Minggu, Februari 28, 2016

Membaca Satu Kisah yang Tak Terucap karya Guntur Alam


Judul : Satu Kisah yang Tak Terucap
Penulis : Guntur Alam
Penerbit : GagasMedia
Terbit : Februari 2016
ISBN : 978-979-780-855-6
Jika aku berbagi rahasia paling rahasia, bisakah kau memastikan hatimu akan tetap milikku?

Laki-laki itu tampak asing di mata Ratna, tetapi tak sulit jatuh cinta kembali kepadanya. Dialah yang menuliskan nama mereka di pohon cinta yang melegenda di Pulau Kemaro. Tempat yang mengabadikan kisah cinta Putri Fatimah dan Pangeran Tan Bun An.

Pulau di timur Kota Palembang itu pulalah yang menjadi saksi kisah Ratna dan Lee, belasan tahun silam. Dulu maupun sekarang, binar itu masih sama. Namun, sebuah cemas bersarang dan Ratna tak kuasa mengusirnya.

Mungkin saja semua masih bisa sama saat hanya jarak yang memisahkan mereka. Hanya saja, sejauh mana kau bisa bertahan dalam sebuah rahasia dari orang yang kau cinta?

Ratna dan Lee. Bagaimana jika kisah mereka seperti legenda Putri Melayu dan Pangeran Negeri Tionghoa di Pulau Kemaro? Bahwa cinta sejati tak selamanya berakhir bahagia....

*** 

Tiap kali mendengar kata Palembang, apa yang terlintas di kepalamu? Mungkin ada yang menjawab Jembatan Ampera, sebagai ikon lansekap paling tenar di ibukota Sumatera Selatan itu. Atau Pempek yang terkenal maknyus. Atau malah tentang fenomena gerhana matahari total yang nanti terjadi tanggal 9 Maret.
Namun, pernahkah kau mendengar tentang Legenda Pulau Kemaro di Palembang? Kemudian, bagaimana dekatnya hubungan masyarakat lokal dengan masyarakat Tionghoa di sana? Lalu, bagaimana pula dengan kekayaan kuliner Palembang lainnya, selain Pempek?
Belum kan? Kalau aku sih, belum.
Beruntungnya, Gagas Media mengeluarkan seri Indonesiana yang mengangkat beberapa budaya lokal dalam bingkai cerita pop roman.
Nah, Guntur Alam memotret sisi lain Palembang, yang mungkin belum banyak digali penulis lain, melalui novel terbarunya: Satu Kisah yang Tak Terucap.

Roman di novel ini menceritakan tentang naik turunnya suasana hati serta lika-liku perjalanan Ratna dan Lee yang dijodohkan keluarga mereka karena tak kunjung menikah. Ternyata urusan belum menikah di usia yang makin matang jadi polemik tak berkesudahan dan bisa membuat salah paham (Guntur bukan berusaha curhat ya,... atau mungkin memang begitu? #eaaa). Ratna dan Lee teman masa kecil, bukti bahwa friendzone itu bukan sekadar mitos belaka. Namun, layaknya remaja yang malu-malu kucing, mereka menutup rapat rasa sukanya atas nama persahabatan.

Namun, sesungguhnya ganjalan terbesar adalah rahasia kelam yang masing-masing disimpan oleh Ratna dan Lee. Guntur menggiring pembaca pelan-pelan menguak apa rahasia Ratna, yang menurutku dituturkan dalam porsi yang cukup, serta dikiaskan dengan baik. Sementara itu, pengalaman buruk Lee dalam percintaan, juga menjadi borok yang memakannya hidup-hidup. Rahasia-rahasia inilah yang membuat Ratna dan Lee yang sebenarnya sudah sama-sama cinta, merantai hati mereka di masa lalu. Cerita makin diperumit dengan datangnya teman masa kecil Ratna yang ikut menyampaikan rasa cinta, desakan keluarga yang terus datang bertubi-tubi, bahkan dari ibu Ratna sendiri sampai keduanya terlibat pertengkaran hebat.

Guntur yang biasanya bertutur ala sastra koran, dengan genre gothic, menurutku mampu menyajikan kisah dengan bahasa pop roman yang lebih ringan dibaca. Adegan demi adegan ditata sedemikian rupa demi tujuan bercerita, sekaligus tidak menumpahkan semua bagiannya agar pembaca terus menebak-nebak arahnya. Yang menarik, Guntur sengaja tidak memotret perbedaan agama dalam percintaan Ratna dan Lee. Tindakan cukup bijak, mengingat fokus utama ceritanya adalah budaya Indonesia, bukan novel kritis yang mengangkat friksi agama. Selain itu, penempatan porsi lokalitasnya pas. Legenda Pulau Kemaro disandingkan dengan cerita Ratna dan Lee, berkelindan menjadi bagian tak terpisahkan. Ini membuat budaya Palembang yang diangkat, tidak sekadar tempelan belaka agar terkesan lokal.

Nah, aku yakin setiap orang memiliki rahasia paling kelam, disimpan serapat-rapatnya di dalam hati. Termasuk kamu yang sedang baca postingan ini. Kalau rahasiamu itu menahan langkahmu untuk lebih bahagia, kamu wajib baca buku ini. Kamu akan menemukan potongan dirimu sendiri, berkaca, lalu kauputuskan sendiri:
Apa kau biarkan satu kisah yang tak terucap itu, mengendalikan hidupmu?

Giveaway:
Ada satu novel Satu Kisah yang Tak Terucap karya Guntur Alam, geratiiiissss buatmu. Caranya gampang. Yuk ditengok:
1. Jawab pertanyaan ini: Bagaimana caramu bisa terbebas dari rahasia kelam masa lalu?
2. Tulis jawabanmu di kolom komentar di bawah ini. Sertakan nama serta akun media sosialmu, seperti twitter, facebook, dan sebagainya.
3. Kamu juga wajib share postingan ini di media sosialmu, terutama facebook dan twittermu (pastikan akunmu tidak dikunci agar bisa terkonfirmasi). Jangan lupa mention atau tag Guntur Alam (@AlamGuntur) dan Penerbit Gagas Media (@GagasMedia) ya?
4. Jawaban ditunggu sampai Selasa, 1 Maret 2016 pukul 23.59 ya.
5. Selamat mencoba!

Senin, Desember 14, 2015

[Perfect Pain] Di Balik Luka yang Sempurna



Jika ada yang bertanya, mana yang lebih sulit, menulis After Rain atau merampungkan Perfect Pain, maka aku akan menjawab...,
Perfect Pain jauh, teramat sangat lebih menantang.



Aku menulis kisah Seren dalam After Rain dengan perasaan ringan dan riang. Tak ada ekspektasi. Tidak membawa beban pesan atau perasaan tertentu (walaupun banyak yang menganggap Seren itu sebenarnya aku sendiri, padahal BUKAN).

Sesungguhnya, aku memiliki ketertarikan khusus tentang isu-isu perempuan, mulai dari kesetaraan gender, kesamaan hak dasar perempuan, hingga kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Dalam perjalanannya, aku mendapati banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga terjadi di kehidupan sehari-hari, baik dari berita di televisi, artikel di koran dan majalah, bahkan curhatan beberapa kenalan. Cerita-cerita itu berkelindan, menjalin sebuah perasaan kuat.
Aku merasa, ini harus dituliskan.
Harus!
Saking kuatnya perasaan itu, aku seperti membayangkan diriku tengah “dihampiri” sesosok perempuan kurus semampai, dengan gaun putih yang ujungnya selalu meliuk dipermainkan angin. Dia mengenalkan dirinya bernama Bi dan memintaku menuliskan kisahnya. Kisah tentang lukanya yang sempurna; luka karena mencintai.
Absurd sih, dan agak horor, tapi kuanggap saja itu bagian dari proses kreatif.

Akhirnya aku mulai menyusun premisnya. Dari premis itu, kukembangkan menjadi sinopsis, lalu terus kupaparkan detailnya dalam bentuk outline.

Seperti yang tadi kusampaikan, ada tantangan lebih besar saat menuliskan Perfect Pain. Tantangan pertama adalah ketakutanku sendiri tentang naskah ini. Bayang-bayang kesuksesan After Rain begitu kuat, sehingga ekspektasi pembaca terhadap novel keduaku ini begitu tinggi. Mereka tentu ingin cerita yang lebih menarik, yang ditulis dengan teknik penceritaan yang lebih baik, serta karakter yang lebih memikat.
Tantangan kedua adalah emosi cerita yang terlalu kuat. Tidak bisa dipungkiri, beberapa adegan dalam novel Perfect Pain begitu intens. Saking pekatnya, sampai menyeretku menjadi pribadi yang emosional juga. Aku jadi gampang sedih, mudah menangis, sedikit lebih temperamental; sampai-sampai aku harus berhenti menulis dan menjaga jarak dengan cerita yang kutulis ini.

Di satu titik, aku merombak total alur Perfect Pain. Saat itu draf ini sudah selesai sampai sekitar bab ke sepuluh.  Aku mengubahnya dengan plot yang sama sekali baru, tokoh-tokoh yang berbeda, walaupun fokusnya tetap mengenai kekerasan terhadap perempuan. Beruntung, aku memiliki editor yang paham kegundahanku, Jia Effendie. Bukannya mendesak atau menasehati ini itu, dia membiarkanku bermain-main plot baru itu. Namun, dalam perjalanannya, aku hanya sanggup menuliskannya sampai bab empat atau lima, lalu mandek begitu saja. Mau kuutak-atik, tetap saja cerita baru itu jalan di tempat. Pasrah! Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke plot awal dan melanjutkannya sampai selesai.

Yang membantuku melewati proses “menyakitkan” menulis Perfect Pain adalah dukungan tim first readers-ku, teman-teman sesama penulis lainnya, serta editor-editor Gagas Media. Mereka tak henti memberikan suntikan energi positif. Aku sadar, tak peduli sekelam apapun cerita Bi ini, dia harus sampai di garis finish. Memang benar, setelah membulatkan tekad, segalanya seperti dipermudah. Aku pun tiba di kata TAMAT.

Aku selalu ingat sebuah pertanyaan yang dilontarkan seorang penulis senior padaku: Kenapa kau menulis sebuah cerita?
Buatku, menulis Perfect Pain, sesuai dengan namanya adalah sebuah luka yang sempurna. Namun, aku menikmati prosesnya. Aku tumbuh beserta cerita ini; karena pada akhirnya aku berhasil menaklukkan diriku sendiri, mengalahkan ketakutanku, serta menjadi lebih kuat. Kurasa, pada titik-titik tertentu kehidupan kita, sesungguhnya ada Bi dalam diri kita.

Aku tidak berani menggantungkan impian terlalu muluk tentang Perfect Pain ini. Biarkan kalian yang membacanya menilai sendiri.
Selamat membaca.
Selamat mengenang lukamu sendiri; luka yang sempurna karena mencintai.

Salam,
Anggun Prameswari

PS: Jangan lupa mampir ke blog-blog di bawah ini ya. Ada lebih banyak cerita menarik mengenai Perfect Pain, plus ada giveway-nya juga. Penasaran, kan? Yuk, ramaikan.

Aku punya satu novel Perfect Pain bertandatangan, GRATISSS, spesial buatmu. Jawab pertaanyaan berikut di kolom komentar:
Kalau kamu bisa mengucapkan sesuatu untuk orang yang kau cintai, sekaligus menyakitimu, apa yang ingin kau katakan?
Sampaikan jawabanmu di kolom komentar di bawah ini, disertai dengan nama lengkap dan alamat email (wajib) dan akun media sosial yang kamu miliki (bisa FB/twitter).

Ayo, mari merayakan luka yang paling sempurna!

Sabtu, September 05, 2015

[Cerpen] - Haruan Baubar Uma


Dimuat di majalah Good Housekeeping edisi Agustus 2015 


 Jarang-jarang Ratih nampak gundah. Dua tahun lewat pernikahannya, tak sekalipun Akhmad, suaminya gagal melengkungkan senyum di wajah bulat telurnya. Namun, selalu ada satu hari dalam setahun, hatinya mengembang risau. Begitu pandai awalnya dia menyembunyikan cemarut itu dari raut wajah, sampai-sampai Akhmad tak menangkap gelagat apa-apa. Hari semakin dekat dengan masa yang ia cemaskan. Hari meninggalnya sang ibu mertua, karena di hari itulah, Akhmad mendadak manja tak keruan. Selalu minta dimasakkan Haruan Baubar1. Tak mau makan jika bukan itu menunya.
Ketika tiga tahun lalu, kali pertama Akhmad minta dimasakkan Haruan Baubar, Ratih mengernyitkan dahi. Kenapa bukan Soto Banjar yang jelas-jelas lebih terkenal sebagai makanan khas daerah suaminya? Sebagai perempuan Jawa, tentu Ratih tidak fasih dengan menu-menu itu. Dia masih ingat, tiga bulan pertama pernikahannya, Ratih memasakkan Soto Banjar nyaris tiap dua kali seminggu. Akhmad tertawa saat tahu alasannya, semata ingin menyenangkan hati suami di masa bulan madu. Lelaki jangkung kurus itu membelai rambut Ratih dan berbisik, masaklah apa saja, karena masakan penuh cinta selalu memuaskan selera. Mendengar itu, berjam-jam tak pudar pipi bulat Ratih memerah persis tomat buah, tersipu karenanya.
Kembali ke Haruan Baubar tadi, Akhmad tadinya enggan menjelaskan. Matanya dilemparkan ke sudut bertentangan dari tatap teduh Ratih. Namun, Ratih perempuan liat, giat mencari jawaban menuntaskan penasarannya. Akhmad akhirnya bercerita dan hati Ratih langsung tergerus saat menyimaknya.
Uma2, begitu Akhmad memanggil ibunya, dulu susah sekali hamil. Maka saat Akhmad lahir, sukacita itu tumpah ruah di dada uma dan memanjakan Akhmad tak kira-kira. Akhmad kecil susah makan, sama susahnya dengan rupiah yang tersemat di dompet uma. Sebagai buruh cuci, tak seberapalah uang yang bisa mereka genggam setiap bulan. Bapaknya sopir ekspedisi, lebih sering singgah lalu berangkat tugas kembali, sampai-sampai ingatan Akhmad tentang bapak melamur.
Mata Akhmad menerawang saat ceritanya henti sejenak. Ratih mengusap punggung suaminya. Akhmad pun melanjutkan, sembari menyemburkan bulat asap rokoknya ke sisi berlawanan wajah istrinya. Suatu hari, seperti biasa Akhmad kecil bertingkah tak mau makan. Tentu uma bingung tak kepalang, berusaha membujuk agar anak tunggalnya mau makan barang sesuap saja. Tak lama tercium aroma gurih iwak baubar3 dari jendela tetangga.
“Biar kutebak, kau minta ibumu memasak iwak baubar?” tanya Ratih dengan bola mata membulat.
“Aku bilanglah pada uma, masakkan Haruan Baubar, ulun4 janji akan habiskan dua piring lah.”
“Ah, ibumu pasti bersemangat.”
“Padahal waktu itu badan uma meriang karena sehari sebelumnya kelelahan membantu di pernikahan saudara.”
“Tapi ibumu tetap berangkat ke pasar?”
“Iya. Padahal hari hujan. Petir menyambar rasanya nyaris membakar ubun-ubun. Tapi tetaplah uma berangkat.”
“Lalu?”
“Aku yakin di kepala uma sudah merancang akan juga memasak Terong Baparung5 dan sambal acan6. Sepertinya aku di rumah juga membayangkan hal yang sama. Manalah aku tahu kalau ternyata uma tak pulang-pulang lagi.”
Ratih menghela napas. Ia tahu cerita selanjutnya. Tentang mertua perempuan yang tak pernah ia temui karena kecelakaan. Pick-up sayur penuh muatan tergelincir di jalan kampung yang licin, memelantingkan tubuh ibu Akhmad. Napasnya terpenggal tepat saat raganya mendarat di tanah becek. Ikan yang dibelinya ikut tergeletak di sana-sini, tak menemukan jalan tiba di piring Akhmad untuk disantap.
“Kalau aku tidak memaksa uma memasak Haruan Baubar, mungkinkah...,” Akhmad mematikan bara di batang rokok. “Sejak itu, di hari kematian uma, aku selalu mengingat cintanya dengan memakan Haruan Baubar.”
Mana bisa Ratih menolak memasakkannya menu itu, melihat duka yang melayang-layang di mata suaminya. Lagipula, apa susahnya sekadar memasak ikan bakar. Jika menu serumit Soto Banjar saja ia menuai pujian, tentu Haruan Baubar bukanlah masalah besar.
***
Ratih salah. Ada hal-hal yang luput dari perhitungannya. Memang mudah sekadar memanggang ikan dan menghidangkannya di atas meja. Yang sukar justru memuaskan dahaga Akhmad akan kenangan ibunya.
Tahun pertama Ratih memasakkan Haruan Baubar, kalau tidak salah di bulan kelima pernikahan mereka, Akhmad nyaris dibuatnya muntah. Haruan yang cokelat kehitaman itu hanya disentuh suaminya secuil saja.
“Tidak enaklah,” begitu ujarnya.
Ratih mengernyitkan dahi, mengingat-ingat di bagian manakah ia salah meracik bumbunya. Bawang putih, asam, dan garam, cuma itu yang ia perlukan sebelum memanggang iwak tersebut. Ketika Ratih mencicipinya, dengan nasi mengepul hangat dan secolek sambal, rasanya tak ada yang aneh, walau tak bisa dibilang wah juga.
Seharian itu Akhmad tak mau menyuapkan apapun ke mulutnya. Hanya rokok dan air putih yang sudi ia kecap. Lelaki itu duduk di depan rumah. Matanya menatap ke langit, mungkin sedang meminta izin pada Tuhan, untuk diredakan gulana di dadanya. Atau sekadar menikmati rindu yang menggulung-gulung siap pecah di ujung mata. Namun, Akhmad pantang menangis. Baginya menangis pekerjaan perempuan. Lelaki cukup diam dan meredam kecamuknya bersama puntung-puntung tembakau yang bergelimpangan.
Tahun kedua, sesuai permintaan Akhmad, Ratih memasakkan Haruan Baubar lagi. Kali ini ia tak hendak main-main. Ia memilih iwak terbaik. Walau bumbu rendamnya sama, kali ini Ratih juga menyertakan cacapan asam7 sebagai pendamping menyantap Haruan Baubar.
Akhmad masih menggeleng, walau tak sampai mual seperti tahun lalu. Ratih tak sabar lalu bertanya tentang rasanya.
“Ada yang kurang,” jawab Akhmad.
“Apanya?”
“Entahlah. Tidak bisa kujelaskan.”
“Terlalu asin? Pahit karena terlalu gosong?” Ratih makin tak sabar. “Bilang padaku.”
“Sudahlah. Kenyang.”
Hanya dua suap yang bisa lelaki itu habiskan. Lagi-lagi ia menyendiri di beranda rumah. Merokok dan minum air putih, sampai larut sekali. Selepas tengah malam, barulah ia masuk ke rumah dan memeluk Ratih dari belakang. Pulas sekali tidurnya sampai-sampai subuh tiba, membuat Ratih terkunci di rengkuhannya. Seberapa dalam suaminya tenggelam dalam duka kehilangan ibunya, batin Ratih mengusap dahi Akhmad lalu mengecupnya beberapa kali. Lelaki itu menggeliat, sehingga Ratih bisa beranjak dari tempat tidur, menyambut azan dari arah seberang.
***
Maka tahun ini, Ratih benar-benar enggan. Ia tak mau memasakkan Haruan Baubar lagi. Semalam sebelum hari meninggal mertuanya itu, Ratih duduk tegak di depan suaminya. Nadanya dipertegas, seakan Akhmad harus tahu bahwa ia tak main-main.
“Kenapakah begitu?” tanya Akhmad dengan nada tak kalah tegas. Sejenak Ratih gentar. Namun, tangannya mengepal lebih kuat mempertegas niatnya.
“Aku memasakkanmu Haruan Baubar dua kali, dan dua-duanya tak kau makan. Mubazir. Setiap tahun, aku harus memberikannya ke tetangga kanan-kiri karena kau tak sudi menghabiskannya.”
“Rasanya kurang. Tidak seperti masakan uma.”
Ratih terdiam.
“Kalau uma yang masak, entah kenapa, rasanya nikmat sekali.”
“Tapi aku bukan ibumu. Aku istrimu. Tentu saja berbeda.” Ratih bangkit dari duduknya. Siapa yang tidak kesal diperbandingkan. Apa Akhmad tidak tahu, wanita itu pada dasarnya pencemburu. “Aku sudah berusaha memasak sebaik mungkin, seenak mungkin. Tapi kurasa juru masak selihai apapun takkan memuaskanmu, karena sebenarnya bukan perutmu yang lapar, tapi hatimu. Lapar akan rasa bersalahmu sendiri.”
Akhmad menatap lekat istrinya. Tak sekalipun Ratih pernah berkata keras sepanjang usia pernikahan mereka. 
“Ratih, semalam aku bermimpi. Uma datang membawa sepiring iwak baubar. Haruan Baubar, komplit dengan nasi, cacapan asam, terong baparung, dan sambal. Yang aneh, uma tidak mau menyuapiku seperti ketika aku kecil dulu. Uma cuma berdiri, tersenyum, lalu membalikkan badan membawa piringnya pergi,” Akhmad menatap kosong ke arah langit-langit. “Menurutmu, pertanda apakah itu?”
“Aku tidak tahu,” jawab Ratih setelah berpikir sejenak.
“Apa menurutmu uma masih marah padaku?”
“Kenapa kau selalu berpikir begitu? Sungguh, aku tidak tahu jawabannya. Yang pasti, aku tidak akan memasakkanmu Haruan baubar.”
Ia pun ikut bangkit. “Baiklah. Biar besok aku saja yang masak Haruan Baubar itu.”
Ratih tercenung mendengarnya. Dengan cepat, Akhmad berbalik badan meninggalkan rumah. Ratih belum sanggup menyurutkan kesal di dada, setengah melampiaskannya pada punggung Akhmad yang menjauh, “jangan lupa sekalian panggang juga hatimu yang penuh rasa bersalah itu.”
Tak ada yang tahu, bagaimana raut wajah suaminya selepas Ratih mengucapkan kalimat itu.
***
Kini ganti Ratih yang duduk gelisah di beranda rumah. Beberapa kali ia memanjangkan leher menatap ke ujung jalan, kalau-kalau sosok jangkung suaminya tertangkap mata. Akhmad pasti akan kerepotan membawa belanjaan di satu tangan dengan payung di tangan lainnya.
Sudah beberapa jam hujan tak putus-putus mencurah dari langit yang gelapnya bukan kepalang. Guntur dan kilat saling berkejaran, seakan berlomba mana yang lebih ampuh menciutkan hati manusia untuk keluar dari rumah.
Sejak pagi, Akhmad belum kembali. Ia pergi ke pasar selepas azan subuh. Sekarang lewat beberapa jam, Ratih masih sendiri di rumah. Sedari tadi ia menyesal, kenapa ia membiarkan suaminya pergi sendiri. Apakah Akhmad kehujanan? Ataukah tengah berteduh di pinggir jalan menanti langit kembali cerah, sebelum melanjutkan langkah menuju rumah? Atau jangan-jangan, persis seperti mertuanya bertahun-tahun silam, ada truk muatan sayur yang menghantam telak suaminya? Jantung Ratih nyaris ikut berhenti berdegup membayangkannya.
Tak seharusnya ia cemburu pada ibu mertuanya. Ia tak mengalami duka itu sebagaimana Akhmad menjalaninya. Di usia semuda itu, belum genap sepuluh tahun, Akhmad menyuburkan rasa bersalah di dada, merasa bahwa kepergian ibunya adalah murni salahnya.
Ratih mempererat genggaman di sisi tubuhnya. Tapi siapa juga yang rela diperbandingkan dengan mertua sendiri? Memang tidak ada yang mengalahkan cinta ibu dan anak. Namun, cinta suami dan istri tentulah beda bentuknya. Memintanya memasakkan haruan baubar persis sebagaimana cara ibunya dulu, rasanya Ratih sedang dituntut menjadi sosok yang bukan dirinya sendiri. Menjelma jadi ibu untuk lelakinya. Cemburu merambat naik melewati tengkuk Ratih, membuat kepalanya berdenyut-denyut.
Hujan menderas, tak menyisakan celah di antara rintiknya. Ratih membulatkan tekad. Ia harus menyusul Akhmad. Tak hendak ia dikubur rasa bersalah, persis yang membenamkan hati suaminya bertahun-tahun.
Ratih mengembangkan payung paling kuat dan lebar yang mereka punya, lalu membawa satu lagi, kalau-kalau Akhmad masih marah padanya dan tak mau berbagi payung. Setiap kakinya melangkah, ia mengucap doa, semoga Akhmad tengah berteduh tak kurang suatu apapun. Duh Gusti, Ratih tak sanggup membayangkan gambaran jahat yang tanpa permisi melintas. Akhmad tersungkur di tanah becek, dengan iwak haruan mengelilinginya. Persis ibunya dulu.
Rinai air mulai menipis saat Ratih meninggalkan jalan setapak kampung menuju jalan besar. Tak lama, ia nyaris terlonjak kegirangan saat melihat sosok jangkung berdiri merapatkan tubuh di sebuah pos jaga ronda yang atapnya mulai lapuk. Ratih berlari cepat menghampiri suaminya, yang menyambutnya dengan binar yang tak kalah gemilangnya.
“Kau kebasahan?” tanya Ratih.
Akhmad menggeleng. Bibirnya biru. Biru yang hampir sama bila Ratih hendak mengingat bayangan suaminya yang tumbang dihantam truk sayur.
“Ayo pulang. Cepat-cepatlah kita masak iwak itu.”
Ulun tidak beli iwak haruan,” ujar Akhmad tersenyum. “Sepanjang jalan, aku berpikir apa maksud mimpi uma. Mungkin uma menyuruhku berhenti makan iwak baubar dengan perasaan sedih seperti itu.”
“Lalu, hari ini mau masak apa?”
“Aku mendadak ingin menyantap soto banjar bikinanmu lah,” ujar Akhmad, “kurasa cuaca seperti ini memang lebih cocok menyantap makanan berkuah yang hangat.”
Ratih terperanjat lalu cepat-cepat melihat ke arah kantung di tangan suaminya. Segala bahan untuk memasak Soto Banjar ada di tentengan suaminya.
 “Tapi...,”
“Aku pernah bilangkah, Ratih,” ujar Akhmad setengah berbisik tepat di telinga istrinya, “soto banjar bikinanmu lebih enak dari yang dimasak uma?”
Begitulah Akhmad yang tak pernah gagal melengkungkan senyum di wajah bulat telur Ratih. Selepas itu, selama beberapa jam, sipu merah yang membulat di pipi wanita itu tak kunjung memudar.
***
Notes:
1 Haruan Baubar: ikan bakar, sejenis ikan gabus, khas Banjar yang dibakar (di-ubar) di atas bara api yang berasal dari tempurung kelapa.
2 uma : sebutan ibu untuk orang banjar hulu
3 iwak baubar : ikan bakar
4  ulun : aku, saya
5  Terong baparung: terong yang bakar di atas bara api dengan santan kelapa
6 Sambal Acan :  Sambal terasi
7 Cacapan asam : semacam side dish untuk menikmati iwak baubar

Senin, Agustus 17, 2015

TATO KUCING

dimuat di harian Media Indonesia, Minggu, 16 Agustus 2015



DI pagi yang lembap oleh hujan semalam, seorang lelaki tergantung di sudut pasar. 
 
Kucoba memperhalus bahasanya. Setidaknya agar masih terdengar beradab ketimbang ucapan bibik berkeranjang kosong yang tergopoh panik saat menemukan lelaki itu.
“Ada yang mati gantung diri. Bunuh diri!” 

Sisi barat dan sisi tengah pasar, pusat bongkar muat bahan pangan, sudah ramai sejak pukul tiga pagi. Sedangkan sayap timur, tempat pedagang pakaian, perabotan dapur, dan perhiasan, baru menggeliat selepas pukul enam. Di sana berjajar lapak tak beratap, dan tanpa penghuni. Senyap. Sesekali menjadi tempat tidur oleh para gelandangan, atau lahan jemur pakaian penghuni pasar. Di sudut paling sepi itulah, lelaki itu memilih tempat meregang nyawa.

Saat orang-orang sudah berkerumun di tempat kejadian, aku baru saja masuk pasar. Belakangan istriku gampang sekali tak enak badan. Jadi, akulah yang berbelanja ke pasar. Istriku hamil muda. Mual parah di bulan ketiga. Ia harus banyak istirahat. Bila terlalu lelah, janinnya bisa lepas dari rahim, seperti anak-anak kami sebelumnya.

“Bikinkan aku sup ceker ayam lagi,” pintanya beberapa malam terakhir, setengah merajuk dan mengusap perutnya yang belum buncit. “Anakmu cuma mau makan itu.” 
Sejak hamil, ia gemar makan sup ceker. Nyaris tiap hari aku ke pasar membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Penjualnya sampai hafal wajahku. Mungkin ia berpikir lelaki tak pantas belanja ke pasar. Padahal, menurutku memasak satu-dua kali untuk istri setelah setengah umurnya habis di dapur karena memasak untukku, tidaklah salah. Toh, yang dikandungnya anakku juga. Anak yang kami idamkan sejak lama. Yang untuk mendapatkannya, tak terhitung dokter dan ahli pengobatan alternatif, yang telah kami kunjungi.

Kulihat lelaki itu bertelanjang dada, membelakangiku. Ia seakan bersandar ke dinding kios yang tak beratap. Rangka bangunannya tak menyunggi genting sama sekali, mirip panggung teater dengan sinar matahari sebagai lampu sorotnya. Kematian tak pernah gagal menjadi atraksi bagi yang hidup. Ngeri bercampur penasaran membuat kerumunan makin padat. Kulihat kulitnya putih pucat. Tubuhnya sudah kaku. Celana cokelatnya tergulung setengah betis, menegaskan kaki yang melayang dari tanah. Matanya terpejam. Kepala plontosnya mengingatkanku pada pentol korek api. Sekilas ia mirip manekin yang tergantung di dinding. Tapi, manekin tentu tak punya kerut keriput dan bulu kaki. Lehernya terjerat tali cokelat, dan warnanya senada dengan celananya.

Erangan terkejut dan terhenyak berlesatan dari mereka yang masih punya nyali untuk melihat.

Apa yang terlintas di kepala yang hidup saat mendapati yang mati di hadapannya? Tak bisa kubayangkan diriku mati. Bagaimana istriku nanti? Ia tak bisa bekerja karena tubuhnya terus melemah, sementara kami butuh banyak biaya.
Kontrol ke bidan. 
Biaya persalinan. 
Beli popok, susu formula, ini dan itu. 
Untuk bisa hamil saja, aku berutang ke sana-sini. 
Orangtua. 
Mertua.
Kakak ipar. 
Sampai ke tukang kredit pasar, yang bunganya makin lama mencekik. 
Ini demi seorang anak. Simbol harapan masa depan bagi kami. Dan, laki-laki ini memilih menyerahkan hidupnya pada seutas tali?
Pandanganku terganggu oleh ulah orang yang mengambil beberapa foto dengan ponsel. Heran, apa menariknya memotret rupa orang mati? Seperti potret korban insiden maut yang berseliweran di televisi pada jam-jam makan siang atau makan malam. Perasaan macam apa yang sedang mereka gugah?

Bulan lalu aku melayat tetanggaku yang meninggal terkena serangan jantung. Jenazahnya disemayamkan dalam peti putih mengkilat berhias lukisan perjamuan terakhir. Ia terlihat tampan dengan setelan jas. Kami dipisahkan oleh sehelai kain tile berajut tanda salib saat aku mengucapkan doa perpisahan. Namun, tetangga lain yang ikut melayat malah sibuk memotret jasad kaku almarhum. Pasti beberapa saat lagi, foto itu beredar di media sosial, lengkap dengan salam perpisahan dan doa penghiburan. Setengah menyeret, kusuruh ia memotret foto almarhum di meja persemayaman, bersanding dengan sepasang lilin putih dan kembang sedap malam.

“Coba kau mati, lalu ada yang memotret jenazahmu dan menyebarkannya di media sosial. Kita lihat apa kau tetap bisa meninggal dengan tenang dan keluargamu masih bisa berduka dengan perasaan terhormat,” ujarku.

Kerumunan orang mulai bercakap-cakap. Membuat hipotesa sendiri-sendiri. Menakjubkan. Betapa orang mudah sok tahu tentang banyak hal yang tak diketahuinya.

“Kasihan, ya, anak-anaknya.” 
“Memangnya punya anak?” 
“Ah, di tangannya ada tato.” 
“Bunuh diri dosa yang tak terampuni!” 
“Itu kalau bunuh diri. Kalau dibunuh?” 
“Panggil polisi!” 
“Turunkan mayatnya.” 
“Nanti merusak TKP.” 
“Jadi bunuh diri atau dibunuh?” 
“Kalau benar gantung diri, pasti ada feses dan sperma keluar sebab talinya menjerat bagian otak yang mengatur saraf gerak. Begitulah yang kubaca di majalah.” 
“Duh Gusti, semoga tak jadi arwah penasaran.” 
“Tatonya gambar kucing hitam, ya?” 

Sontak aku menatap arah yang sama. Tanpa sadar, kuraba pergelangan tanganku sendiri, persis tempat tato lelaki itu berada. Di antara jutaan gambar di dunia, kenapa kucing hitam? Kenapa bukan naga atau perempuan seksi seperti beberapa preman yang pernah kulihat di pasar? 

Dua minggu lalu, istriku melihatnya. Seekor kucing hitam melintas di depan rumah, tiga hari berturut-turut. Ia tak henti-henti memikirkannya. Takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Kucing hitam dianggap simbol kematian. Banyak mitos dan takhayul tentang itu. Sebut saja kucing hitam dan penyihir sesat. Lalu, ada mitos menabrak kucing sampai mati akan membawa sial bagi pengendara manapun. Selain nyawanya sembilan, kucing juga dipercaya menjaga makam Firaun. Sebagai wakil Dewa Osiris, kucing pun perantara di dunia kematian untuk menghukum para pendosa.

Pikiran yang kuat akan mudah menggerogoti tubuhnya yang makin lemah. Ia jadi mudah berdarah. Sehari mimisan, beberapa hari kemudian darah pun merembes melewati pahanya. Wajahnya pucat seakan tak tersisa lagi darah di sana. Sepulang dari dokter, ia menangis hebat. Meminta maaf karena ia gagal sekali lagi. Hanya bisa kubelai rambutnya. Kubilang, semua akan baik-baik saja. Tak peduli tabungan habis. Masa bodoh dengan utang yang menjelma menjadi seutas tali yang liat. Kami akan punya anak lagi. Segera! Entah anak laki-laki atau perempuan, kami akan mendidiknya. Membuatnya jadi hebat. Tuhan memilihku menjadi ayah, karena aku bisa diandalkan. Bersamaku anak itu memiliki masa depan. Sesulit apapun, aku takkan menyerah seperti lelaki itu.

Suara-suara berdengung, membubung ke angkasa mirip segerombolan lebah yang keluar dari sarang. Kata-kata mereka berubah menjadi gumaman yang menderu, lebih seru dari pemandangan lelaki gantung diri. Semuanya berlomba menjadi yang maha tahu. Namun, tak ada yang berani mendekat, apalagi menurunkan jenazahnya. Sampai kapan mayat si bapak dibiarkan di sana? 

“Minggir, minggir, polisi datang!” Kerumunan menyeruak. Beberapa orang berseragam berderap. Angin berembus kencang. Tangan si bapak jadi bergoyang. Tato kucing hitam itu seperti bergerak, bagai hendak melarikan diri.

Polisi akan menurunkan jasadnya. Membawanya pulang pada istri yang cemas di rumah. Lelaki itu pasti tak memikirkan istrinya saat mengalungkan tali seliat itu ke rangka bangunan. Isi kepala manusia serupa palung tergelap. Hanya Tuhan yang tahu jalan menyelaminya. Kematian memang nampak lebih indah dari kehidupan. Terlebih ketika perkawinanmu tak bahagia atau uangmu tak cukup membeli kebahagiaan. Bahkan saat masa depan ditutup paksa oleh takdir, kematian bak jalan pembebasan. Kau mudah lupa seberapa banyak uangmu, seberapa luas masa depanmu (itu juga kalau kau bertahan), atau seberapa cantik istrimu.

“Itu kan pemilik rental PS di utara pasar,” celetuk anak muda, penjual kios buah langgananku. “Dia pernah beli mangga muda di lapakku.” 
“Mungkin bunuh diri karena stres.” 
“Kasihan istrinya. Kudengar kandungan istrinya lemah, makanya beberapa kali keguguran.”
“Bukannya rentalnya juga nyaris bangkrut?” 
“Oh, dia juga sering dicari Bang Samin. Utangnya numpuk!” 
“Utangnya banyak, terus gelap mata. Makanya bunuh diri.” 
“Atau, jangan-jangan bunuh diri karena mandul.” 
“Hus! Nanti hantunya datang mencarimu karena bicara sembarangan.” 
“Ya ampun!” pekik seseorang. “Dia hampir tiap hari beli ceker padaku. Raut mukanya selalu tegang. Setiap ditanya, ia bilang istrinya ngidam sup ceker.”
Aku mengedarkan pandangan sekali lagi. Wajah istriku, tato kucing hitam, dan raut pasi lelaki gantung diri. Silih berganti melintas di kepalaku. Lalu, aku ingat sesuatu.
Kenapa si bibik berkeranjang kosong itu yang menemukan jasadnya? 

Entahlah. Aku mengedikkan bahu, berusaha meredakan nyeri yang meremang di tengkuk, sambil terus melangkah, dan menggenggam pergelangan tanganku yang bertato kucing hitam.