Senin, September 04, 2006

Last night,....

Sekitar periode 2003-2oo4, i'm in the darkest point in my life so far. Gw terjebak di pusingan arus masalah yang mirip lingkaran setan mulai dari keluarga, pacar, kehidupan sosial, dan aktivitas akademik. At that lowest point, gw selalu merasa sendiri dan wondering kenapa gw dikasih problem segini hebatnya.

After seeing people, sekaligus proses gw untuk belajar mikir sdikit lebih bijaksana, ada satu yang gw tau, bahwa semua orang punya masalah. Bahwa gw mestinya engga mikir how unfair God was to me.

Dan satu lagi yang bikin gw takjub. Betapa manusia memiliki sistem yang begitu baik untuk menyembunyikan kesedihan. Di balik senyum yang terkembang lebar, di balik tatap mata berbinar, dikungkung perilaku yang ceria, kesedihan memang pembunuh karakter nomor satu. Betapa manusia memiliki defensing system untuk menipu manusia lain. Hebat!

PS : Thx for Nia, last night we were "cleaning our closet" together,... "stripping" each other,... and sharing tears and tissues,... Semoga ada harga yang layak untuk sbuah curahan hati. Amin.

Rabu, Agustus 02, 2006

Standar yang Mengganggu

Pertanyaan ini muncul begitu saja.
Kenapa untuk pengambilan keputusan atas beberapa hal yang sifatnya mendasar dan bahkan menjadi bagian dari hak asasi seseorang, harus begitu mudah diintervensi oleh orang-orang di sekeliling si empu masalah?

Baru saja aku bicara sama cowok yang begitu gelisah. Dia punya posisi pekerjaan yang bagus tapi belum menikah. Si cowok ini merasa gengsi dengan teman-teman yang notabene adalah bawahannya dan berusia hampir sebaya. Pasalnya para teman ini suka olok-olok kenapa si cowok ini belum nikah juga, padahal materi cukup, pekerjaan sedang menggapai kemapanan, punya pacar yang dia rasa sebagai labuhan hati. Alhasil, si cowok merasa "terhina" dengan olokan ini.

Yang aku engga tega untuk tanya sama cowok ini karena egonya yang terluka oleh "hinaan" teman-temannya :
Kenapa dia harus menyetarakan standar hidupnya dengan orang di sekelilingnya?

Bukan berarti karena mayoritas teman2nya sudah berumahtangga, dia harus ikut memaksakan diri menyamakan posisi. Toh, dia sedang merintis ke arah itu. Tapi aku rasa akselerasi perwujudan rencana once in a lifetime semacam ini tidak semestinya disusupi oleh celetukan-celetukan kecil yang tidak bertanggung jawab seperti ini. Siapa tahu teman-temannya menyentil ego si cowok hanya untuk menutupi ada sejumput ketidakmampuan mereka untuk menyamakan standar "pekerjaan" dengan si cowok. Mereka tak puas dengan ke-subordinate-an itu lalu berusaha untuk mencari sisi lebih mereka dibanding si cowok itu.

Jadi, kenapa selalu sibuk membandingkan standar diri dengan orang lain?




PS : si cowok itu pasti enggak bakal baca posting ini dan aku juga engga bakal melontarkan pertanyaan yang buat dia begitu sensitif. Jadi, ini tinggallah sebuah posting yang siap dikomentari. Ayo para lelaki,... mana suaramu?

Jumat, Juli 28, 2006

Bukan Sekedar Selingkuh

Aku menulis posting ini setelah selesai menonton The Oprah Show edisi "Oprah and 7 Cheating Husbands",... Ini edisi re-run yang aku udah tonton sekitar 2 - 3 kali karena produksinya memang tahun 2005.
Intinya, Tante Oprah "menelanjangi" cara pikir dan pola perilaku para peselingkuh tersebut. Memang Tante Oprah sudah berusaha untuk bersikap seobyektif mungkin dengan tidak menumpahkan segala telunjuk yang dia punya kepada para peselingkuh itu bahwa mereka benar-benar bersalah. Tapi bagaimana pun juga, segmen penikmat acara itu adalah perempuan 20-an ke atas yang mayoritas memang sudah menikah (bisa dilihat dari slot waktu penayangannya yang ideal bagi ibu2 rumah tangga dan perempuan pada umumnya). Sedikit banyak memang menghakimi para pelaku perselingkuhan hati itu.

Ada beberapa hal yang memang bisa disimpulkan. Tapi aku mau bilang belum tentu pola yang sama berlaku juga di kultur kita. Mungkin ada yang sama, mungkin juga tidak. Ini sama sekali bukan penilaian mutlak atas pola perselingkuhan secara global. Ini Cuma dilihat dari sudut pandang 7 lelaki menikah di Negara barat. Bisakah itu mewakili jutaan lelaki di seluruh belahan dunia?

Kata mereka :
1. Perselingkuhan tidak selalu hanya melulu urusan fisik dan bersifat intim. Kadang mereka membutuhkan apa yang bisa memuaskan ego mereka. Si mistress itu berhasil menyanjung mereka, tidak menuntut apa-apa, hanya memberikan kepatuhan total dan rasa petualangan yang kata mereka memang kebutuhan yang absolut bagi para lelaki sejati (??? What a selfish idea, I guess,…)

2. Ada yang memang lemah terhadap perempuan, yang memang tipe laki-laki yang membutuhkan perempuan 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Mereka tipe raja yang memang tingkat dependensinya tinggi terhadap perempuan. Jadi ingat seorang selebriti yang diwawancara oleh infotainment - aku lupa siapa tepatnya. Waktu itu dia ditanya komentarnya ttg berita mantan suaminya yang akan menikah lagi, dia hanya menjawab, kira-kira seperti ini, "Lelaki kan memang cenderung manja dan selalu ingin dilayani, wajar saja kalau dia ingin segera menikah lagi". Kalau memang begini, wahai para perempuan berbanggalah. Perempuan itu ternyata begitu dibutuhkan sampai setinggi itu.

Jadi ingat juga sebuah joke tentang seorang pengusaha kaya raya yang sedang naik mobil mewah bersama istrinya. Ketika mobil mereka sedang diisi bensin, sang istri terkejut melihat si mas-mas yang mengisi tanki bensin mobil suaminya adalah mantan pacarnya. Setelah mengisi bensin dan mobil melaju, sang suami dengan bangganya berkata "Untung kamu bertemu dan menikah denganku. Kalau tidak, kamu akan berakhir menjadi istri seorang penjaga SPBU",... Tapi sang istri cuma tersenyum dan menjawab, "Salah. Kamu yang beruntung karena menikahiku, kalau tidak, kamu hanya akan menjadi petugas SPBU seperti dia."

Beberapa hari belakangan, aku membaca bulletin-board di FS. Temanku yang berinisial F lagi begitu marah terhadap seorang cewek yang begitu gencar ber-flirting ria dengan pacarnya. F yakin sih dengan kesetiaan pacarnya itu. Yang dia engga percaya itu si cewek ini. Apalagi tindak-tanduk si pacar F juga mengamini tindakan si cewek flirting ini sebagai aksi yang tidak lebih seperti fans terhadap idolanya. Si pacar masih memasang foto dia dan cewek flirting itu di hape, bikin si mbak F ini makin panas. Kebetulan mbak F ini juga termasuk cewek yang suka flirting dan punya banyak temen bule (BTW, F's boyfriend is a dutch, but not a flying-dutchmen di serial Spongebob itu lho!) Nah, pacaranya itu gak suka bgt F tebar pesona ke sana-sini, apalagi ke kaum Caucasians itu. Pokoknya bersifat begitu protektif terhadap F ini. Akhirnya terjadi ketimpangan yang begitu mencolok.

Almost the same case happens to me. Suatu hari, pacarku yang doyan fitness itu tiba-tiba didaulat jadi trainer dadakan gara-gara trainer benerannya bermasalah. Ada seorang abg (sumpah ini abg di bawah umur, 14 tahun!) yang latihan di bawah pengawasan pacarku. Dan aku memang engga terkejut kalau akhirnya dia naksir Mas-ku itu. Maklum, abg,... suka engga stabil (sometime, I think the best gift for teen's birthday present is an electric stabilizer, jadi mereka engga labil melulu). Belum lagi ada Om J yang tetanggaan sama Mas-ku dan latihan di gym yg sama suka mengompori Mas-ku untuk "Menyosot",… =)) bahasanya Om-Om,…si abg itu. Sempet sih ada perang sindiran dari aku ke Mas-ku itu. But some how he is able to convince me that there was nothing more than a friendship. Memang susah banget untuk percaya, tapi aku belajar untuk percaya. Kemarin ia mendongengkan suatu kisah nyata tentang perselingkuhan. Tentang suami yang akhirnya selingkuh gara-gara keseringan dituduh istrinya selingkuh. Awalnya sih setia, tapi karena selalu dituduh melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan akhirnya dia selingkuh juga. Mungkin pikirnya daripada cuma kecipratan ludah tuduhan sang istri, sekalian aja nyemplung di kubangan kasih perempuan lain.

Sekarang aku masih belajar untuk percaya sama Mas-ku. Bahwa dia ngga ngapa-ngapain sama abg itu atau perempuan lainnya. Belajar untuk legowo bahwa memang dia ganteng dan dipuja,... Sekarang paling engga aku ngerti kenapa mbak Britney Spears capek-capek bunting anak kedua ketika pernikahannya sudah di ujung tanduk. Mungkin dia udah nyerah sama institusi kepercayaan itu sendiri dan lebih memilih memakai tameng anak agak bahteranya engga goyah. Tapi aku yakin kok bahwa aku sama Mas-ku udah melewati banyak banget cerita yang terlalu mahal dan berharga untuk ditukar dengan satu percintaan kilat bersama perempuan lain. Semoga semoga dan semoga kami cukup kuat melewatinya berdua. Dia kuat menahan godaan dan aku kuat menahan hati untuk tidak meledak. Itu saja.

Weeeiitzz,... aku juga engga boleh banyak kata. Aku memang takut kena tulah dan aku juga memang engga tau apa-apa tentang perselingkuhan atau kehidupan suami-istri. Selain sedang belajar banyak hal yang udah tersebut di atas, aku juga sedang melakukan terapi terhadap diri sendiri. Lewat tulisan, karena itu yang memang aku bisa. Selain posting ini, juga akhirnya ada cerpen "Dilarang Mencintai Pria",... (Pssstt, doain ya cerpen itu bisa menang di lomba menulis yang diadakan satu majalah wanita di Jakarta. Kalau menang kan bisa dimuat, aku dapat uang, majalah itu dapat cerita, dan kalian semua bisa baca,... win-win solution kan? Doain yaaaa,...amin amin amin)

Rabu, Juli 05, 2006

Being in the disconnected mind state

Skarang gw udah libur semester yang panjangnya dua bulan gak pake korting, apalagi bonus. Dan gw sih niatnya berbenah untuk siap2 pindah ke kos baru. Cuma ya namanya niat sekedar di tenggorokan aja, belum sempat terucap, apalagi dikerjakan. Akhirnya gw udah mirip ibu2 rumah tangga yang kerjanya sarapan, nyapu-ngepel, nonton tv, makan siang, setengah bobo siang [karena ketiduran di kursi di depan tivi], mau masak karena pacarku mau datang tapi ga jadi karena dia ada kondangan,...

Ngomong2 cowo gw,... berhubung belakangan gw sibuk sama ujian dan rencana kos, gw sedikit menelantarkan dia. Dan sekarang sih niatnya mau meluangkan sedikit banyak waktu buat dia berhubung udah libur semester. Sayangnya ya ganti dia yang sekarang lagi sibuk.
Dari dulu jadwal kami berdua memang gak nyambung. Tapi moga2 cukup mentok di jadwal aja, gak menular ke aspek yang lain.

Jujur aja gw merasa sendirian sekarang ini.

Nyokap gw lagi ke Surabaya nganterin adek gw yg hari ini lagi ikut SPMB. Bokap lagi ultah kantornya yang ke 60, ada upacara, bla bla bla sampe acara ramah tamah orang2 tua yg garing menurut gw tapi meriah bagi mereka. Cowok gw udah niat mau datang ke rumah utk ngambil name tag yg biasa dia pake kerja yang ketinggalan di meja ruang tengah. Janji udah dari selasa, tapi gak tau bisanya kapan. Temen2 SMA gw udah pada gak tau kemana. Mereka rata2 kuliah di luar kota. Apalagi sekarang temen2 gw yg ambil d3 lg sibuk mau sidang. Mau jalan ama temen2 kuliah, jauuuuh ke mana2 secara rmh gw di tangerang dan rata2 rmh mereka di ibukota tercinta. Gw males berurusan dengan jejalanan padat Jakarta. Mau nonton film yang kucomot dari rental, ternyata playernya udah kukut, dibalikin ke kardus sama babe. Namanya juga mau pindahan.

Dan menulis ini,... gw merasa semakin gak nyambung dengan diri gw sendiri. Kabel2 sosialita makin lepas, dan gw semakin terjangkiti autis ego yang akut sekaligus tekanan untuk bersoalisasi yang begitu kuat. Baru tiga hari sih,... teknologi macam telepon, ponsel, dan internet memang membantu. Tapi kadang teknologi gak bisa menggantikan mahalnya human touch. Persinggungan kulit, pertukaran nafas, persitatapan mata,... itu kebutuhan yang bahkan produk komputerisasi robot hologram sekalipun gw rasa susah menandingi.

:)) pembahasannya jadi makin gak nyambung begini,... intinya gw kangen ketemu manusia. Jujur aja, dalam tiga hari terakhir ini dari total 24 jam sehari,... gw ketemu dengan sesama manusia cuma kurang dari 2 jam. Efeknya,... ya seperti judul di atas itu. Gw makin gak nyambung,... dan mungkin,... gak menutup kemungkinan bisa jadi gila.

Senin, Juni 26, 2006

Pertemanan yg Aneh

Gw bikin posting ini gara2 obrolan gw sama Jeng Ayu yang kelewat lama di telepon tentang pertemanan yang aneh.

Gw sama Ayu itu punya sifat yang bener2 berbeda banget. Katakan Ayu itu seorang gadis muda yang cantik manis, suka banget bercanda dan nyela2 orang tapi ajaibnya yang dicela gak pernah marah, gak bisa marah, baek hati.
Katakan gw adalah seorang gadis muda yang [ngakunya] cantik [lebih] manis, suka [gak banget2] bercanda dan [cinta abis] nyela2 orang tapi ajaibnya yang dicela banyak ngambeknya daripada instropeksinya, gampang marah [tp gw lebih menyebutnya sebagai pribadi yang ekspresif], dan tentunya baik hati juga.

Tapi kami berteman baik. Gw akuin memang gw orangnya sarkas dan sinis. Sekitar 50 % mirip sama Squidward yg di Spongebeob itu. Tapi bagusnya orang sarkas dan sinis itu >>> mereka adalah pribadi yang jujur dan apa adanya. Mereka gak akan buang2 waktu untuk merangkai kalimat semi bohong untuk menyenangkan orang lain. Mereka juga memberikan sudut pandang yang pahit agar yang sedang dikritisi itu bisa lebih melek pada kenyataan. Gw seperti itu, sekitar berapa persennya lah. Dan gw akuin, ga banyak yg bisa terima sikap itu,...

Ayu yang salah satunya orang yg begitu baik menerima gw apa adanya. Makanya gw suka hang out sm dia. Beberapa orang iseng aja gt manggil kita pasangan lesbi. Biarlah, toh gw ama Ayu sama2 straight kok.

Di pembicaraan kemarin itu, gw dan Ayu ngebahas betapa ajaibnya pertemanan kita berdua. Dan jujur aja, di kampus gw, ada teman seangkatan gw yg pertemanannya setipe kayak gw sama Ayu. Yang satu anaknya ceria ramah bercanda, yang satunya lebih dingin dan sarkas. Dan mereka memang akrab banget. Dunno why?

Mungkin memang lebih baik punya pasangan, apapun itu : suami-istri, teman, sahabat, guru-murid, sopir-kenek, pembantu-majikan, teman tidur, selingkuhan,... Jikalau memang saling mengisi. Mungkin pertemanan gak akan berhasil kalo sama2 sarkasnya ato sama2 cekakakan. Kalau saling mengisi, akan menjadi penyeimbang, seperti yin dan yang, seperti lobang kunci dan anak kuncinya.

That's what i feel now. Dan gw gak mau repot2 bagi2 tips tentang pertemanan, karena proses itu tak punya rumus baku.

Minggu, Juni 11, 2006

Review di Minggu Pagi

Where am I? Gw lagi di my-non-cubed bedroom yang baru tadi sempet gw benahi dari seminggu lalu yang udah mirip kapal pecah. Kenapa berantakan? Kalau mau jahat, ya salahkan para dosen. Banyak tugas, aneka ragam bentuknya. Ada dosen yang suka karangan ditulis tangan di atas kertas file. Ada juga dosen yang mengharuskan karangan dibuat dalam format ketikan yang rapi karena menurut mereka kalau diketik berarti karangan itu memang dibuat di rumah, atau setidaknya bukan karya instan yang dibuat 10 menit sebelum dosen datang. Harus juga gw mencetak banyak gambar hasil searching di internet untuk disusun dlm bentuk scrap book untuk tugas Australian Culture and Society yang niatnya akan dipajang pas ada orang Aussie singgah ke kampus untuk share tanggal 13 besok jam 3. Belum lagi banyak summary dari karangan yang begitu banyak bahasa inggris yang canggih. Kayaknya tiga kamus enggak cukup. Ada sih rencana untuk beli kamus jenis lainnya, mungkin untuk idioms, synonym ato phrasal words,… hiks, berapa duit itu semua,… Dan gak lupa di kamar gw masih bertumpuk beberapa eksemplar majalah bridal dan pernikahan. Nope, I’m not going to marry, at least for this moment. Ini gara-gara kelas Desktop Publishing Laboratory yang ada tugas untuk bikin newsletter. Nilai NLnya 60% dari total nilai kelas ini di semester ini. Dan grup gw kebetulan bulat tekad untuk bikin newsletter ttg wedding. Sebenarnya tugasnya udah kumpul rabu kemarin, tapi tumpukan majalahnya masih ada di kamar. Baru aja tadi dipindahin ke keranjang majalah yang letaknya di seberang pintu kamar gw. Well, menurut gw sih itu cuma membuat kamarku lebih lega tapi menyesak di satu sudut rumah lainnya.

Dan pagi-pagi nyokap menggedor kamar. Beliau menagih beberapa tas yang engga kepake untuk dikasih ke tukang cuci. Akhirnya terpilih ada dua tas dari kamarku. Satu tas peninggalan sepupu yang bau obat bgt – baunya ngga ilang walau udah 2x dicuci. FYI, sepupuku itu pecinta obat pelangsing dan pernah masuk RS gara OD ringan. Satu tas lagi adalah tas selempang ukuran sedang yang aku beli pas jaman SMU yang berlogo Coca Cola. Aku gak habis pikir. What was I thinking when I bought that? Tas itu aneh bgt. Akhirnya terjadi penjelajahan tas di penjuru lantai dua, termasuk punya nyokap. Segala barang nyokap – baju, aksesoris, tas, sepatu – kalo mo dikasih ke orang, harus melewati aku dulu. Soalnya kan barang2 nyokap kan mau ga mau tar jg dikasih ke aku jg, jd jgn sampai ada barang yg masih aku suka trs jatuh ke tangan orang lain :p…. Dan akhirnya bokap ikut ribet. Beliau menyemir tas-tas lama nyokap yang aku taksir supaya keliatan baru plus menggosok beberapa handel metalnya supaya lebih cring.

Niatnya, hari ini bokap, nyokap, dan adek gw pergi ke Mangga Dua untuk belanja. Kenapa gw gak ikut? Karena hari ini adik gw – laki2 – yang punya kepentingan. Dia pernah beli celana di situ dan kepengen beli model yang sama. Tapi dia punya kebiasaan buruk. Kalo udah dapet barang yg dia mau, pasti maksa minta pulang. Makanya gw ga ikut. Daripada gw makan ati, belum sempet belanja, adek gw udah minta pulang. Besok aja deh kalo udah liburan semester, gw berangkat sendiri.

Ini hari ini. Kemarin beda lagi. Kemarin aku disesaki beberapa kekesalan. Kenapa? Aku kesal krn banyak tugas kelompok yg terbengkalai gara2 anggota kelompoknya engga qualified. Alasan inilah, alasan itulah, akhirnya tugasnya tertunda dan terpaksa ngumpul lsg di loker dosen. Padahal resikonya kalo ngumpul di loker dosen itu : (1) ga dibaca ma dosennya (2) ilang/keselip. Yang gw sesali, kalo mereka merasa gak sanggup menyelesaikan tugas sesuai deadline, ya jgn disanggupi. Ya bilang aja “Gw ga bisa selesaiin dalam waktu segitu.” Itu lebih fair. Daripada memberikan harapan yg kosong. Gw udah bela2in kerjain ampe tengah malem spy selesai sesuai tenggat, mereka paginya dengan santai enggak masuk. Pas ditelepon, “ya gw belum buat, abis kemaren ga sempet, gimana dong?” Aaarrrggghhhh!!!!

Dan kemarennya lagi,… Ada satu temenku yang so and so irritating. Alkisah dari semester ini kita semua seangkatan dapet jatah dosen bule 2 sks. Dan kebetulan dosen buleku itu ganteng and humoris bgt. Dan ada satu temanku yang… ehem … nyari perhatian bgt. Dulu temanku ini pernah tinggal di luar negeri. Dan tiap kali ketemu dosen itu dia selalu ngomongin kehidupannya di US itu,…Akhirnya mereka berdua ketawa2 sendiri dan membiarkan sekelas berisik ga jelas. Terus kemaren dengan entengnya temen gw itu bilang “Yesterday was my b’day” dg mata mengharap minta diberi ucapan selamat. Tp ujung2nya si dosen bule itu ngucapin selamat jg ke gw karena dia tahu gw ulang tahun beberapa hari sebelum ulang tahun temen gw itu. Twweewweewww,… Bener kata temenku yang lain, temenku ini memang haus perhatian. Kalau ngomong selalu pakai tone yg gw yakin itu sengaja digede2in untuk menarik perhatian orang. Berhubung gw termasuk yg outspoken, gw bener2 usaha keras menahan diri supaya gak keceplosan ngritik tingkah laku dia. Gak tau mo tahan diri sampe kapan.

Oya, masih berhubungan sama sifat outspoken itu, kemaren akhirnya gw kirim email ke temen yang punya masalah The Cropped Picture itu. Gw ga bisa ngomong langsung karena ga tega sekaligus takut malah nyakiti dia. Dan dia lsg bales emailku, minta maaf, dan berjanji untuk ga pasang foto itu lagi. Gw belum ngecek sih, tapi percaya aja kok. Kalo emang itu foto belum dicabut yang gw gak tau harus gmn lagi.

Ahhhhh,…udah jam segini. Gw inget. Gw belum mandi. :p Mandi dulu ah,…

Sabtu, Juni 03, 2006

Hari Ini Gw Ultah

Hari ini Gw ultah,...
I'm 21 now,...
Udah gede belom ya? Gede sih iya,... badannya doang. Kayak kata Bur2,... lengen gw udah mirip mike tyson,... hehe,...

Hari ini ultah,... gw kebangun jam satu pagi and ngecek hp,... ada sms dari dita and ully, temen SMA gw,... ga nyangka masih pada inget ultah gw,...
Gw gak bisa tidur gara2 ada problem. Gw bikin salah sm orang dan dia marah besar. Dia matiin hp dan putusin kontak sama sekali. Permintaan maaf gw blom di-acc. Itulah yg bikin gw gak bisa tidur dari jam satu tadi. Yang menohok adalah karena hari ini gw ultah dan gw hanya ingin merasakan kedamaian dan keinginan untuk dimanjakan. Saat akhirnya berkonfrontasi dengannya,... kerasa bgt gak enaknya.

Akhirnya gw nyebur ke YM kesayangan gw,... pasang status available setelah selama ini selalu pasang status invisible. Gw emang bener2 butuh bicara dengan orang. Tapi dg catatan, bukan bicara membagi masalah, hanya berbicara untuk melupakan masalah itu. Gw tau kalo gw offline maka gw akan keingetan lagi.

Buka friendster,... approve-in ucapan selamat dari Rico - anak JGC 12 - dan dari Jefri - temen sekelas. Lalu buka email,... you know what? Gw dapet 2 e-cards dr temen terbaik gw masa SMP, namanya Fancy. The cards are so touching, ada efek music happy birthdaynya. Jadi pengen nangis,...

Akhirnya ngobrol via YM sama Adit, temen kampus yg lama gak ketemu. Ngrobrol sana-sini, sharing ini itu. Lalu di-pm sama Endah, temennya Burung,... tanya-tanya masalah kursus inggris yg baru buka krn dia mau ada survey apa gitu,... Eh, tau-tau Burung - yang kabarnya lagi sakit - nongol and ngajakin conference chat dan berubah wujud menjadi kecoak,... hahahah,... bingung kan lo? Tapi seru banget,... beberapa kali gw ketawa ngakak,... it does really help! Thanks ya guys,...

Tadi pas ngobrol sm Adit, dia nanya apa arti ulang tahun buat gw. Gw bilang aja,... Hari ultah itu gak lebih dari sekedar hari pembuktian orang yang sayang sama gw kalo mereka emang peduli kalo gw telah menapaki setahun lebih tua dan mendoakan yang baik2 untuk gw. Cuma itu aja. Gw menikmati banget setiap ucapan yang gw terima. Itu kemewahan yang tak tergantikan. Dan gw belum terlalu risau banget sama umur,... apa karena gw masih muda ya?

Masih ada 20 jam lagi sebelum tanggal ini berganti. Semoga kemewahan itu masih dapat kurengguk,...

Senin, Mei 29, 2006

' Thoughts '

#1 - The cropped picture
Gue lagi sebel bgt sama temen gw, not a close friend,... Mungkin ini sepele tapi bwt gw cukup ngenes di hati. Waktu itu gw foto bertiga : gw, si N, and si A,... fotonya pake HP gw, secara hak milik itu jg termasuk hak cipta gw,... namanya ama temen, si N bebas aja copy foto itu dr fs, dan nyatanya, foto itu sama di-crop, dia buang gambar gw dan sisanya tinggal mereka berdua aja kayak dua sejoli sahabat sejati,... without me,... what a nice friend she is,... damn! (dengan nada kesel tertahan).

#2 - Freelance
Suatu sore gw nonton reality show yg bagi2in uang 10 juta rupiah sm orang yg tim acara pantas mendapatkannya. Ketika si bapak yg beruntung itu diwawancara, dia menyebut pekerjaannya itu freelance dan itu sedikit berkonotasi beda dengan tulisan keterangan di tv yg menyatakan dia sbg buruh serabutan. Gw tertawa miris,... Gw kan juga pengen jadi seorang freelancer, berarti gw buruh serabutan dong :( Kenapa orang tv gak nulis "pekerja lepas" aja ya? Apa karena dia dipandang "miskin" jadi lebih cocok dengan sebutan "buruh serabutan", padahal bibirnya berucap "freelance",...

#3 - The Da Vinci Code the Movie
Gw abis nonton film DVC itu hari jumat siang kemaren setelah Kamisnya keabisan tiket. Filmnya bagus kok, beda sama review di Kompas yg melaporkan banyak kritikus film klo film itu jelek dan jauh dari novelnya yg penuh dengan bahasa dramatis dan mendongeng. Gw protes. Gw nonton dan gw bilang itu film bagus bgt kok. Sesuai dg bukunya kok. Visualisasinya cukup memuaskan keterbatasan imajinasiku saat terkungkung deretan kata-kata yang tercetak di novel pak Brown. Kritikus itu kejam bgt yak,... kan kasian udah bikin film capek2, bagus2, ngeluarin duit banyak2,... tapi cuma caci maki dan hina dina yang didapat. Padahal kan belum tentu jg si kritikus bisa bikin film yg jauh lebih bagus dari yg udah dia kritik abis2an itu. Jadi inget sama temen gw Bur2 yg pernah bilang untuk tidak menjudge hasil karya orang dari cuma sudut pandang kita aja,...

#4 - Gempa Jogja
Gw mo menghaturkan doa spy semua orang di dunia ini, yg merasa sedang tertimpa bencana, musibah, dan kesedihan, bisa diberi kekuatan untuk tetap tabah menjalaninya dan bisa membuka matanya bahwa Allah tidak tidur dan pasti sedang menyiapkan kado yang luar biasa indah ketika kita semua berhasil menjalani semuanya. Amin.
Jadi inget, banyak perusahaan mengirimkan simpati lewat televisi atas bencana gempa jogja ini. Mereka kirim simpati itu buat siapa ya? Kan kemungkinan mereka yg tertimpa bencana Jogja itu nonton tv itu hampir nol,... Mereka sibuk evakuasi, ngungsi, berobat, merenung, dan tv-tv udah remuk digilas atap rumah yg berlutut mencium tanah.
uuuppss, terlalu sinis ya?
Maaf,...

Cukup empat aja deh yang bisa kepikiran sampai detik ini. Moga2 aja ada kesempatan nyambung lagi. Amin.

Sabtu, Mei 13, 2006

D I A

Sekarang aku lagi bingung. Aku lagi disibukkan mencari pecahan diriku yg tiba2 ngumpet entah ke mana. Sudah dipanggil-panggil tak juga menyahut. Aku belum memutuskan untuk dengan total segenap jiwa raga menyelungsup ke setiap sudut untuk mengeluarkan si dia yang tengah bersembunyi. Takutnya, kalo aku paksakan dia akan akan padam dan mati.

Dia gairahku
Dia yang memberikan arti.
Dia yang akan menjadi masa depanku.
Dia yang sempat hilang karena kecewa berat setelah aku berpaling kepada bentuk pecahan yang lain sebelum gw sempat setulus hati menjadikannya sesuatu yang berarti. Aku meninggalkannya dalam bentuk yang bahkan sebelum berkembang.

Aku tahu dia membaca tulisan ini karena memang dia adalah pecahan yang turut menghidupi diriku sebagai manusia. Aku tahu dia tidak akan selamanya sembunyi. Aku tahu dia takkan sanggup pergi dan melepaskan diri dariku. Aku cuma hanya ingin minta maaf. Aku cuma ingin memintanya kembali. Aku cuma ingin dia memberikan pencerahan dan jalan agar kami berdua bisa sama-sama meniti jalan untuk merintis masa depan.

Aku tunggu, selalu...

PS : bUat yang baca,... tulisan ini BUKAN untuk pacar atau suami atau selingkuhan atau segala perwujudan semacamnya. Ini benar2 pencarian "dia" yang memang bagian dari "diriku".

Sabtu, April 29, 2006

bAn6kiT sAudAraKu! [edisi khusus perempuan]

Gw suka bertanya-tanya,...

Betapa belakangan banyak perempuan yang berteriak-teriak mereka sedang menjadi korban kekerasan, dalam segala bentuknya, oleh laki-laki.

Gw bukan feminis,... apalagi berniat membantu membela kepentingan laki-laki. Gw hanya mempertanyakan apa yg tertangkap sama kacamata minus gw,...

Alkisah, ada seorang cewek, sudah beberapa bulan putus dari pacarnya,... alasannya tidak terlalu jelas. Tapi sampai sekarang mereka masih berlaku seperti layaknya orang pacaran, termasuk dalam bentuk sentuhan fisik yg biasa para pelaku pacaran lakukan. Cewek itu masih suka ngerjain tugas-tugas kuliah mantannya. Cewek itu menghabiskan banyak pulsa untuk nelponin mantannya hanya untuk mendengarkan info kalo mantannya itu sedang ga ada atau kalimat penolakan "Ngapain sih lo nelpon2 gw lagi??" Bahkan dia merelakan temennya yang lain meneleponkan si mantan agar dia bisa denger suara mantannya itu. Dia rela mengejar ke mana mantannya itu pergi. Rela jadi tempat sampah dan wadah pelampiasan “kebutuhan” si mantan – sorry for mentioning this – sampai detik gw nulis ini. Lalu begitu si mantan selesai dengan apa yg dia perlukan, dia meninggalkan si cewek itu begitu saja. Ini siklus yang terus berulang sampai sekarang.

Ketika temen-temen si cewek menasihati dan berusaha menyadarkan, si cewek berontak dan marah-marah, “gw itu ga suka diatur-atur!” … Lho apa yang salah dengan ngatur2 itu,… memang si cewek itu kok yang buta. Lihat realita. Seberharga apakah si mantannya itu sampai digandolin seperti itu? Mestinya dia bisa melihat siapa yang sebenernya sayang sama dia. Teman-temannya itu jauh lebih sayang daripada mantannya itu.

Lalu ada si pemudi yang juga udah putus dari cowoknya. Tapi beberapa hari yang lalu dia bertandang ke rumah si pemuda – yang seorang Play station addict. Si pemudi “dikacangin” di ruang tamu, sendirian, cm ngulak-ngalik hape. Si pemudanya malah asyik maen balapan di playstation sama temen sekelasnya yg kebetulan bertandang juga. Si pemudi dicuekin di ruang tamu dari siang sampe malem sama si pemuda. Si pemuda baru mau ngomong ketika nyokap si pemuda nyuruh si pemuda nganterin pemudi pulang karena sudah malam. Itu juga dengan seperdelapan hati, bukan setengah hati lagi.

Gw gat au apa yg melatarbelakangi tindakan si cewek sama si pemudi itu sampai mereka beraksi menghiba cinta kepada yg sudah jelas-jelas merobek apa yang mereka agungkan selama ini. Yang satu rela dijadikan kacung – maaf kalo kasar, tapi semua orang yang mengenal si cewek pasti berpikiran seperti itu – dan yang satu rela membuang waktu demi sesuatu yang sia-sia.

Diputusin memang sakit. Apapun bentuk dan alasannya. Mau diputusin langsung atau lewat telepon atau email atau bahkan sms, tetep aja rasanya sama sakitnya. Tidak ada legitimasi diputusin secara langsung itu akan mengurangi sakitnya. Gw pernah diputusin either in direct or by phone. Sama sakitnya.

Gw engga mau men-judge siapa-siapa. Gw bukan ahli tentang hubungan. Gw cm mau beberapa orang sadar. Di luar sana banyak wanita yang sedih karena mengalami KDRT dari segi fisik, emosional, seksual, dan ekonomi. Tapi kenapa, sesame wanita juga, ada yang suka menempatkan dirinya sebagai korban. Menikmati perannya disiksa dan digelontori perasaan tak berarti. Padahal perempuan itu makhluk kuat, lebih kuat dari laki-laki. Dianugerahi kemampuan mengandung, melahirkan, membesarkan calon-calon manusia, mestinya bisa dengan mudah survive, bahkan melawan, ketika sedang disakiti.

Obat memang terasa pahit di lidah, tapi bisa memberikan kesembuhan bagi si sakit. Coba lihat permen yang memberikan rasa manis tapi ujungnya sanggup membuat gigi rusak pelan-pelan,…

Bangkit saudaraku,… bangkit!

M0mmA's sWeeT GirL

Ada satu yang gw pahami dari diri gw hari ini.

I was, I am, and I will always be momma's sweet girl.

Gw udah kembali ke jalan di mana gw punya tekad untuk ga nyakitin keluarga gw lagi. Gw pernah menyakiti mereka, dan gw sepenuhnya sudah kembali ke mereka selama hampir dua tahun ini,... dan gw yakin kalau gw ga mau nyakitin mereka lagi.

Kalau orang suka hidup dg tantangan dan problema, gw lebih memilih hidup damai. Terserah kata orang kalo gw hidupnya basi,... itu kan dari kacamata seorang penantang,... tapi di kacamata gw, hidup damai dengan orang yang kita cintai (keluarga, teman, pacar, bahkan diri sendiri) itu adalah tantangan tersulit yang setiap orang pasti alami.

Minggu, April 16, 2006

Umur [edisi khusus wanita]

Entah kenapa, beberapa peristiwa berikut ini gw rasa seperti kebetulan dan berhubungan satu sama lain.

Waktu itu gw lagi ngubrul-ngubrul sama - inisialnya aja ya - E,… dia sebentar lagi mau nikah, rencananya sih tahun ini. Mbak E ini sama kayak gw, produk keluaran tahun 1985, dan di tahun 2006 ini siap melepas masa lajangnya.

Beberapa hari kemudian, temen gw yg laen, inisialnya aja ya : D, yg ikut ngederin percakapan gw sama Mbak E tempo hari tentang rencana meritnya,… nyeletuk,…

“Gun, si E mau merit ya? Kayaknya enak banget ya. Bentar lagi punya suami. Elo juga enak banget punya pacar yg awet banget dari SMU. Gw jadi pingin deh,”

Gw masih belum terlalu takjub sama pernyataan di atas. Tunggu sampai ke bagian selanjutnya,…

“Tapi sampe skr gw masih jomblo. Umur gw udah berapa coba? Gw keburu tua,"

Well, emang omongannya emang ga semirip apa yang gw tulis ini. Tapi efeknya biking gw shock. Dia itu tahun produksi sama kayak gw, malah lebih muda dia beberapa hari. Masih muda banget kan? Banget banget! Dan dia punya pikiran seakan-akan dia perawan tua yg seangkatan Madonna yang ga punya harapan untuk menjalin cinta dengan lelaki.


Terus beberapa hari berlanjut, temen gw yang lainnya, inisialnya J, dia protes sama kajur gara-gara ngga bisa ngambil skripsi di semester 7. Karena berhubung dia mahasiswa yg ambil semester paket, jadi sdh diatur untuk ambil skripsi semester 8 alias di tahun ke-empat. Dia kebakaran jenggot. Beda setengah tahun dalam penyelesaian kuliah aja bikin dia panik. Dia memang seangkatan sama gw walaupun umurnya lebih tua setahun. Tapi mbak J ini awet muda kok, ga keliatan kalau umurnya sebanyak itu (gw ga pake kata tua karena konotasinya sedikit sensitive bagi perempuan). Dia pinter banget. Gw ga akan heran kalo dia bisa selesai kuliah dalam jangka waktu 3,5 tahun. Cuma karena birokrasi kampus aja dia bisa menyelesaikannya dalam 4 tahun.

Dia dengan lunglai merasa,… gw kutip walaupun ga mirip,… “besok kalo udah lulus S1, umur gw 24. Belum nanti nyambung ke S2-nya. Belum cari kerjanya. Belum mapannya. Kapan gw merit?”

Gw berusaha nenangin dia. Mencoba meyakinkan kalo dia bakal bisa menyelesaikan semua rencana studi dan karirnya itu.

“Tapi kan gw perempuan, Gun.”

Oouuch!!! Memang menohok sih,… Kalau laki-laki memang bisa menikah umur berapa aja. Kalau emang belum dapat jodoh atau belum punya kesempatan, tinggal ngeles aja, mau mapan dulu demi masa depan calon keluarga. Tapi kalau perempuan? Memang sekarang jaman sudah berubah. Banyak wanita yg sarjana, ga sedikit yang ambil S2 dan lulus dengan baik. Bukan sesuatu yang mengherankan melihat wanita mengejar karir dengan posisi yang cukup intimidatif bagi laki-laki. Tetep aja ada tapinya.

Entah kenapa, ada nilai-nilai yang turun dari generasi ke generasi bahwa perempuan mendapatkan tuntutan lebih besar untuk menikah daripada laki-laki. Mungkin kemampuan reproduksi perempuan yang jauh lebih terbatas dari laki-laki. Atau mungkin karena populasi perempuan yg konon katanya empat kali lipat disbanding laki-laki shg membuat persaingan makin sesak.

Jadi inget sama temen gw yg laennya, inisialnya K, yang hampir setua nyokap gw tapi masih tetap kayak anak muda,… dia pernah gagal berumah tangga tapi gak takut untuk menikah lagi. Dia mengakui dia memang butuh laki-laki, lebih dari sebagai sandaran ekonomi dan kebutuhan ragawi, tapi karena dia sadar dia memang tidak bisa hidup sendiri. Tapi dia dengan umur sebanyak itu, hampr dua kalinya umur gw, tetep punya positif thinking kalo dia akan menemukan lelaki yang tepat entah di umur berapa. Gw salut sama nilai yang dia pegang. Dia yakin apa yang dia mau tapi dia engga seperti desperado yg blingsatan ke sana kemari.

Terus sebagai ending, tadi pagi sebelum gw nulis posting ini, ada temen gw yg inisialnya A memberikan argument penutup yang gw simpulkan sebagai berikut,…
“Otak kita terlalu mungil untuk disesaki pikiran-pikiran yang terlalu jauh melangkah ke tempat yang bahkan tidak bisa kita raba”,…

Menurut lo???

Wanita Yg Intimidatif

+ Sebenernya,... bikin tulisan ttg topik ini berjuta malasnya,... sama seperti membuka borok sendiri,... I'm easily intimidated by women,...

- Kenapa?

+ Ya karena minder lah, kalo ga minder kenapa gw hrs merasa terintimidasi

- Kenapa minder?

+ Bebel bgt nih, ya krn gw merasa kualitas gw di bawah para wanita itu

- Contohnya

+ Gw gampang sekali terintimidasi dg wanita yg physically more beautiful. Waktu itu ketemu sama mantannya cowok gw,... sebut aja namanya M,... gw cm ngeliat dari jauh pas lagi di senayan, sekitar 2 thn lalu, dia mo beli sepatu basket,... dia cantiiiiik banget, putih, langsing, tinggi, not mentioned dia seorang yg berduit,... bermobil,... Gw sampe mikir, kenapa cowok gw putus sama dia dan jadian gw yg kayak begini doang,... Banyak perempuan yg ga sadar mereka telah berperilaku mengintimidasi sesama kaumnya, dg cara dandan dan dress up yg terlalu mempercantik diri,...

- Mestinya lo bangga dong? Artinya lo punya pacar yg gak melihat lo dr fisiknya doang, pacar lo melihat inner beauty,...

+ Tau gak kadang2 kalau lg jahat sama diri sendiri, kata inner beauty itu ga lebih dari sekedar pembelaan dari perempuan yg gak cantik tapi tetep ngerasa pengen kelihatan cantik sekaligus alat bwt para wanita cantik untuk merendah dg tujuan memperoleh pujian ganda, kecantikan sekaligus kebaikan hati,...

- Lo sinis bgt,....

+ Eeeh, justru kesinisan gw itu termasuk kecantikan yg engga semua orang punya. Sinis itu lebih realistis and kadang bisa membidik satu sisi yg orang ga biasa perhatikan.

+ Berarti lo merasa diri lo cantik kan?

- Iya, tapi menurut standar gw sendiri. Tetep aja kalau menyentuh ruang publik, ada standar yg berlaku dan gw bukan yg termasuk memenuhi standar itu. Gw tau lo mau jawab, jgn peduliin apa kata orang,... tapi kuping kan diciptakan untuk mendengar dan suara2 orang itu susah dihilangkan.

- Udahlah, gak usah merasa terintimidasi, sekali-kali coba mengintimidasi orang dg "kecantikan" yg elo punya apapun itu


+ Nah, kalo gt apa bedanya gw sama mereka,... kecantikan gw bukan utk menintimidasi tapi utk menginspirasi,... itu baru namanya cantik

BEING adult is suck!


Bukan bermaksud sinis,...
Tapi menjadi wanita dewasa itu susahnya bukan setengah mati tapi, tujuh perdelapan mati. Misalnya gagal ya mati beneran. Kalo sekedar menjadi abg yg manja dan menyebalkan, sepertinya semua orang bisa,...

Belajar dewasa malah kepentok banyak hal
Nurturing,... i want that one,... i have never been that one,...
Terjepit,...
Memilih diantara dua yang memang bukan sesuatu yg harus dipilih karena memang keduanya adalah hak milik kita yg asasi,...
Tersudut,...
Tak bisa berpikir logis,...
Menyalahkan tampak lebih mudah mengurangi rasa bersalah pribadi,...
Kepala rasanya mau pecah,...
Membuat keputusan tidak semudah membuat nasi goreng,...
Merasa sendiri,...
Pahit,...
Ketakutan akan kehilangan yg besar,...
Terpaksa menjadi sabar dikala ego menjadi raksasa,...

Mungkin semuanya akan membantah, proses dewasa itu menyebalkan,... sampai sekarang aku cuma merasakan hal-hal yg di atas itu,... tanpa sedikitpun paham arti dewasa itu sendiri,...

I'm in the middle of nowhere and i even cant walk,...

Selasa, April 04, 2006

tHe Ge0grAphY oF a wOmaN


Aque dapet forward-an dari temen gw yg paliiiiiiiing baek, namanya Kiki,... nice to have a friend like u,...

THE GEOGRAPHY OF A WOMAN

Between 18 and 20, a woman is like Africa. Half discovered, half-wild, naturally beautiful with fertile deltas.

Between 21 and 30, a woman is like America. Well developed and open to trade, especially for someone with cash.

Between 31 and 35, she is like India. Very hot, relaxed and convinced of her own beauty.

Between 36 and 40, a woman is like France. Gently aging but still a warm and desirable place to visit.

Between 41 and 50, she is like Iraq. Lost the war, haunted by past mistakes. Massive reconstruction is now necessary.

Between 51 and 60, she is like Siberia, Very wide and borders are un-patrolled. The frigid climate keeps people away.

Between 61 and 70, a woman is like Mongolia. A glorious and all conquering past but alas, no future.

After 70, they become like Afghanistan. Everyone knows where it is, but no one wants to go there.

And Which one are you??

Kamis, Maret 23, 2006

Hari ini ada ini,...


Hari ini ada ini nih,...
- Ujan dereeeeees, namanya juga ujan malem kamis ;)) kagak nyambung!!!!
- Tol Tangerang-Jakarta maceeeeet
- Komputer di warnet lelet
- Ruangan Speaking dipindah ke enam lantai di atas
- Dosen Speaking gw yg bule ganteng dan berbodi aduhai a.k.a Nate Brown itu potong rambut,.... nambah ganteng,... bikin puyeng
- Belajar debat ga jelas
- Poto-poto bareng Mas Nate yang ganteng (liat poto di atas dooooong,...)
- Bikin Ayu iri sama pose gw yg sebelahan ama Mas Nate
- Dikasih tau sama Ayu kalo bokapnya Adit meninggal dunia,... innalillahi wa inna illaihi rajiuuun
- Liat Christian gandengan sama Hokben, eh salah, Wini,... bikin mupeng
- Maen "point the knee" pake payung segede gaban dg Christian sebagai korban,... :p
- Belajar listening yg super-duper ngebosenin
- Briefing lomba debat
- Pulang dengan dinaungi hawa panas Jakarta
- Mo beli majalah tapi keabisan
- Naik ojek yg abang2nya gak tau jalan,... bete
- Makan rawon + sambel + krupuk
- Nemenin nyokap nonton film mandarin sambil nyemil Tango
- Nguras akuarium
- Mandi gebyur-gebyur
- Nonton berita sejenak
- Online
- Cetting ama Dhira and Evi and the one and only my spiritual advisor :p
- Posting tulisan ini ampe kagak tau lagi dah

...................................................................................................................

Senin, Maret 20, 2006

Katakan siapa yang salah,...


Kemaren, sehari yg lalu, tgl 22, di kantin kampus kijang universitas tercinta gw, gw ketemu sama Nining, senior di kampus tapi sepantar di segi umur,... temen kerja di eks kursus gw dulu,... kasih tau perkembangan di eks tempat gw mencari nafkah dulu. Di foto ini, Nining itu yang paling pinggir sebelah gw,...

Ada temen gw yang apply ke kursus itu, udah sign kontrak untuk setahun, dan udah beberapa minggu ngajar untuk level Kindergarten-1,... eh, entah karena gak betah, entah karena berat di ongkos, entah karena bentrok sama waktu,... dia minta berhenti.

Maka murkalah si empu-nya kursus. I know her,... kinda strict type of person,... a type of person that messing up with her is the last thing you tend to do,... dia ngancam bakalan nuntut temen gw,... weks!!! Merembet ke meja hukum nih,...

Gw ga tau kelanjutannya, apa temen gw jadi dituntut, atau gimana,... Niningnya keburu kabur karena langit gerimis dan dia harus buru-buru pulang. The most shocking one,... si empu-nya kursus sibuk nge-blacklist temen gw itu,, bahkan dibela-belain nelepon ke ka-jur agar kalo ada job-offering buat temen gw, kajur gw itu gak merekomendasikan temen gw itu,... Tambah rumit eeeuyyy,...!

Kata Ayi, temen gw yg bareng-bareng pergi ke interview kerja di sana - bedanya dia gak jd masuk dan gw terjebak di sana slama 4 bulan - berpuji syukur dia gak jadi mencari nafkah di sana. Dia bilang ada firasat gak enak tentang sistem kontrak di sana. Hmmm,...

Gw gak tau ya,... sepanjang gw baca kontrak di sana,... gak ada masalah kok. It's a professional contract yang balance di kedua pihak. Gw akui itu. Mungkin temen gw itu memang belum siap dengan situasi kerjanya. Mungkin pikirnya "ya udahlah, part time ini,... big deal,... " As a matter of fact, yes, it's a big deal. Kontrak kan jaminan kita supaya hak-hak kita gak dilecehkan, walaupun itu cuma sekedar part-timer [emosi amat gw,...] Temen gw jelas salah dengan melanggar kontrak yg jelas-jelas ditandatangani dengan penuh kesadaran tanpa paksaan di bawah todongan golok,... Kenapa jadi gak profesional gt???

Tapi apa bener juga tindakan si empunya kursus dengan menyebarkan kejadian ini, sampai akhirnya tembus ke ruangan ka-jur,... black-listing people for getting their opportunities is so cruel,... Temen gw masih 20 tahun,... masih muda banget,... kalo di black list gt,... bagaimana nasib dia nanti???

Siapa sih yang salah?

PS : Kerja - mencari sesuap nasi dan seraup berlian - itu susah banget ya,... kayak gw nih, sekarang jobless. Mo part-time kebentur waktu kuliah yg naudzubillah, mo freelance ya susah kepentok sama the enormous power named laziness,...

Catatan Lama [banget]

:P
Baru aja buka-buka blog yang ada di frenzter, trus ga sengaja nemu tulisan ini. Udah lama banget. Dibikin tanggal 13 Oktober 2005, tapi lumayan lah, gak nyangka bisa nulis yang beginian, well, di-paste aja ke - singgasanaku - yaaa,... baca yaaaa?

Hindari Kenyamanan

Kenyamanan, satu selimut yang mengekangku, memberikan kenikmatan yang membuatku enggan berpaling. Kenyamanan, betapa satu hal ini sebenarnya tak lebih dari kata pembelaan kalau aku itu hampir saja menjadi pengecut. Kenyamanan hamper membuatku terlena. Kenyamanan membuatku stagnan, aku tahu itu, tapi tetap saja nekat kujalani. Kenyamanan membutakan. Aku terlalu nyaman selama ini, sehingga banyak indera yang kurang peka, banyak pengalaman yang terlewatkan, tak kurang ilmu yang meninggalkan dalam keterlenaan.

Aku selama ini selalu nyaman naik angkot. Walau ongkos makin mahal, udara pengap, bau keringat, tapi aku telanjur terbiasa. Walaupun sudah mengantongi SIM A sekali pun tetep naik angkot jadi pilihan utama. Males kena macet, males cari tempat parkir, takut nabrak, males antri beli bensin, segala macam alasan membuatku makin nyaman saja naik angkot.

Kuliah pagi pulang sore dari kampus tercinta terus makan and tidur memberikan kenyamanan luar biasa. Segala rutinitas membuatku mampu mengerjakan semuanya lancar. Sama sekali tak terlintas di kepala untuk menambah satu aktivitas lagi. Kenapa? Karena memang sudah nyaman seperti ini.

Nyaman memang memabukkan. Saking memabukkannya, aku sampai tak sadar di luar sana banyak hal-hal indah yang tak sempat kukecap.

Misalnya, karena terbiasa naik angkot atau diantar jemput sama para lelaki tercinta (thx ma dad, lil bro, and beloved darling), ketika harus bawa mobil sendiri, segala ketidaknyamanan muncul. Efeknya bisa ditebak, ban mobil hampir melindas kaki pak satpam, menyerempet portal, mesin mati pas di tanjakan, semua itu membuatku tak nyaman karena aku harus keluar dari rutinitas yang selama ini kurasakan. Aku harus mengalami pengalaman baru, belajar dari awal, mulai beradaptasi, dan tak bisa menebak apa yang akan terjadi satu detik mendatang. Aku jauh dari kenyamanan.

Hi-heels juga termasuk sesuatu yang membuatku tak nyaman. Aku harus merasakan ketidaknyamanan ini pas acara resepsi pernikahan sepupuku. Aku harus berdiri (lengkap dengan setelan kebaya) dengan hi-heels 12 cm,… walhasil pulang dari acara, aku mendadak sangat mencintai kaki-kakiku. Tapi aku tak bisa pungkiri kalau aku terlihat lebih feminin dengan sepasang hi-heels itu. Jalanku jadi lebih anggun. Aku terlihat seperti perempuan (lha emang selama ini apa?) Pakai hi-heels memang awalnya tak nyaman, awalnya sekedar paksaan situasi, tapi efeknya yang begitu mengejutkan memberikan shock-therapy yang membuat mataku terbuka. Aku bisa terlihat lebih baik kalau aku mau keluar dari kenyamananku (baca : pecinta alas teplek) selama ini. Aku cuma tidak berani. Itu saja.

Akhirnya aku belajar untuk menghindari kenyamanan. Aku mulai mencoba tawaran mengajar bahasa inggris untuk anak-anak kecil. [PS : ketika tulisan ini dibuat, aku baru saja 2 minggu menjadi part-timer di suatu kursus bahasa inggris, tapi officially februari kemaren aku resigned,...] Memang awalnya tidak nyaman. Aku harus bersikap lebih sabar, harus banyak senyum, harus disiplin, harus rela waktu istirahatku terpotong demi bayaran yang tak seberapa. Aku bisa saja menyesalinya dan ingin kembali ke kenyamanan masa lalu yang begitu menggoda. Tapi jika aku nekat berteman lagi dengan kenyamanan itu, bagaimana dengan pengalamanku, kenanganku akan masa muda? Aku akan selalu terlena, padahal dunia sendiri tak akan pernah berada dalam kondisi yang nyaman.

Aku akan seperti anak bayi dalam gendongan ibunya bila tetap berada di zona kenyamanan. Toh anak bayi akan melepaskan diri dari kenyamanan pelukan sang ibu untuk belajar berjalan. Dia tentu tak nyaman kalau terus bolak-balik jatuh tersungkur karena kakinya belum mantap menjejak. Tapi toh harus dijalani kan. Toh di suatu hari nanti sang bayi akan menikmati manis dari jerih payahnya jatuh bangun ini. Aku masih belajar untuk memahami ini semua. Bukan hal yang mudah melepaskan kenyamanan selama ini aku rasakan untuk sesuatu yang belum pasti, entah akan membuatku nyaman atau tidak. Tapi hidup itu kan proses belajar, itu kata orang bijak. Berhubung bijak bukan sifatku, aku mending nurut saja. Siapa tahu di beberapa waktu ke depan aku bisa memetik buah dari pengorbananku meninggalkan kenyamanan.

Amin. Amin. Amin.

PS : God, give me more strength to finish the unfinished. And for you all, leaving behind all the comfort doesn’t mean that you act carelessly. Mark this, you leave today’s comfort to get greater comfort in return.

Welkam,... Welkam,...

Kayanya basi banget ya,...?

Teknologi blog udah ada dari jaman kapan tau, malah baru sekarang bikin blog,... cck cck cck,... Malu dong sama almamater yang tenar di bidang IT,... (so what!!! gw kan ngambil sastra inggrisnya, kalo ngambil IT-nya gw udah bikin lebih dari yang beginian,...)

Yo wis laaaah,... emang ga jago bikin pidato pembuka malah jadinya marah-marah gini,... sutra-lah,... maaf ya kalo blog-nya terlalu simpel banget,... kalo dibandingin sama blognya burung,... phhuuff,... kayak ndoro sama babunya,...

Oh ya, kalau kamu semua kepingin melihat salah satu potongan jiwaku yang terpampang di hadapan public, coba deh maen ke -mba'Anggun- dan kalo elo juga mau jadi bagian dari sekumpulan sahabat-kawan-dan teman, aku welkam-welkam aja koq. Disarankan sih, kirim email dulu aja, takutnya namanya juga manusia. There's such thing called short-term memory loss. Jadi inget sama Fanny, temen SMP, yang sempet bertemu di dunia maya setelah sekian lama, dia ngambek karena aku enggak inget. Well, SMP itu berapa abad yang lalu, Fan? Maaf ya, namanya pangling.

Ya udah,... no more blah blah blah blah,...

Welkam welkam

~ btari-yang-anggun ~
Lomba Blog Resolusi Lebaran