenggam tangannya erat-erat.
“Iya. Saya ditawari kerja di sana.”
“Kalau mantan penghuni lainnya, pada ke mana, Mbak?”
“Ada yang pulang ke keluarganya, membuka usaha, pergi ke kota lain, dan ada juga yang meneruskan profesi lama diam-diam.”
“Wah, percuma dong lokalisasinya ditutup.”
“Oleh karenanya, LSM kami membantu mengedukasi mereka, terutama kesehatan seksual dan kemandirian ekonomi. Bantuan dana dari perusahaan bapak sangat berarti.”
“Angkanya besar juga ya,” pria itu mengalihkan pandangan dari berkas proposal ke arah Ros. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Bisa dong kita bahas ini di tempat yang lebih privat. Kamu tahulah maksud saya.”
Ros hapal betul itu. Raut wajah lelaki yang mencari persinggahan, bukan rumah untuk pulang. Dadanya memanas. Kembali menggelegak kenangan tentang ayah yang asing, tentang ibu yang mati pelan-pelan oleh kesedihan, tentang kembang-kembang lain yang dicerabut paksa tanpa bisa dicarikan tempat untuk tumbuh merekah indah, tanpa dipandang sebelah mata.
Dia perempuan. Mereka perempuan. Apa begitu sulit menjadikan perempuan sebagai rumah untuk pulang, bukan hanya tempat persinggahan. Bahkan ketika Ros mencoba jalan yang berbeda, orang-orang di sekelilingnya terus kembali mendorongnya kembali ke taman yang sama. Taman yang mereka anggap cocok untuk kembang seperti dirinya.
Termasuk pesan pendek dari Yu Jum tadi pagi.
Sudah ketemu ayahmu? Kujamin belum. Nggak usah mimpi-mimpi tentang ayahmu atau hidup benar. Ayo balik. Tak ada ayah, papi pun jadi. Telepon aku, nanti kukasih tahu alamat hotelnya.
“Bagaimana, Mbak Ros?” tanya lelaki itu sekali lagi.
Ros merasakan dadanya ditumbuhi gunung es. Lebih besar. Makin kokoh. Yang terbayang di matanya hanya pendar neon box sebuah merk bir yang sekarat, nyaris mati. Mengingatkannya pada diri sendiri
Ros langsung menarik kembali berkas proposal, dengan sekali sentakan paksa. Wajah pimpinan itu memerah, nyaris meletus oleh penolakannya. Ros tak menoleh ke belakang. Sudah lama dia menyerah akan masa lalu yang lebih sulit dihapus ketimbang sebuah tato atau tanda lahir. Apapun yang dia lakukan, mereka akan selalu memandangnya sama.
Maka, kalau Ros tak bisa menemukan rumahnya untuk pulang, maka biar dia yang membangunnya sendiri.[]



Catatan: Karena miskomunikasi, cerpen ini dimuat ganda di majalah Femina no.12/XLIII (edar 21-27 Maret 2015) dan tabloid Nova no.1412/XXVIII (edar 16-22 Maret 2015). Bukan sesuatu yang membanggakan karena pemuatan ganda adalah kesalahan besar. Masalah pemuatan ganda ini sudah selesai antara aku dan kedua media yang bersangkutan. Lihatlah dari sisi positifnya. Lebih banyak orang yang membaca cerpen ini. Semoga bermanfaat.

Jumat, Maret 27, 2015

[CERPEN] - Papa Untuk Anakku



 Dimuat di Majalah Good Housekeeping edisi November 2014
 
Tanganku ragu membuka pintu berhiaskan poster Ben 10 itu dan hiasan gantung kayu bertulis Nizam’s Room. Kuusap wajahku beberapa kali sampai tak ada air mata tersisa lagi. Kupasang senyum terbaik yang kupunya. Kusuguhkan hanya wajah bahagia padanya.
“Belum bobo, sayang?” sapaku.
Nizam menatapku dari balik selimut. Binar sepasang mata, senyum yang merekah, dan uluran tangan memohon pelukan, semuanya kurekam erat-erat. Itulah pemandangan yang mengusir semua lelah dan menyirami hatiku dengan asa. Nizamlah yang membuat hidupku jauh lebih berharga sepeninggal mantan suamiku.
“Bunda kok baru pulang jam segini?”
“Maaf ya. Kamu nungguin Bunda?”
Nizam mengangguk cepat beberapa kali. Pipi gembilnya naik turun mengikuti irama kepala. Langsung kupeluk dia dan kuserang dengan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya. Nizam terkekeh kegelian dan meronta-ronta. Kuhirup habis wangi tubuhnya seperti pecandu yang mengisap bakaran daun kanabis.
“Bunda diantar sama Om Denis?” tanya Nizam polos. Sejenak aku menatapnya sembari menimbang apakah harus mengatakan yang sebenarnya. Baiklah. Jujur saja. Aku pun mengangguk cepat.
“Kenapa Om Denis nggak mampir ke kamar Nizam dan bacakan dongeng?”
“Om Denis harus buru-buru pulang. Sudah malam, kan?” aku melirik ke arah jam dinding. Jam sembilan lebih sedikit.
“Bun, kapan Om Denis jadi papa Nizam?” ujarnya tiba-tiba. Pandangannya mengunci mataku. Sorot itu mampu membendung niatku untuk berbohong. Aku tak sanggup mendustai sepasang mata malaikat di depanku.
“Teman-teman Nizam di sekolah bilang Bunda akan menikah sama Om Denis. Nizam akan punya papa baru. Kapan, Bun? Masih lama ya?”
Sepasang mata itu langsung menyayat hatiku. Aku langsung memeluknya. Diam-diam air mataku merembes perlahan.
“Nizam mau punya papa sebaik Om Denis, Bun. Cepat nikah ya, biar Om Denis bisa pindah kemari. Jadi Bunda sama Nizam nggak kesepian lagi.”
Sekuat apa pun aku menahan suara, isakan itu sanggup menyelinap keluar dari bibirku. Air mataku semakin deras mengalir. Kupeluk Nizam makin erat. Bocah lima tahun itu sedikit meronta, tapi ia seakan paham, akhirnya memilih diam.
“Bunda, kenapa nangis? Nizam nakal, ya?” tanyanya sambil mengelus punggungku.
Tenggorokanku tercekat. Tak ada kata yang keluar. Seharusnya padakulah Nizam mencari ketenangan. Namun, aku seakan mencari kekuatan pada pelukan rapuh ini. Nizam terus mengelus punggungku. Kubiarkan malam yang makin tua di sana membawa bayang-bayang Denis menjauh. Biarkan aku berbagi hangat sejenak di ranjang Nizam.
“Cup cup, Bunda, jangan nangis ya. Cup cup,” ujar Nizam polos.
***
Parsel buah di tanganku bergetar hebat. Tanpa banyak bicara, Denis mengambilnya dariku dengan satu tangan, lalu tangan lainnya menggenggam tanganku. Bisa kurasakan perbedaan kedua kulit kami. Tangannya besar dan hangat. Seperti selimut, tangan itu menangkup penuh pada tangan mungilku yang dingin. Ia pasti bisa menyadari badai yang bergemuruh di dadaku.
“Operasi jantung ibu berhasil. Ibu akan baik-baik saja,” hiburnya. Siapa yang tengah dia hibur? Dirinya sendirikah lantaran sang ibu akhirnya lolos dari maut? Atau menghiburku yang sejak beberapa hari lalu tenggelam dari rasa bersalah?
“Kamu yakin sakit jantung ibu nggak akan kambuh kalau melihatku?”
“Tadinya kupikir begitu. Tapi ibu sendiri yang ingin ketemu kamu.”
Aku menghela napas perlahan. Ini di luar dugaan. Ibu akhirnya mau menemuiku setelah drama panjang kami beberapa waktu lalu. Aku tak bisa menebak apa yang ada di kepala ibu.
“Ibumu nggak pernah suka sama aku,” jawabku lirih.
“Ibu cuma belum kenal sama kamu. Selama ini aku coba bujuk ibu. Mungkin setelah operasi itu, pikiran ibu jadi lebih terbuka. Siapa tahu ibu merestui kita?”
“Ibu mana yang rela anak bujangnya menikah sama janda cerai beranak satu?”
Denis tersentak menolehku. Ting! Denting lift terbuka dan percakapan kami berhenti sampai di sana. Sejenak aku ragu keluar dari sana untuk bertemu ibunya. Namun, tangannya menarik pelan. Seakan-akan hangatnya enggan melepasku pergi.
Ibu duduk di kursi roda. Perawat tengah membawanya berjalan-jalan ke taman rumah sakit. Duduknya tenang dengan tiang infus menjulang di belakang. Wajahnya nampak segar. Mungkin darah sudah mengalir sempurna di tubuhnya berkat operasi itu. Namun tetap saja, tak ada senyum yang menyambutku. Hatiku langsung dicengkeram perasaan dingin. Kami semua sejenak memandangi pepohonan dan air mancur dalam diam. Kulirik ibu. Wajahnya tenang, sesekali terpejam. Tak ada tanda beliau akan menyerangku dengan kata-kata pedasnya seperti terakhir kami bertemu.
“Den, tolong belikan ibu air putih. Kamu juga mau?” tawarnya padaku. Aku tersentak kaget dan menggeleng cepat. Denis sedikit ragu, tapi aku tersenyum. Kuyakinkan kalau kami berdua akan baik-baik saja di sini, walau sebenarnya diriku sendiri meragukannya.
Aku melihat punggung Denis yang menjauh. Ada keheningan yang tumbuh di antara aku dan sang ibu. Aku memberanikan diri menatapnya.
“Kamu masih ingat terakhir kita ketemu?” tanya ibu seakan tahu aku tengah mengamatinya. Aku mengangguk. “Denis bilang sama ibu kalau dia mau nikah sama kamu.”
Kata-kata itu membawaku kembali pada pertemuan minggu lalu. Aku, Denis, dan sang ibu duduk melingkar di meja makan. Ibu memang sudah lama tak menyukaiku, tapi hari itu Denis sanggup membujuknya untuk makan malam bersama, dengan satu tujuan.
“Bu, aku dan Ayu sudah setahun lebih menjalin hubungan.” Denis tiba-tiba bersuara. Mata ibu membeliak gusar seakan bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. “Di usia kami, rasanya pacaran terlalu lama pun tidak ada gunanya. Aku ingin menikahi Ayu, Bu. Kuharap ibu merestuinya.”
“Tidak,” jawab sang ibu cepat.
“Bu,” Denis berusaha membujuk.
“Ayu. Lebih baik kamu pulang sekarang. Anggap saja pembicaraan ini tidak ada.”
Aku menatap kedua orang di depanku bergantian. Dadaku mendadak sesak. Sorot mata itu tajam menguliti hatiku. Napasnya memburu menahan geram. Sebenci itukah dia padaku? Salahku apa padanya?
“Denis, kamu ganteng. Sukses. Pintar. Apa perlu ibu yang mencarikanmu istri?” tanyanya sambil tetap melihatku. Aku mendapati bayanganku sendiri pias di sepasang bola mata yang nyalang itu. “Ayu bukan perempuan yang tepat buat kamu.”
“Kenapa saya tidak pantas untuk Denis, Bu? Apa karena saya pernah menikah dan punya anak?” entah dari mana kudapatkan keberanian itu. Denis meremas lembut tanganku, seakan memintaku tenang. Namun, ibu telanjur menyulut sesak yang kutimbun menjadi kobaran api yang tak terkendali.
“Saya cinta Denis. Denis cinta saya dan dia juga mau menerima Nizam, anak saya. Apa yang salah dengan itu?”
“Salah. Ibu nggak mau punya mantu janda.”
“Apa hanya karena status janda itu ibu mengorbankan kebahagiaan Denis?”
“Tahu apa kamu tentang bahagianya Denis? Ibu yang membesarkan dia. Kamu baru setahun kenal dia sudah berani menceramahi ibu? Seperti ini perempuan yang mau kamu nikahi, Den?”
“Bu, tenang. Ingat, ibu ada sakit jantung.” Denis mengelus tangan ibunya, sementara tangan lainnya masih menggenggamku erat.
“Pokoknya sampai mati, ibu nggak mau punya mantu Ayu.” Dalam sekejap, amarah itu merobek jantungnya. Ibu terkesiap memegangi dada. Di tengah usahanya menarik napas yang begitu menyakiti jantungnya, ia masih menatapku penuh benci.
“Ayu,” suara ibu memanggilku kembali dari kenangan menyakitkan itu. Aku menoleh dan berusaha tersenyum. “Ibu bukannya benci sama kamu. Kamu anaknya baik. Cantik. Denis juga cerita bagaimana usaha kamu membagi waktu antara kerja dan anak. Kamu perempuan yang kuat. Tapi untuk menjadi istri Denis,…”
Aku diam menanti kata-kata ibu selanjutnya. Jantungku berlompatan tak keruan, tapi berusaha tersenyum.
“Ibu memohon dengan sangat,” ujarnya lirih. “Tinggalkan Denis. Tolak lamarannya. Ibu nggak akan bisa ikhlas kalau mantu ibu seorang janda beranak satu. Ibu rela melakukan apa saja. Kamu boleh minta apa saja, asal tinggalkan Denis. Jangan menikah dengan Denis.”
“Kenapa, Bu?”
“Apa salah kalau ibu ingin punya mantu wanita lajang? Apa salah kalau ibu tidak ingin Denis terjebak dalam tanggung jawab besar membesarkan anakmu? Denis belum siap untuk itu. Kamu tahu apa cibiran orang tentang janda? Menurutmu apa Denis layak diperlakukan seperti itu?”
Hatiku teriris habis tak tersisa mendapati kata-kata itu. Sehina itukah aku di mata ibu? Aku tertunduk menyembunyikan mata yang berkaca-kaca.
“Janji sama ibu, Ayu. Jangan nikahi Denis.” Ibu berujar lirih. Nadanya penuh iba dan ratap. Sebagai sesama ibu, aku berusaha mengerti keinginannya untuk membahagiakan putranya. Aku punya anak. Aku pun ingin anakku bahagia. Namun, bahagia atas nama siapa?
Denis datang dengan dua botol air mineral di kedua tangan. Dua botol itu seperti aku dan ibu. Sama-sama membawa kebahagiaan untuk Denis, tapi hanya satu yang bisa dipilih. Aku atau ibu. Denis menatap kami cerah seakan tak sanggup menyembunyikan girang melihat kami bersanding dalam tenang. Namun, tahukah dia apa yang baru kami bahas?
“Ayu, ibu mohon. Janji sama ibu.”
“Iya,” jawabku lirih menyerah. “Saya janji. Saya tidak akan menikahi Denis.”
***
Aku melangkah gontai menuju ruang tengah. Ada Nizam tergolek nyenyak di sofa di depan televisi. Inah, pembantuku, buru-buru menghampiri seakan takut aku meledak marah.
“Dek Nizam katanya mau nungguin ibu pulang,” ujarnya takut-takut. “Tadi sudah saya suruh tidur di kamar, tapi nggak mau.”
“Nggak apa-apa,” jawabku lemah. Aku menghampiri tubuh mungil itu. Tangannya menggenggam selembar kertas yang hampir lunglai jatuh ke lantai. Perlahan kuambil kertas itu, berharap Nizam tidak terbangun. Hatiku mencelos kala kulihat yang tertera di sana.
Sebuah lukisan krayon warna warni. Sebuah rumah dengan pagar kayu dan diapit pohon apel besar. Di depannya ada tiga orang. Masing-masing dinamai Nizam, Bunda, dan Ayah Denis. Aku langsung membekap mulut menahan suara terisak. Hatiku tercabik-cabik kecil. Perihnya menjalar sampai ke ujung kepala.
“Bunda?” Nizam seperti menyadari kedatanganku. Buru-buru kuhapus air mata yang siap jatuh. Sepasang mata itu mengerjap tanpa dosa, lalu buru-buru ia memelukku. “Gambarnya jelek ya Bunda? Besok Nizam gambarin yang lebih bagus. Nanti Nizam gambarin dua. Satu ditaruh sini, satu lagi ditaruh rumah Om Denis ya? Terus kapan Nizam bisa panggil Om Denis papa?”
Celotehan itu menderas, sederas pilu yang mencacah kepalaku. Aku hanya bisa memeluknya. Lagi-lagi aku mencari kekuatan pada tubuh mungil yang seharusnya kulindungi. Air mata jatuh satu-satu, terus menerus beriringan membasahi punggung Nizam.
“Bunda, Nizam nggak sabar punya ayah seperti Om Denis.”
Oh anakku,… maafkan bunda, sayang.
***
GM, 5 Juli 2012