Kamis, November 01, 2018

Roman Depresi itu Berjudul #HushLittleBaby


Bagaimana aku tahu caranya jadi ibu, 
tanpa ada Ibu di sini, Bu? 
Bagaimana? 
(#NovelHushLittleBaby, hal.64)


Semua orang dilahirkan dari rahim ibu, kemudian dibesarkan oleh sosok ibu hingga akhirnya dewasa. Namun, bagi sebagian orang, sosok ibu ini menjadi terasa rumit, sebab ibu tidak semata beliau yang mengandung dan melahirkan. Ada banyak dimensi kehidupan, yang menjadikan seseorang ibu atau bukan ibu. Begitulah setidaknya yang kurasakan saat tebersit ide menulis #NovelHushLittleBaby ini.

Sejujurnya, aku harus berterima kasih kepada pengalaman hidupku sendiri, yang membuatku ingin menulis novel ini. Aku sedang hamil 7 bulan, ketika mendapat kabar bahwa ibuku berpulang ke Rahmatullah. Buyar sudah semua gambaran yang kubangun di kepala sejak usia kehamilan muda. Tentang bagaimana ibu menemaniku mempersiapkan persalinan. Bagaimana beliau nanti membantuku menguatkan diri saat mengejan di ruang persalinan. Bagaimana repotnya malam-malam panjang saat kami berjibaku dengan tangis bayi, popok kotor, dan ASI yang merembes di baju menyusui. Bagaimana kami tertawa bersama mengenang masa kecilku yang ternyata tak jauh beda, atau mungkin malah berbeda jauh dengan si jabang bayi ini kelak. Harapan yang sudah mengembang besar bak balon, seperti ditusuk jarum, meletus tiba-tiba dan menyisakan rasa syok luar biasa. Aku bingung. Aku takut. Aku bodoh. Tahu apa aku tentang menjadi ibu? Siapa yang nanti mengajariku caranya menjadi ibu?

Setiap perempuan itu ibu, 
mau hamil atau tidak, 
mau melahirkan normal atau sesar. 
Kita semua ibu, Sayang. 
(#NovelHushLittleBaby, hal.57)

Ketika editor kesayanganku, Jia Effendie menawarkan konsep menulis novel dengan genre domestic noir, aku menyambutnya dengan masih membawa perasaan kuat tadi. Lalu, dengan bantuan Jia dan buku-buku yang disodorkannya kepadaku, aku mulai membangun plot #NovelHushLittleBaby. Jujur, ini kali pertama aku belajar membangun plot dengan nuansa thriller domestic noir, tidak semata romance murni yang sendu mendayu.

Apa sih genre domestic noir itu? Simak gambaran singkatnya di sini ya.

#NovelHushLittleBaby berkisah tentang Ruby, ibu muda yang mengalami depresi pascamelahirkan. Semua orang berkata dia beruntung karena dipersunting oleh Rajata, seorang konglomerat media. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang bayi perempuan bernama Gendhis. Walau hubungan Ruby dan ibu mertuanya, Bunda Alana tidak berjalan mulus, dia selalu mendapat dukungan penuh dari pengasuhnya sejak kecil, Bibi Ka. Seharusnya, hidup Ruby baik-baik saja. Namun, tidak begitu menurut Ruby. Ada penggalan dalam masa lalu Ruby yang membuatnya tertekan. Masa lalu kelam ini berkaitan erat dengan sosok ibu kandung yang absen dalam hidupnya; ada tapi tidak hadir, di sampingnya tapi tidak mendampingi. Karena ibulah, Ruby takut punya anak. Takut tak bisa menjadi ibu yang baik. Ketakutan itu begitu kuat, sampai-sampai menjerumuskannya ke dalam jurang depresi pascamelahirkan.

Lalu, tanyakan pada diri sendiri:
Apakah kita sudah cukup mencintai ibu, sebagaimana dia mencintai kita? (#NovelHushLittleBaby, hal.326)

Tak ada alasan spesifik kenapa aku mengangkat topik depresi pascamelahirkan ke dalam #NovelHushLittleBaby. Seperti yang kusebutkan di awal, awal ide novel ini adalah kepergian ibuku. Namun, aku sangat bersyukur tak perlu mengalami fase baby blues syndrome, bahkan hingga ke tahap depresi pascamelahirkan. Pada perjalanan mencari banyak informasi mengenai kehamilan, persalinan, dan parenting, topik depresi pascamelahirkan ini cukup mencolok dan menarik perhatianku. Setelah berdiskusi dengan editor mengenai bangunan plotnya, aku merasa mantap untuk mulai menggarapnya.

Baca review beberapa orang mengenai #NovelHushLittleBaby di Goodreads atau di sini dan sini.

Untuk proses penulisannya sendiri, aku lupa-lupa ingat butuh waktu berapa lama. Beberapa bulan, kurasa. Namun, aku dibantu banyak orang. Selain editor, aku juga mendapat banyak masukan dari dokter yang juga pejuang depresi dan dokter spesialis kejiwaan, kemudian beberapa penyintas depresi melahirkan yang tergabung dalam support group khusus ibu-ibu dengan baby blues syndrome dan depresi pascamelahirkan. Menulis #NovelHushLittleBaby ini telah membuka mataku, bahwa menjadi ibu itu sungguhlah tidak mudah. Terlebih ketika diri sendiri menjadi musuh yang paling mematikan. Semoga banyak pembaca bisa menerima #NovelHushLittleBaby dengan baik, membaca kisahnya, dan mencernanya, sehingga setidaknya khalayak luas bisa lebih aware dengan kondisi ini. Syukur-syukur kalau bisa membantu menguatkan ibu-ibu dengan depresi pascamelahirkan, agar lebih tegar, merasa diterima, serta cukup dicintai.

Mencari jawaban atas alasanmu mencintai seseorang 
adalah perjalanan seumur hidup. 
Karena cinta itu tumbuh dan berubah bentuk. 
Cinta itu hidup, oleh karenanya menjadi dinamis. 
(#NovelHushLittleBaby, hal.259)


Klik dan beli #NovelHushLittleBaby di beberapa toko buku online berikut:



Juga di banyak toko buku fisik dan online lainnya. Jangan lupa beli buku yang asli yaaa...

Jangan biarkan masa lalu menghancurkan kehidupanmu sekarang, 
juga masa depanmu. 
(#NovelHushLittleBaby, hal.17)

Judul                                    : Hush Little Baby
Penulis                                 : Anggun Prameswari
Penyunting                           : Jia Effendie
Penyelaras aksara                : Nunung Wiyati
Penata letak                         : CDDC
Desain sampul                     : Ajay Ahdiyat
Penerbit                                : Noura Books
Terbit                                    : Maret 2018
Tebal                                    : 340 hlm.

Sinopsis:
Jangan menangis, Nak.
Ruby memiliki segalanya. Rajata, suami penuh cinta dan kaya raya. Gendhis, bayi cantik pelengkap kebahagiaan mereka. Kehidupan terasa begitu sempurna bagi Ruby, kecuali satu—masa lalunya.
Kamu boleh berbuat salah pada masa lalu, tetapi tidak pada masa depan.
Ruby hanya ingin bayinya tenang dan berhenti menangis. Namun, dia justru dianggap gila dan tak pantas merawat Gendhis. Padahal, satu-satunya yang gila adalah ibu kandungnya sendiri.
Aku butuh Ibu untuk mengajariku bagaimana caranya menjadi ibu.
Setelah Gendhis direnggut paksa darinya, tak ada lagi yang bisa Ruby percaya. Tidak juga Rajata suaminya, Bunda Alana mertunya, bahkan Bibi Ka pengasuhnya sejak kecil. Dia harus mendapatkan Gendhis kembali dan membuktikan dirinya mampu menjadi seorang ibu. Ruby terus menelusuri masa lalunya yang tak hanya kelam, tetapi juga merah berdarah. Dengan terus membisikkan satu pertanyaan.
Siapa yang dapat menentukan kadar seorang ibu lagi anaknya?


Senin, Oktober 29, 2018

Novel #SecondChanceSeries #Revenge, Romantis dalam Balutan Fantasi Ringan

Orang yang beruntung adalah mereka yang punya kesempatan kedua. 
(Second Chance Series: Revenge, hal. 16)

Hasil gambar untuk second chance revenge anggun

Siapa sih di sini yang hatinya nggak pernah babak belur dihajar rasa patah hati? Apalagi kalau berhubungan dengan kisah percintaannya sendiri. Orang bilang berani jatuh cinta, harus berani juga sakit hati. Namun, kalau sekadar patah hati dan putus karena nggak cocok, mungkin rasa sakitnya lebih mudah dihadapi. Bisa lah pelan-pelan move on. Yang ngenes itu, kalau ternyata akar sakit hatinya karena dikhianati oleh sang kekasih. *jleb* Plus berkhianatnya sambil gandeng sahabat baik sendiri. *jleb-jleb-jleb* Kebayang kan gimana berlipat-lipatnya rasa perih itu di dada? Hayooo, siapa yang pernah mengalami itu, hayooo...

Selalu ada orang yang menyakiti hatimu. Kemarin. Sekarang. Besok. 
Nggak akan ada habisnya. 
Masalahnya, justru apa kamu yang akan membiarkan dirimu disakiti atau tidak. 
(Second Chance Series: Revenge, hal.96)

Berangkat dari situlah, tebersit ide untuk menulis cerita tentang perempuan yang patah hati, berjudul #Revenge.
Inti cerita novel #Revenge ini sederhana; tentang seorang gadis bernama Eleandra Ghani, seorang penulis muda yang sedang naik daun, yang berjuang mengatasi rasa sakit hatinya, karena dikhianati kekasih dan sahabatnya sendiri. Rasanya kayak udah mau mati saja. Dan memang itulah yang terlintas di kepalanya, mengakhiri hidup. Namun, dia mendapat kesempatan kedua, di sebuah Kafe barang antik bernama Second Chance. Di sinilah, dia dihadapkan kepada pilihan, untuk merelakan kekasihnya atau membalas dendam. Pilihan apa pun yang Lea ambil, terbantu oleh sebuah benda ajaib yang "memanggil"-nya dari salah satu sudut tumpukan benda antik di kafe tersebut. Kira-kira benda apa itu? Lalu, apakah balas dendam Lea akan terwujud dengan sempurna?

Baca review beberapa orang mengenai Revenge di Goodreads atau di sinisini, dan sini.

“Keajaiban bekerja dengan cara misterius. 
Yang kita pikir kita bisa kendalikan, ternyata mengendalikan kita.” 
(Second Chance Series, hal.134)

Ini kerjasama pertamaku bersama Falcon Publishing, sekaligus project kedua untuk serial novel. Mbak Dyah Rinni selaku editor akuisisi untuk Falcon Publishing, sekitar akhir tahun 2016, mengajukan konsep novel serial bergenre romance dengan sentuhan light fantasy. Serialnya dinamai Second Chance the Series. Maksudnya serial novel di sini, bukan berarti novel bersambung, seperti trilogi atau saga, lho. Cerita-cerita yang ada di serial Second Chance bisa dibaca terpisah dan berdiri sendiri, walau semuanya memiliki benang merah yang sama, yaitu sebuah kafe antik bernama Second Chance Cafe yang dimiliki oleh seorang bapak tua. Selain itu, serial ini mengangkat tema kesempatan kedua yang didapatkan masing-masing tokohnya, melalui benda-benda antik misterius yang ditemukan di kafe tersebut. Melalui kesempatan kedua inilah, mereka mulai memperbaiki segala yang mereka anggap salah dalam hidupnya.

Baca wawancaraku dengan Mbak Dyah Rinni mengenai proses kreatif menulis Revenge di sini.

Ada tiga novel di serial Second Chance ini.  Ada Replace yang ditulis Arumi E dan Reverse yang ditulis Silvarani. Aku sendiri menulis Revenge pada serial ini. Revenge tetap bergenre romance dengan sentuhan light fantasy, seperti kedua novel lainnya. Namun, aku tetap membubuhkan nuansa kelam pada kisah di novel ini, seperti yang biasa ada pada novel-novelku. Ada kekecewaan, kemarahan, balas dendam, penyesalan, dan cinta yang pahit, layaknya kisah-kisah dalam dark romance yang kutulis. Nah, kira-kira-kira seperti apa ceritanya? Novelnya sudah tersedia di toko buku di sekitar kalian lho, atau bisa langsung klik di toko buku online kesayangan.
Selamat membaca!

Klik dan beli bukunya di sini:
Gramedia 
BukaBukudotCom 
BukuKitadotCom 
Juga di banyak toko buku online lainnya. Jangan lupa beli buku yang asli yaaa...

Judul                             : Second Chance Series: Revenge
Penulis                          : Anggun Prameswari
Penyunting                    : Dyah Rinni
Penyelaras aksara          : Jason Abdul
Penata sampul - isi        : Abdul M.
Fotografi                       : MadTone
Model                           : Salshabilla Adriani
Penerbit                         : PT Falcon
Terbit                            : Februari 2018
Tebal                             : 346 hlm.

Sinopsis
Kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Kariernya sebagai penulis terancam gagal. Kenangan buruk masa lalu terus menghantuinya. Puncaknya, dia mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawa. Kehidupan dan hati Lea benar-benar hancur.

Suatu kali, di Kafe Second Chance, Lea menemukan kesempatan kedua dalam bentuk sebuah diari bergaya vintage. Dia mencurahkan semua perasaan dan keinginannya ke dalam diari tersebut. Bahkan diari itu menjadi sahabat terbaiknya. Tanpa Lea sangka, setiap tulisannya menjadi nyata. Keinginannya terwujud hanya dengan menuliskannya saja.

Lea pun memanfaatkan keajaiban itu. Ada balas dendam kepada kekasih dan sahabatnya yang harus dituntaskan. Ada masa lalu yang harus diperbaiki. Dan ada perasaan-perasaan yang mendesak segera tersampaikan. Lea tak bisa berhenti, meskipun diari itu menuntut harga yang harus dibayar. Berhasilkah Lea membalas patah hatinya? Akankah dia menerima penyesalan sang kekasih yang sudah berkhianat?

Senin, Oktober 15, 2018

4 Detoks Simpel untuk #AksiSehatCeria

Ibu 1: Mom, kayaknya mukanya bersihan nih. Badannya juga kayaknya lebih segar .
Ibu 2 : Ah, masa sih? *tersipu*
Ibu 1 : Perawatan dokter atau pakai skin care baru?
Ibu 2 : Lagi coba program detoks khusus nih...

Begitulah percakapan antara dua ibu-ibu tempo hari, yang tak sengaja kudengar saat membawa anakku jalan-jalan sore ke taman. Wah, program detoks? Apaan tuh ya?

Rear View of Woman With Arms Raised at Beach during Sunset
Sumber foto di sini

Tubuh dan pikiran sehat merupakan impian semua orang. Tubuh sehat bisa diraih dengan makan makanan sehat, berolahraga rutin, dan istirahat cukup. Pikiran sehat akan mudah terwujud bila kita hidup bebas stres dan bahagia. Namun, sering kali menerapkan gaya hidup ini sangatlah sulit. Padatnya aktivitas sehari-hari membuat keseimbangan antara tubuh dan pikiran seperti jauh panggang dari api. Nah, di sinilah peran detoks sangat penting. Kok bisa penting? Sepenting apa?

Detoks atau lengkapnya detoksifikasi, berasal dari gabungan kata de + toksifikasi. Simpelnya, detoksifikasi adalah proses meniadakan/mengeluarkan toksin atau racun yang ada di dalam tubuh. Bisa juga disebut "pembersihan". Gunanya agar badan lebih sehat, menurunkan potensi terkena penyakit degeneratif di kemudian hari, dan meningkatkan kualitas hidup. Jujur deh, kita pasti sering makan sembarangan, minim nutrisi, istirahat kurang, stres, terpapar polusi, ya kan? Kalau sudah begini, efek jangka panjang ke tubuh adalah kurang bugar, gampang sakit, bahkan bisa mempengaruhi suasana hati dan interaksi emosional. Nah, konon detoks bisa membantu mengatasi ini. Dengan detoks, fungsi tubuh "diarahkan" agar bisa kembali bekerja dengan baik.

Ada begitu banyak program detoks yang ada di sekitar kita. Mulai dari yang receh bin gampang, sampai yang rumit dan harus merogoh kocek dalam-dalam. Namun, berhubung aku suka yang praktis dan simpel, kepenginnya sih detoks yang gampang-gampang saja. Apa saja sih detoks simpel itu?

1. Full-day Fruit

Sliced Fruit Stall
sumber foto di sini

Pernah coba nggak detoks hanya makan buah saja? Hah, apa itu? Memangnya bisa kenyang cuma dengan buah? Untuk pegiat pola hidup food combining, full-day fruit detox bukanlah hal baru. Yap, sesuai namanya, ini merupakan program detoks hanya memakan buah sehari penuh selama periode waktu tertentu. Biasanya diprogram 3-7 hari setahun sekali. Buah yang dikonsumsi harus buah yang matang pohon, kaya serat, dan mengandung banyak air. Buah dimakan setiap dua jam, antara pukul 6 pagi hingga 8 malam. Selingi dengan konsumsi air putih agar tidak dehidrasi. 

Assorted Fruits Stall
sumber foto di sini

Untuk apa sih detoks buah ini? Kan nggak kenyang, malah menyiksa diri sendiri. Eits, jangan salah, detoks ini pada dasarnya sama dengan puasa. Sistem pencernaan diistirahatkan dari beban kerja mencerna makanan berat, agar tubuh bisa mendaur ulang sel-sel yang rusak. Namun, pada saat bersamaan, tubuh tetap mendapat asupan nutrisi dan vitamin dari buah, sehingga kebutuhan harian tetap bisa terpenuhi. 

Detoks ini dianjurkan lho, untuk mereka yang punya masalah pencernaan, bau mulut dan badan, mudah lelah, dan obesitas. Sayangnya, bagi ibu hamil dan menyusui, penderita mag kronis, balita, manula, serta penderita kanker dan DM stadium tinggi, detoks ini tidak disarankan.

2. No Make-up-make-up Club

assorted, blur, close-up
sumber foto di sini

Siapa di sini yang percaya diri keluar rumah, jalan-jalan ke mal, tanpa pakai make-up, hayo? Setipis-tipisnya riasan, banyak di antara kita para wanita, tetap menggunakan riasan; walau cuma bedak dan lipstik saja. Ini perlahan jadi bentuk adiksi baru. Kulit kita selalu tertutup make up, membuat pori-porinya tersumbat. Biasanya kalau sudah begini, ujung-ujungnya kita dikepung masalah kulit; wajah kering dan kusam, garis penuaan dini, jerawat, iritasi, dan sebagainya. Begitu gejala ini muncul, kita makin panik. Bukannya membenahi, kita malah makin menutupinya dengan riasan yang bertambah tebal. Kondisi yang tadi disebutkan pun bertambah parah. Seperti lingkaran setan yang ra-uwis-uwis.

Photo of Woman Looking at the Mirror
sumber foto di sini

Oleh karena itu, kita perlu merawat dan mengistirahatkan kulit dari segala bahan kimia kosmetik tersebut. Ada beberapa tips yang bisa dicoba untuk detoks muka ini lho:

- Rajin membersihkan wajah dari riasan. Haduh, malas banget kan rasanya, pulang beraktivitas, badan capek, bawaannya sudah kepengin tidur saja. Eh ini, masih harus membersihkan wajah, dengan step-step yang runut, nggak bisa sekali beres. Suka nggak suka, ini harus dilakukan. 

- Stop pakai make up sementara. Setidaknya luangkan waktu, misalnya sehari penuh dalam seminggu atau sebulan di mana kulit kita benar-benar bebas dari riasan. Mungkin bisa diterapkan saat liburan atau tanggal merah. Dengan begini, kulit kita punya kesempatan untuk "bernapas".

3. Anti-social-(media)

Facebook Application Icon
sumber foto di sini

Coba kita cek ponsel masing-masing, ada berapa sih aplikasi media sosial yang aktif kita gunakan? Facebook, Twitter, IG, Youtube, Line, Tinder, Linkedin, dan seterusnya. Berapa jam sehari yang kita habiskan untuk "bersosialisasi" dengan platform ini? 
Ada pepatah baru, menyebutkan "Media sosial mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat." Medsos telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup kita. Bahkan mungkin, benda pertama dan terakhir yang kita pakai sebelum dan setelah tidur adalah ponsel, untuk mengecek akun-akun medsos. Kehidupan dunia maya pun berbaur dengan kehidupan nyata, dengan garis batas yang terlalu tipis. Ini membuat sebagian pengguna medsos lalai dan kecanduan, sehingga tidak bisa lepas dari akun media sosialnya.

Nah, mungkin ada baiknya kalau kita mulai belajar detoks medsos. Caranya bisa dilakukan dengan beberapa tips sederhana berikut:

- Tentukan kapan waktu ponsel benar-benar off, misal pukul 10 malam sampai 6 pagi. Agar tetap bisa dihubungi kalau ada urusan urgen, aku hanya mematikan paket data dan wifi. Dengan begini, aku masih bisa dihubungi, walau tidak bisa terkoneksi untuk browsing dan membuka akun medsos.

- Disiplin untuk tidak multitasking dalam bekerja dan mengecek akun medsos setiap 30 menit sekali. Jadikan bermain medsos sebagai "reward" setelah fokus bekerja dan merampungkan target kerja tanpa terganggu dengan ponsel. Ini bisa dicapai dengan cara menyimpan ponsel jauh dari jangkauan, misalnya laci atau loker kerja yang terkunci di ruang lain.

Mungkin awalnya akan terasa kagok. Namun, detoks medsos ini bagus untuk melatih fokus, meningkatkan produktivitas, menurunkan level stres (terlebih setelah melihat akun mantan yang hepi-hepi sama pasangan barunya atau akun teman yang sibuk jalan-jalan ke tempat wisata). Selain itu, detoks ini juga membuat kita hidup lebih sadar, terlebih saat berinteraksi dengan orang-orang yang ada di dunia nyata di sekitar kita, seperti foto di bawah ini.

Group of People Sitting on White Mat on Grass Field
sumber foto di sini


4. Blood for Your Life

Banyak yang mungkin tidak sadar, bahwa donor darah itu juga bentuk dari detoksifikasi. Selain manfaatnya untuk membantu suplai darah di PMI bagi mereka yang membutuhkan, donor darah juga bermanfaat bagi pendonornya. 
Apa saja sih, manfaat donor darah itu?

Person Getting His Blood Check
sumber foto di sini

Donor darah bisa dianggap sebagai salah satu program detoks sebab tubuh distimulasi untuk meregenerasi sel darah merah. Sel-sel baru ini menggantikan sel lama yang telah diambil saat mendonorkan darah. 

Selain itu, donor darah bisa menunjang kesehatan jantung. Dengan mendonorkan darah, kadar zat besi dalam darah pun turun. Bila kadar ini terlalu tinggi, akan berakibat oksidasi kolesterol, yang berujung pada penebalan dinding arteri sehingga berpotensi menimbulkan stroke dan serangan jantung. 

Risiko kanker pada organ-organ penting, seperti hati, usus besar, paru-paru, kerongkongan pun lebih rendah bila rutin mendonorkan darah. Ini dikarenakan donor darah menjadi indikator inflamasi dan meningkatkan kapasitas antioksidan. 

Dan yang lebih asyik, kita bisa mendapat informasi kesehatan diri, misalnya berapa tekanan darah kita, suhu tubuh, hingga kadar hemoglobin. Selain itu, kita pun di-screening untuk mengetahui apakah ada penyakit mematikan di dalam tubuh kita, seperti Hepatitis B, Hepatitis C, HIV, Virus West Nile, Sipilis, sampai Trypanosoma cruzi.

Masih banyak lagi manfaat donor darah lho. Kita bisa membaca lebih lanjut, mengenai pentingnya donor darah di sini, nih. Selain itu, kita juga bisa mendapat lebih banyak pengetahuan mengenai dunia kesehatan di website DokterSehat. Dengan sekali klik, kita bisa mendapat informasi kesehatan tepercaya, dari ujung kepala hingga kaki, sehingga tidak gampang jadi korban hoaks mitos kesehatan yang tak bertanggung jawab. 

Singkat kata, kita perlu sesekali melakukan detoksifikasi. Proses detoks akan membantu tubuh kita membersihkan racun dan membuang hal-hal yang tidak berguna, sehingga keseimbangan tubuh dan pikiran yang sehat bisa diraih. Kira-kira dari keempat detoks simpel di atas, mana yang menjadi favoritmu?



Artikel ini ditulis untuk mengikuti #LombaBlogDokterSehat #AksiSehatCeria yang diadakan oleh DokterSehat.com 

lomba-blog-aksisehatceria-doktersehat

Kamis, Mei 10, 2018

Hidup Lebih Sehat; Hadiah Terbaik untuk Diri Sendiri

Nggak terasa, bulan depan aku genap 33 tahun. Usia nomor cantik, kata orang, hehehe. Kalau menjelang ulang tahun begini, aku sering flashback ke beberapa titik penting dalam hidup. Banyak yang membahagiakan, tetapi nggak sedikit pula yang menyedihkan. Persis rollercoaster, naik turun wuzzz wuzzz... Mirip novel yang punya jalinan plot yang bisa diduga, bisa pula tidak.

Salah satu momen terendah dalam hidupku adalah saat Ibu meninggal. Saat itu, tahun 2016, aku hamil anak pertama di trimester ketiga. Cucu pertama yang dinanti-nanti Ibu. Serangan jantung, kata dokter yang menangani beliau di detik terakhirnya. Ya, penyakit degeneratif itu sudah lama diderita Ibu, bersanding dengan hipertensi menahun. Seketika itu juga, pikiran pertama yang terlintas di kepalaku, apa aku juga mewarisi penyakit yang sama?

Foto ini sekitar dua minggu sebelum ibuku berpulang, 
tepat selepas acara tujuh bulanan.

Selidik punya selidik, ternyata penyakit degeneratif sudah menjadi momok mengerikan di keluarga kami. Dari pihak Ibu, ada hantu bernama penyakit jantung, hipertensi, stroke, dan kanker yang membayangi. Sedangkan dari pihak ayah, ada sejarah kelam diabetes yang diturunkan dari generasi ke generasi. Aku bergidik. Bukan tidak mungkin ya, di dalam diriku ada bibit-bibit penyakit itu juga?

"Mama," panggil anakku yang masih batita. Wajah polosnya tersenyum, langsung membuatku tersentak. Demi anakku, aku harus hidup lebih baik, lebih sehat. 

Aku dan si kecil; 
motivasiku hidup lebih sehat

Seketika itu juga, aku ingin menghadiahi diriku di ulang tahun ke-33 ini, sebuah gaya hidup sehat, untuk hidup lebih baik. Demi keluargaku, demi anak-anakku, demi diri sendiri.

Orang bilang, satu tujuan besar diawali dengan serangkaian langkah kecil. Buatku, di tengah kesibukan sebagai pekerja lepas dan ibu rumah tangga, yang paling mudah, ya mengawalinya melalui pola makan. Logika dasarnya ya, semua penyakit degeneratif berbasis gaya hidup, sebagian besarnya berawal dari pola makan yang salah. Jadi, kuputuskan untuk memperbaikinya, dengan langkah-langkah kecil yang mudah, sekaligus murah. Ya, namanya juga emak-emak; faktor simpel dan ekonomis selalu jadi pertimbangan utama, ya kan, bukibuk?


Sarapan terbaik untuk mengawali hari

sumber foto di sini.

Setelah googling sana sini, aku baru tahu bahwa sarapan punya andil besar untuk kesehatan kita. Dan aku baru tahu juga, salah satu sarapan terbaik adalah dengan menu buah-buahan. 
Hah? Buah? Kenapa buah?
Sederhananya, buah mengandung fruktosa, sehingga tak akan membuat gula darah melonjak tinggi di pagi hari. 
Buah yang disarankan matang pohon, berair, dan berserat. Beberapa contohnya pepaya, pear, jeruk, guava, strawberry, dan lainnya. Buah-buahan ini bisa dipotong atau dijus, lho. Misalnya buah pepaya dan pear potong, disandingkan dengan jus jeruk. Oya, sebisa mungkin tidak ditambahi apa-apa lagi, bahkan gula atau madu sekalipun. Memang sih, rasanya pasti ada yang kurang. Namun, seperti yang kita tahu, gula tidak bagus untuk kesehatan. Mengurangi, bahkan menghapusnya dari menu sarapan adalah pilihan terbaik.


Lebih banyak mengonsumsi sayuran segar atau minim proses

sumber foto di sini.

Sepertinya semua orang sudah tahu sayuran bagus untuk kesehatan ya. Sayuran segar lebih baik karena kandungan enzim, vitamin, dan mineral masih berlimpah. Sayangnya, kadang kita memasaknya dengan cara yang salah, sehingga sebagian besar nutrisinya hilang. Nah, biar lebih sehat, saya mengurangi proses pemanasan seperti deep fried atau goreng. Ditumis sebentar, dikukus tak terlalu lama, atau diblansir bisa jadi pilihan. Kalau mau lebih sehat ya dimakan ala lalapan atau salad dengan dressing bebas lemak. Tapi, jangan lupa dicuci dengan bersih di bawah air mengalir ya.


Mengurangi konsumsi gula

Sumber foto di sini.

Kenapa sih banyak yang bilang gula itu buruk? Gula adalah makanan tinggi kalori tanpa nutrisi (nutrisi kosong), sehingga bisa memicu obesitas. Selain itu, gula menyebabkan dehidrasi pada kulit. Bahkan bagi penderita kanker, gula bisa menjadi "makanan" untuk sel kanker sehingga semakin sulit diobati.
Contoh makanan tinggi gula, antara lain: roti, pasta, minuman ringan dan minuman kemasan, selai, saus, kue, dan permen. Duh, padahal aku suka banget dengan roti dan pastry, sepertinya harus dikurangi pelan-pelan, nih.


Menjaga badan terhidrasi dengan baik

Sumber foto di sini.

Tubuh manusia terdiri air sebanyak 55% hingga 78%, tergantung dari ukuran badan dan usia. Oleh karenanya, cukup minum air putih sudah jadi kewajiban. Minimal 8 gelas sehari atau sekitar 2 liter, dipercaya cukup untuk menopang keseharian kita. Ada cara gampang untuk mengukurnya, kok. Aku biasa menerapkannya seperti ini: Satu gelas setelah bangun tidur dan sebelum tidur malam, masing-masing satu gelas setelah makan normal tiga kali sehari, dan tiga gelas sembari mengudap di sela waktu di antaranya. Bisa juga pakai botol ukur, misalnya botol minum plastik ukuran 1 liter yang diisi ulang 2 kali per hari. Gampang kan?


Camilan sehat bebas was-was.

Sumber foto di sini.

Siapa sih yang nggak suka ngemil? Keripik kentang tinggi garam, cokelat, dan es krim. Gorengan pakai rawit atau es doger, ya ampun enak banget. Namun, mungkin sekarang udah waktunya berubah haluan. Sesekali saja guilty pleasure seperti itu. Lalu selebihnya diganti camilan yang lebih sehat. Pilihannya bisa ubi rebus, kacang edamame, plain yoghurt, muesli, granola, kacang-kacangan panggang atau rebus, dan lainnya. Selain mengenyangkan, sehat juga pastinya. Berani coba kan?


Selain itu, masih banyak cara lain yang sama simpelnya untuk belajar hidup lebih sehat. Misalnya, follow akun-akun media sosial yang fokus membahas gaya hidup sehat. Salah satunya SEMBUTOPIA, yang merupakan akun layanan berbagi informasi untuk menginspirasi dan mengedukasi gaya hidup sehat, agar kita semua bisa punya kualitas hidup lebih baik. Dengan jargon, Mari Sembuhkan Indonesia, Sembutopia berdedikasi membuat Indonesia jauh lebih sehat. Kita bisa follow akun-akunnya lho, sekali klik di Twitter @sembutopia dan IG @sembutopia.

Nah, sederhana kan awalan untuk hidup lebih sehat. Lima langkah ini sederhana kok, yang rumit itu niatnya. Hehehe, ini dia hadiah ulang tahunku, untuk diri sendiri; hidup lebih baik, hidup lebih sehat. Kamu mau ikutan join juga?