Powered By Blogger

Rabu, Januari 01, 2014

AYAM BANGKOK

cerpen ini dimuat di Tabloid Nova edisi 16-22 Desember 2013



Pagi ini Rohim bersiul riang. Dinginnya air sumur yang baru mengguyur membuatnya makin bersemangat. Di depan cermin, ia berjoget sambil menyisir rambut tipis kelabunya. Alunan musik dangdut terdenger kemeresek dari radio tua. Istrinya mengeryit curiga, gelagatnya sepeti lelaki sedang jatuh cinta. Hanya saja, Rohim tak cukup tampan, apalagi kaya untuk mencari istri muda.
“Hari ini aku mau ke rumahnya Koh Endi,” ujar Rohim menjawab pertanyaan di wajah istrinya.
Mendengar nama Koh Endi, istri Rohim cuma menghela napas tanda paham.
“Koh Endi katanya baru dapat stok ayam Bangkok baru. Katanya ayamnya top, bodinya tegap, gede, kakinya kokoh. Petarung sejati pokoknya,”
Istri Rohim hapal betul sikap suaminya yang tergila-gila dengan ayam Bangkok aduan. Lebih baik ia tak berkata apa-apa, tapi Diro, anak semata wayang mereka bergegas keluar dari kamar. Rambutnya kusut berdiri di sana-sini dengan wajah cemberut. Lingkaran hitam menggelayut di bawah mata hasil semalam kurang tidur.
“Pokoknya, kalau bapak sudah beli ayam itu, terus diadu, terus menang, kamu pasti aku belikan gelang baru,” ujar Rohim pada istrinya.
“Pak, mana janji bapak?” tagih Diro tanpa basa-basi.
“Janji apa?” tanya Rohim setengah tersedak.
“Uang untuk daftar ulang sekolah,”
“Oh itu. Bapak nggak ada duit.”
“Bohong. Buktinya bapak mau beli ayamnya Koh Endi. Ayam Koh Endi kan enggak murah, pak,” Diro menjawab sengit, “lebih baik uangnya buat bayarin sekolah Diro,”
“Uang bapak cuma tujuh ratus ribu. Pas seharga ayam itu. Untuk bayar sekolahmu nggak ada,”
“Bayar daftar ulang itu juga tujuh ratus ribu, pak. Bapak nggak usah beli ayam dulu. Kalau nggak bayar uang daftar ulang, aku nggak bisa naik ke kelas tiga, pak.”
“Tapi di rapot kemarin kan kamu naik kelas.”
“Kalau nggak bayar juga nggak akan naik kelas,” bentak Diro. “Pantas keluarga kita melarat terus. Lha wong bapaknya sering sabung ayam.”
“Kamu ini kecil-kecil sudah bisa ngajarin bapak!” mata Rohim menatap nyalang, tapi Diro tidak gentar. Ia balas menatap tanpa berkedip.
“Bapak lebih sayang ayam daripada anak sendiri!”
Diro langsung keluar rumah tanpa banyak berkata. Rohim terengah-engah menahan marah dan menahan tangan untuk tidak menampar mulut Diro. Istrinya terduduk lesu sembari menahan mual melihat pertengkaran barusan. Anaknya baru empat belas tahun dan suaminya sudah kepala empat. Keduanya tidak ada yang berkepala dingin, sedangkan ia terjepit di tengah-tengah tanpa tahu harus membela siapa.
“Nafsu makanku jadi hilang. Siapa yang betah tinggal di rumah seperti ini.” Rohim membanting serbet makannya.
Istrinya hanya diam memandangi Rohim. Gundah yang ia simpan mulai luber meluncur di wajahnya yang lelah.
***
Rohim mengayuh sepeda tuanya dengan berat. Rodanya sedikit kempes dan jalanan sedikit berbatu. Sesekali Rohim menyeka peluh yang meleleh terbakar matahari. Hasratnya begitu menggebu. Jantungnya berdetak seakan hendak menjebol tulang rusuknya. Kualitas ayam Bangkok ternakan Koh Endi memang terkenal. Konon kabarnya Koh Endi mengambil bibitnya langsung ke Bangkok. Bagi Rohim itu bukan masalah. Sepanjang ayam itu selalu menang di arena sabung, selama ia terus bisa mereguk rupiah hasil sabung, ia tak peduli.
Kepala Rohim mendadak berdenyut-denyut. Bayangan Diro juga tak kunjung pergi dari benaknya. Diro anak satu-satunya. Umurnya masih baru empat belas. Tahun depan sudah mau masuk STM. Tapi itu terancam gagal karena tak bisa membayar uang daftar ulang syarat kenaikan kelas. Semakin dipikirkan semakin terbelit-belit isi otak Rohim yang cuma mengeyam bangku SD.
Dari kejauhan ada keramaian. Keramaian itu seperti gumpalan bola salju yang meluncur dari atas gunung. Mulanya satu dua orang, lama-lama sekian puluh jumlahnya. Rohim heran, bagaimana bisa ada kerumunan orang di depan rumah Koh Endi. Kerumunan itu terus meluber sampai ke halaman belakang, tempat bisnis Koh Endi. Apalagi kalau bukan rentetan kandang ayamnya.
Rohim menggaruk-garuk kepala. Kasak-kusuk orang begitu berisik. Kerumunan begitu padat untuk ditembus. Ada apa ini? Rohim lompat jinjit dua kali, lalu menelusup di antara bahu dan punggung, mencari Koh Endi. Tapi pria setengah baya itu entah kenapa tak terlihat.
“Kasihan Koh Endi,”
“Iya, kan ayamnya bagus-bagus. Kok apes ya?”
“Siapa sih yang tega?”
“Gila, lima ayam Bangkok yang baru digorok semua!”
“Jangan-jangan saingannya si Kokoh yang melakukan,”
“Padahal, ayamnya kan kualitas impor.”
“Mati aku! Nanti sore aku mau adu sama kampung sebelah. Cari ayam di mana lagi?”
Orang-orang tak henti bicara. Rohim mendengarkannya sampai merinding. Apa benar ayam Bangkok baru Koh Endi digorok orang? Lima-limanya? Rohim mulai menyikut sebelahnya, menyeruak ke depan. Ia mencari jalan untuk sampai ke kandang ayam Koh Endi.
Itu dia Koh Endi. Pria yang rambutnya sudah sebagian memutih itu jongkok menatap ayam-ayamnya. Semua kesayangannya itu tergeletak tak beraturan di tanah. Leher mereka hampir putih. Darah membanjir menodai coklatnya bumi. Bau amis darah samar-samar menguar di udara. Rohim mengelus dada. Satu di antara ayam-ayam itu pasti pesanannya. Pupus sudah harapannya untuk memiliki ayam kualitas nomor satu.
“Oalah, mimpi apa aku? Si Burik, si Jabrik, si Cebol, si Bohai, terus andalanku si Bantam, semuanya mati. Siapa yang tega begini?” ratap Koh Endi
Koh Endi sibuk mengelap air matanya. Pria kurus kering itu bahkan tak mengenali Rohim yang berdiri di sebelahnya. Diambilnya sebuah sekop besar. Ia menggali tanah di samping jajaran kandangnya. Dalam beberapa saat, Koh Endi menyiapkan lima lubang kecil. Rohim langsung paham. Koh Endi dengan rapi memasukkan ayam-ayam itu ke liang kuburnya masing-masing. Tidak sampai setengah jam lima gundukan tanah itu berbaris rapi. Rohim semakin mengurut dada. Air mata yang terus berleleran mewakili gemuruh apa yang ada di hati Koh Endi.
“Oalah, oalah, ayam-ayamku,…”
Kerumunan orang tidak berkurang. Mereka masih bergumam. Gumaman yang terus membumbung tinggi ke udara seperti gerombolan lebah. Tak satu pun turun tangan mem-bantu Koh Endi. Menghiburnya. Membantunya mengubur bangkai-bangkai itu. Mereka cuma melihat dan berkasak-kusuk. Termasuk Rohim. Semuanya masih terpana oleh kejadian ini.
Pikiran Rohim melayang. Akhirnya benaknya membentur bayangan wajah Diro. Anak sulungnya yang dua hari lalu mendatanginya. Tanpa bicara. Cuma menyodorkan selembar kertas berstempel. Di dalamnya terdapat rincian biaya, mulai dari biaya uang daftar ulang, uang sekolah bulan pertama, iuran OSIS, iuran koperasi, sumbangan a, sumbangan b, semuanya runtun rapi terperinci. Totalnya tujuh ratus ribu. Harus dibayar segera, tepatnya hari ini, supaya Diro bisa melanjutkan tahun ketiga menengah pertamanya.
Hanya saja, Rohim lebih sayang hobinya. Rohim lebih memilih pada ayam Bangkok Koh Endi seharga tujuh ratus ribu yang ternyata hari ini terkapar dan membusuk di liang karena ulah entah siapa.
Rohim menghela napas. Siapa yang tega melakukannya? Biasanya ayam-ayam Bangkok dicuri, bukan dieksekusi lalu digeletakkan begitu saja. Orang usil mana yang punya waktu seperti itu. Rohim tetap tak habis pikir.
Wajah Diro kembali terbayang. Ia harus segera pulang dan segera membayarkan uang ini ke sekolah. Rohim baru saja memutar langkahnya. Tangannya merogoh saku celana. Saku itu kempes. Uang pecahan seribu, lima ribu, dan sepuluh ribu yang terkumpul selama lima bulan itu ke mana? Rohim merogoh saku satunya. Mencari di saku bajunya. Matanya berkeliling ke sekitar jalan yang baru dilewatinya. Jantungnya mulai berdegup kencang. Tak ada amplop coklat yang sejak tadi diselipkan di sakunya itu. Ke mana jatuhnya?
Ditatapnya mata-mata kerumunan orang yang sejak tadi menggerombol. Mata-mata mereka melukiskan banyak arti. Tak sanggup Rohim artikan. Apa mungkin jatuh di jalan? Tidak mungkin. Saku celananya sudah dikancingkan, amplop itu tak mungkin merosot jatuh.
 Apa jangan-jangan,…
“Ya Allah, aku kecopetan!”
***
Rohim membanting topinya di meja. Rasanya lelah menyeret kaki yang seperti enggan untuk digerakkan. Di meja sudah terhidang secangkir kopi yang sudah dingin. Sebentar lagi maghrib. Istrinya mungkin masih dalam perjalanan pulang kerja di pabrik garmen di pinggir kota. Lalu ke mana anaknya?
Rohim menemukannya sedang duduk di undakan anak tangga pintu dapur. Diro sedang mengelap parang kesayangannya. Sesaat lalu, parang itu dia cuci bersih dan diasah agar tidak tumpul. Parang besar itu modalnya kerja memotong rumput di komplek perumahan di tengah kota. Biasanya seminggu sekali dia keliling untuk menawarkan jasa tukang kebun dadakan dengan berbekal parang itu.
“Kamu baru potong rumput di rumah juragan siapa?” tanya Rohim.
Diro mendongak. Ia tak menyangka bapaknya akan pulang secepat ini. Ia sedikit gugup. Apalagi ia tak sempat menyembunyikan parang itu. Tapi begitu melihat tangan bapaknya tidak membopong seekor ayam pun, matanya langsung berbinar.
“Enggak, pak. Cuma dibersihkan saja,”
“Diro, masalah uang daftar ulang sekolahmu itu,” tenggorokan Rohim seperti tercekat. Ia tak tega menatap mata anaknya yang bening, yang penuh harap.
Diro girang menatap bapaknya. Pasti bapak akan segera menyerahkan uang itu.
“Maaf, Diro, ” ujar Rohim lirih, “bapak baru kecopetan di rumah Koh Endi,”
Jantung Diro seperti berhenti berdetak. Matanya terbelalak. Parangnya pun meluncur mulus dari pegangannya dan jatuh membentur lantai.
“Bapak enggak bisa bayar biaya daftar ulangmu,” Rohim tertunduk. Ia tak kuasa menatap Diro yang syok. Matanya terbeliak seakan terguncang. Rohim maklum. Kesempatan anaknya untuk menyelesaikan SMP-nya yang kurang setahun lagi mulai samar.
“Jadi?”
“Maafkan bapak, Dir.” Rohim meratap.
“Jadi sia-sia tadi malam ayam-ayam itu aku gorok?”
Rohim tersentak kaget. Diro tak percaya apa yang baru keluar dari mulutnya.
Mereka cuma saling pandang.
***

Jumat, Oktober 18, 2013

LELAKI KARTU POS

Cerpen ini dimuat di harian Koran Tempo, Minggu, 13 Oktober 2013


Aku tidak ingat pasti, kapan berkenalan dengannya. Mungkin setahun lalu, atau enam bulan silam, entah. Waktu terkadang sering memanjang dan memendek tanpa permisi. Saat itu, aku hanya duduk menikmati sandwich di sebuah bangku panjang. Siang itu, siang yang sama membosankannya. Bocah-bocah berlarian, dengan pekik-pekik girang, yang dengan cepat kuabaikan. Kupu-kupu melayang-layang, berpadu sempurna dengan aroma rumput basah bekas hujan dini hari. Dan dia datang, seperti meletup muncul begitu saja, di hadapanku, memintaku membeli selembar kartu posnya.
Awalnya aku mendongak, dengan sandwich masih tergenggam di tangan dan dahi berkerut. Reaksi paling wajar seorang wanita yang duduk sendiri dan dihampiri lelaki asing, tentu saja mendirikan tembok benteng setinggi-tinggi, setebal-setebal, sekokoh-kokohnya. Aku tidak suka bertemu dengan orang baru. Pernah dengar pepatah, setiap orang datang ke hidupmu dengan membawa koper masa lalunya. Siapa yang tahu apa isi orang ini. Mungkin berlembar-lembar foto kenangan, setoples kunang-kunang jelmaan kuku pacarnya yang sudah mati, atau rangkaian bola mata orang-orang yang pernah menyakitinya, diuntai menjadi sebentuk syal penghangat tubuh. Aku bergidik, tapi wajah di depanku tetap tenang menawariku membeli selembar kartu pos.
“Kartu pos ini saya lukis sendiri,” ujarnya.
“Kenapa tiba-tiba anda menawari saya kartu pos? Saya tidak mengenal anda,” jawabku ketus, berharap lelaki gila ini cepat pergi.
Dia malah duduk di sampingku. Senyumnya mengembang, seperti pelukan yang merentang. “Karena saya melukis kartu pos ini untuk anda.”
Tangannya terulur. Selembar kertas mengilap berukuran 12x23cm, menunggu tanganku menyambutnya. Dahiku makin berkerut. Apa maunya orang ini?
Dari ujung mataku, kulihat gambar yang diakunya dilukis untukku. Mungkin gambar rangkaian bunga, atau pemandangan pantai, atau semburat senja di bangunan tua yang artistik, seperti khas kartu pos pada umumnya. Napasku terhenti saat itu juga. Sebuah gambar, perempuan berkaus tanpa lengan dan celana pendek putih, meringkuk di sudut ruang, dengan jendela terkuak lebar dan tirai berkibar, disambar angin. Dia tertunduk dalam helai kelam rambutnya, seakan menyembunyikan rinai air mata yang menenggelamkan wajahnya.
Tanpa sadar tanganku terulur, menarik kartu pos itu darinya. Kuperhatikan gambar itu makin erat. Ada bilur-bilur biru di sekujur lengan dan kaki perempuan itu. Gurat-menggurat tak beraturan. Makin kulihat, makin nyata lebam di sekujur tubuhnya, makin nyaring isak tertahannya, makin gelap langit yang dibingkai jendela. Tanpa sadar, aku meraba lengan kiriku yang tertutup blus lengan panjang. Masih tersisa nyeri yang berdenyut-denyut di sana.
Pikiran cepat berkelebat. Semalam kekasihku pulang ke apartemen, dengan rambut kusut masai dan dasi menggantung selonggar mungkin. Tas, sepatu, kaus kaki, dan dasi berterbangan ke segala sisi, termasuk tamparannya. Sudah lama dia menggantikan ciuman dengan pukulan, terlalu sering, sampai akhirnya aku terbiasa.
Pekerjaannya hari ini tak sempurna. Dan dia menyalahkanku yang juga tak sempurna menghidupkan cintanya. Bahkan ketika dia mencumbuku, dengan pagutan setan, lebam-lebam mulai menghiasi tubuhku. Di ujung malam, dia mendengkur tanpa beban. Menyisakan aku yang meringkuk di bawah jendela yang terkuak lebar, dengan tirai berkibar di sambar angin. Persis kucing yang menjilati lukanya sendiri, kucoba obati nyeri dengan air mata.
“Kartu pos ini…, kenapa anda menggambar ini?” tanyaku menoleh ke lelaki itu.
Hanya desau angin yang menjawabku. Dia entah pergi ke mana, seakan tak pernah ada. Aku melemparkan pandangan ke sekeliling. Bahkan aku menangkap tangan seorang anak, dan kutanya apa dia melihat laki-laki yang menawariku kartu pos. Anak itu hanya menggeleng, setengah ketakutan.
Aku menarik napas. Kulihat lagi kartu pos itu. Hatiku mencelos. Aku bahkan belum bertanya siapa nama lelaki itu.
***
Kini setiap siang, aku selalu makan siang di bangku panjang itu. Sengaja aku mengunyah lamat-lamat, agar waktuku habis lebih lama, agar aku bisa bertemu dengan lelaki kartu pos ini. Namun, nihil. Dia tidak datang lagi. Semakin aku berharap bertemu dengannya, semakin lesap kenyataannya.
Di sebuah siang, saat baru saja kutandaskan sandwich terakhir, ibu mengirimiku pesan pendek. bapak operasi jantung hari ini, datanglah. Aku menghela napas. Jika pilihannya menjadi anak yang berbakti atau menuruti sakit hati, aku sungguh kehilangan arah.
Dan suara lembut itu kembali, nyaris membuatku terlonjak, menawariku kartu pos seperti kala itu. Kali ini pelan kutelisik penampilannya. Dia tampak sederhana dengan baju hangat hitam, jeans, dan sepatu pantofel. Kacamata retro membingkai wajahnya yang tegas, dengan rambut halus bekas bercukur. Aku tidak tahu seperti apa rambutnya karena topi pet kelabu menutupi kepala.
“Kali ini, apa yang anda gambar?” tanyaku ragu.
Dia tersenyum lagi. Lengkungnya mengingatkanku pada bulan sabit. Kuterima kartu pos itu dengan ragu. Hatiku berlompatan ke sana kemari, mencoba menebak apa yang tergambar di sana.
Kartu pos itu bergetar di tanganku. Mataku mengabur. Aku mengerjap beberapa kali, memastikan benar apa yang kulihat. Seorang ibu memeluk anak perempuannya yang sekuat tenaga memejamkan mata, sama-sama saling mendekap, saling mengumandangkan doa di dalam hati. Lelaki tegap mengayunkan lengan besar berbulu, seperti tukang kayu yang menetak bongkah-bongkah kayu bakar. Wajah-wajah yang tergambar di sana tak asing, seakan melompat dari tumpukan masa lalu yang berdebu.
Tanganku bergetar makin hebat. Air mataku berjatuhan, mencurah tanpa izin. Aku menoleh ke arahnya. Kali ini dia tidak menghilang. Dia tetap duduk tenang dengan mata tepat menembak ke arahku.
“Siapa anda? Kenapa anda melukis gambar ini dan menjualnya pada saya?”
Dia bergeming, seakan tahu bahwa aku punya jawabannya.
Dadaku makin sesak dengan kenangan masa kecil yang mendesak-desak. Bapak yang pemarah, yang matanya bergelimang merah, yang tangannya siap terulur menyambar apapun yang bisa meredakan badai di hatinya. Pipi ibu. Lengan ibu. Punggung ibu. Apapun yang ibu punya. Termasuk aku. Luka yang dibuat bapak di tubuh kami memang cepat sembuh, tapi tidak di batin kami.
Orang bilang sejarah berulang. Kini aku menjalani hidup ibuku bertahun-tahun lalu, yang pernah kukutuk dan kusumpahi tidak akan kujalani. Namun, cinta pertama anak perempuan adalah bapaknya, dan mereka bilang cinta pertama takkan mati. Kutemukan cinta pada lelaki serupa bapak, yang lebih mudah menjabarkan cinta di dalam luka-luka di tubuh yang dikasihinya. Itulah cinta yang kukenal sejak kecil, kusakralkan, dan kini diruntuhkan lelaki asing yang tiba-tiba muncul menawariku membeli kartu pos buatannya sendiri.
“Saya harus bayar berapa untuk kartu pos ini?” tanyaku menoleh. Seperti sebelumnya, seharusnya sudah bisa kutebak, dia tidak lagi di sana.
Lelaki macam apa yang meninggalkan perempuan menangis seorang diri?
Namun, perempuan macam apa aku ini, yang mencari kedamaian dalam selembar kartu pos?
***
Di sana aku mendapatinya, di atas ranjang yang seprainya setiap pagi kutata secantik mungkin agar dia bahagia, mencumbu perempuan lain, di balik selimut yang sama yang menutupi tubuh kami satu malam lalu. Kekasihku tergeragap, menyampirkan selimut ke tubuh molek di sisinya. Aku mematung, berusaha menemukan reaksi paling tepat. Marah. Histeris. Menjerit. Menangis. Namun, aku bergeming.
Di tanganku tersembul selembar kartu pos. Aku bahkan belum menggigit sandwich-ku saat lelaki kartu pos itu datang. Wajahnya selalu tenang saat dia menawariku kartu pos ketiga. Aku mulai mengira-ngira harus kubayar berapa untuk ini semua, tapi kesadaranku teralihkan saat melihat apa yang dia lukis di sana kali ini.
Kekasihku memagut perempuan lain. Di ranjang kami. Dibalut selimut kami. Dengan gairah yang lebih membakar, bahkan terlalu membara sampai-sampai bisa menyulut api di dadaku. Aku langsung bergegas menuju apartemen, tak memedulikan lelaki kartu pos yang duduk di sana, mungkin menanti beberapa lembar rupiah untuk ketiga kartu posnya yang kini kupunyai.
Dan benarlah. Apa yang digambarkan di kartu pos seakan menjelma di hadapanku. Ngeri merayapi tengkukku. Seharusnya aku merinding membayangkan gambar-gambar di kartu pos seorang lelaki misterius yang mendatangiku di taman saat makan siang. Setiap gambarnya begitu nyalang melukiskan diriku, seakan dia mengenal dan menyaksikan semuanya sendiri. Seharusnya aku ketakutan tiap dia datang mengulurkan kartu posnya, karena gambar yang dia lukis di sana adalah nyata yang coba kukubur. Mirip bangkai. Bukankah mengerikan, bila ternyata ada orang asing yang lebih mengenalmu, ketimbang dirimu sendiri?
Tapi aku malah berdiri, menantang kekasihku yang tubuhnya dua kali lebih besar dariku. Badanku mengeriput takut, seakan hafal kebiasaannya, tanpa perlu kuperintah. Semua jejak memar, bekas luka, telah terpindai dan terekam sempurna. Namun, aku bergeming. Membiarkan dia menarik tubuhku, mencengkeramku, melemparkanku ke segala arah. Sakit mulai merambat ke sepenjuru tubuh. Namun, itu semua seakan tak bisa membalut nyeri di hati sendiri. Ini nyeri paling purna, membuat empunya mati rasa.
Di kepalaku melayang-layang banyak pertanyaan.
Kenapa aku?
Kenapa seperti ini hidupku?
Kenapa aku mencintai dengan cara ini?
Siapa lelaki kartu pos itu?
Apa maksud gambar-gambar di kartu pos yang dia bawa padaku?
Sepasang mata tenang lelaki kartu pos itu, bening mirip permukaan danau yang entah menyimpan apa, memenuhi benakku yang kosong. Awalnya satu, lalu jadi dua. Dari dua berlipat empat. Makin lama, makin cepat beranak pinak, memenuhi kepala. Ketenangan itu, kedamaian di matanya, bisakah aku memilikinya?
Tanganku terulur, bahkan sebelum otakku memerintahkan. Yang pertama kuraih, adalah pajangan porselen sebesar bayi, yang dibawa kekasihku sepulang perjalanan dinasnya dari Cina. Benda pertama yang dia bawa saat dia pindah ke apartemenku, bertahun-tahun lalu. Saat cinta masih berupa tunas, yang kutanam bersama harapan-harapan. Betapa miris, melihat bagaimana kami dulu saling mencintai, dan kini saling menyakiti.
Selanjutnya yang kuingat, hanya suara-suara yang saling bertindihan. Derak benda pecak. Erangan yang memenuhi udara. Pekikan yang membelah hening. Debam tubuh tersungkur di lantai. Serta tarikan napas lega, di dalam dadaku sendiri, untuk pertama kalinya.
***
Sebuah lampu sorot tergantung, mengayun-ayun, berusaha sekuat tenaga memendarkan cahayanya yang lemah ke penjuru ruang remang ini. Entah sudah berapa lama aku duduk di sini. Juntai rambutku mulai terasa kering. Ujung-ujungnya mencuat di sana-sini. Ujung-ujung jariku mulai membeku. Kuraba dadaku sendiri. Ah, ternyata masih ada detaknya. Artinya aku masih hidup. Namun, hidup seperti apa yang aku jalani? Apakah aku akan kembali membuat keputusan-keputusan yang salah, yang menenggelamkan diri dalam jalan yang salah, yang memaksaku tetap menjalani, karena kukira itulah yang Tuhan ingin aku jalani sebagai hukuman?
Pintu di depanku terbuka. Seorang pria muncul, seakan dimuntahkan dari kegelapan. Sejenak kukira dia lelaki kartu pos yang menawariku kartu pos keempat. Ternyata bukan. Hanya lelaki asing, dengan kumis dan cambang rimbun melintangi wajah, dalam seragam apak berwarna cokelat tua.
“Bisa anda jelaskan kejadian siang itu, bersama kekasih anda?”
Berapa harga yang harus kubayar untuk tiga kartu pos, yang gambarnya dia lukis dengan tangannya sendiri itu?
“Dengan pecahan beling terbesar, anda menikam…,”
Namun, pelan-pelan kuingat, wajah lelaki kartu pos itu tidaklah seasing yang kubayangkan.
“Anda mendengarkan pertanyaan saya?”
Kutatap bayanganku sendiri, di cermin salah satu sisi ruangan. Buram memang, tapi sepasang mata tenang itu mendadak kudapati di sana. Lelaki kartu posku. Senyumku pelan mengembang.
“Aku ingin mengirim kartu pos,” ujarku dengan senyum merentang, persis pelukan. “Kartu pos yang kulukis sendiri.”
Pria di depanku mengernyitkan dahi tak mengerti. “Mau anda kirim untuk siapa?”
Kini aku tahu, bagaimana harus kubayar ketiga kartu pos itu. Seperti ada tangan-tangan tak kasat mata melukis di benakku. Gambar-gambar bertumpukan, warna-warna melintang pukang, kusut tapi indah. Aku memejamkan mata, dengan satu tarikan napas, aku membukanya kembali. Tatapan mataku yang tersembul di pantulan cermin, ah, seharusnya aku tahu kenapa lelaki kartu posku itu tidak lagi terasa asing.
“Untuk siapa saja. Apa anda ingin membeli kartu posku?” tanyaku, dengan kilat mata tenang, persis permukaan danau yang entah menyembunyikan apa di dalamnya.
***
GM, 5 Juli 2013

Senin, Juli 22, 2013

Tentang Rahasia pada Hujan

Tak ada derak di atas langit, tapi ia sedang berkaca-kaca.
Sebentar lagi ada yang bertabuhan di wajah bumi. 
Menggenang mengambangkan kenangan.
Seorang gadis memintas gegas
Gerimis kecil ialah tangis langit yang hendak ia hindarkan.
Karena lirisnya selalu cepat temukan celah; 
menyelinap menyusup ke lubang-lubang di dada, belum sembuh benar. 
Mungkin tidak akan.


Harap barangkali sudah larap, api sudah sulit menyala. 
Mulut mungilnya berceracap yang entah apa artinya.
Mungkin dia perlu berdoa; 
Siapa tahu dia mestinya meminta; 
Hujan kali ini bukanlah air seperti biasa, 
melainkan bara yang meletupkan apa yang nyaris padam

Bertelimpuh ia, nyatanya mantera dan doa sudah tak ada guna; 
kepada belati di tangan kanan ia berkata-kata.
Mungkin jika darahnya lesap, napasnya kering, matanya meredup
Lukanya urung berdenyut-denyut.


Mati katanya, satu-satunya cara mendamaikan sempurnanya kecemasan. 
Tuhan merunduk, iblis tersenyum. 
Ia mulai meragu, kepada siapa kesetiaan akan ia berikan.


Setianya dititipkan pada semesta. 
Biar pohon menceritakannya pada angin yang membisikkan pada laut yang membasahi hati-hati yang berani;
Menjatuhkan diri pada cinta.

Ditulis bergantian oleh Diki Umbara dan Anggun Prameswari
Minggu, 21 Juli 2013

Kumcer ke-9, KEJUTAN TERBAIK SEBELUM RAMADHAN

Menyambung posting sebelumnya, di bulan Juli, aku juga ikut bergabung di #ProyekMenulis yang diadakan self-publishing company, @nulisbuku. Aku lupa tanggal pastinya, yang jelas, mereka menggelar proyek menulis yang bertema kejutan sebelum lebaran. Nah, akhirnya aku memilah dan memilih draf cerpen di folder, dan ketemu cerpen "Mengecup Engkau".

Cerpen ini sebenarnya cerpen lama. Kutulis saat aku masih sering menulis untuk @jejakubikel, sebuah wahana pelatihan menulis yang digawangi tiga momod unyu, Daniel Prasatyo (@daprast), Rendra Jakadilaga (therendra), dan Pramoe Aga (@PramoeAga). Waktu itu mereka melempar tema cinta beda agama, dan aku masih ingat, entah Mas Ren atau Mas Dan bilang, tulislah sesuatu yang berbeda.

Akhirnya aku teringat curhatan temanku. Seorang bapak berputri dua, yang setiap hari selalu bercerita tentang putri-putrinya yang menggemaskan. Aku selalu mudah terpesona dengan chemistry ayah dan anak perempuannya. Buatku, bapak yang sayang banget sama anaknya, terlebih anak perempuan, level kegantengan dan kekerenannya naik 100% ahahaha,... Di antara cerita-ceritanya, aku menemukan fakta bahwa temanku ini pernah hijrah dari Islam ke Katholik. Dari semua fakta ceritanya itu, tiba-tiba melesat sebuah plot di kepala. Akhirnya kutuliskan, dengan twist plot yang berbeda dari cerita aslinya, agar tidak kentara banget kalau itu modalnya sekadar sebuah curhatan hehe..., Dan jadilah cerpen "Mengecup Engkau".


Setelah melewati proses penyuntingan pribadi, untuk memastikan ini itu, termasuk kesesuaian tema yang diminta @nulisbuku, kukirimkan ke #ProyekMenulis itu. Dan nggak disangka, cerpen "Mengecup Engkau" ini jadi juara satu #ProyekMenulis Kejutan Sebelum Ramadhan di @nulisbuku, menyisihkan ratusan cerpen lainnya, woohoo...!

Jadi, kalau kalian penasaran seperti apa cerpen "Mengecup Engkau" ini, yuk segera meluncur ke web www.nulisbuku.com dan order langsung. Nah, sebelum order, silakan baca kutipannya dulu...,

Tiara, Tiara, kau adalah mutiara perhiasanku paling berharga.
Setiap kali kuingat kalimat itu, aku merasa hatiku remuk pelan-pelan. Begitulah kau selalu memanggilku. Tiara. Kependekan dari namaku, Mutiara. Entah sejak kapan, yang kuyakin sejak lama, kau selalu menganggapku perhiasanmu paling berharga. Mungkin sejak pertama kali kau menatap mataku. Kau dulu pernah bercerita bagaimana kau jatuh cinta padaku pada pandangan pertama. Saat itu, aku belum tahu apa-apa tentang cinta. Namun, dari binar matamu, aku belajar bahwa cinta adalah bagaimana membuat yang kita cintai merasa berharga.

SELAMAT MEMBACA!