Minggu, Desember 09, 2012

Berlian di Hati Tejo


Anak perempuanlah yang bisa melembutkan hati seorang bapak.
Tejo teringat kalimat Dinda. Istrinya waktu itu pasti kecewa. Ia tak mendampinginya melahirkan di klinik bidan seberang kompleks kawasan industri. Ia meringkuk semalam di kantor polisi akibat berkelahi dengan atasan. Andai Dinda tahu, betapa Tejo merindukannya. Dinda selalu bisa melembutkan hatinya yang keras. Saat Dinda menyerah di ranjang rumah sakit karena demam berdarah, ia menitipkan Berlian, putri semata wayang mereka, untuk meneruskan tugasnya melembutkan hati Tejo.
Semburat jingga menyebar di penjuru langit. Tejo sesekali berjalan miring dan mengucap permisi agar tak menabrak orang saat melewati selasar sempit menuju kontrakan. Samar tercium bau deterjen dari rentetan cucian yang digantung sejajar pintu-pintu petakan.
Kontrakannya hanya empat kali enam meter. Ruang tamunya hanya diisi televisi mungil dan tiga bingkai berdebu yang tergantung layu. Senyum manis Dinda menyambutnya di balik kaca bingkai itu. Persis di balik ruang tamu, ada kamar berisi ranjang susun, yang terbawah untuknya, yang teratas untuk Berlian. Di samping ranjang, ada lemari kayu lapuk dan meja belajar usang.
“Ada teman-teman ayah mampir. Tolong bikin kopi ya?”
“Iya, tapi listriknya mati. Aku belum isi bak di kamar mandi.”
Tejo menghela napas. Sebulan lalu, petugas PLN memergoki banyak yang mencuri listrik di sekitar sini. Sejak itu listrik kadang menyala, lebih sering tidak. Pak Sunu, induk semangnya, malah didenda enam juta karena ketahuan mencuri juga. Diliriknya buku-buku di meja belajar Berlian. Kasihan Berlian kalau mengerjakan PR hanya ditemani lilin.
“Gampang, mandinya nanti saja.” ujar Tejo kembali ke ruang tamu. Bang Hendi, Mas Pram, dan Gimin sudah selonjor santai di sana.
“Rosyid sudah keterlaluan.” Gimin menimpali. “Kita harus bertindak!”
“Jadi apa rencanamu, Jo?“ tanya Bang Hendi menyulut rokok.
“Mestinya diskusi dulu dengan serikat pekerja. Semua ada prosedurnya, jangan sembarangan.” Mas Pram berusaha menengahi.
“SP dikendalikan Rosyid. Persis boneka. Nggak ada yang belain kita,” ujar Tejo.
“Mas Pram tahu sendiri banyak tunjangan disunat. Waktu istri Romi di-caesar, cuma dapat ganti lima ratus ribu. Padahal sesuai aturan perusahaan, Romi bisa dapat penggantian enam juta. Banyak juga kasus tunjangan keluarga ditilep,” ujar Gimin.
“Kalau waktu itu Rosyid nggak ngaku-ngaku, aku yang dapat bonus itu. Aku bisa belikan Berlian sepatu dan baju baru,” sergah Tejo teringat insidennya saat membuat efisiensi sistem produksi dari output 50.000 unit rangka lampu motor menjadi 80.000. Untuk diajukan ke bos besar, ia butuh tanda tangan Rosyid sebagai manager utama. Ia taruh konsep itu di meja Rosyid. Tak lama, Rosyidlah yang diberi bonus uang berkat rancangan efisiensi yang persis rancangan Tejo. Tejo naik pitam. Adu mulut tak terhindarkan. Wajah Rosyid pias saat tinju Tejo hampir mendarat di pipinya. Untung saja ia dihalangi buruh lainnya.
 “Kalau kamu dipecat, apa Berlian masih bisa sekolah?” sela Mas Pram.
Tejo terdiam. Anak perempuanlah yang bisa melembutkan hati seorang bapak.
“Om-om, silakan kopinya,” Berlian membawa empat cangkir kopi. Tejo menatap mata bening Berlian, lalu beralih menatap isi cangkir. Kopi hitam pekat itu bergerak memutar karena sisa adukan. Seperti itukah masa depan Berlian? Hitam dan berputar-putar mengulang pahit yang dicecap orang tuanya?
“Kita harus demo. Kumpulkan bukti-bukti, termasuk dari anak training yang sering dimintai uang supaya jadi karyawan tetap,” Gimin membuyarkan lamunan Tejo.  “Slip-slip gaji bermasalah difotokopi. Bikin petisi minta Rosyid mundur dan rencana lapangannya. Hati-hati, jangan bocor ke Sarno si penjilat!”
“Jo, konsekuensinya berat. Kamu bisa dipecat karena jadi korlap. Tahu sendiri Rosyid sentimen sama kamu. Salah gerak, kamu bisa out,” Mas Pram mengingatkan.
“Mas mau gaji kita cuma UMR tapi beban kerja tinggi. Lembur tanpa uang lembur. Mati pelan-pelan namanya,” bantah Tejo, “Walau cuma kuli pabrik, kita bukan kuli goblok yang bisa dikendalikan seenaknya.”
“Oke, kamu bikin konsepnya, kita yang jalankan. Kita serahkan semuanya sama kamu,” ujar Bang Hendi.
Ada kilat semangat di mata Tejo saat menatap mereka. Sepuluh sampai dua belas jam digerus kerja fisik tiap hari membuat mereka lebih tua dari usia sebenarnya. Kelelahan memakan habis harapan mereka. Hanya ia yang bisa mengubah keadaan.
“Ayah, lampunya sudah nyala!” teriak Berlian girang dari dalam kamar.
***

Anak perempuanlah yang bisa melembutkan hati seorang bapak.
Kalimat itu mampu melirihkan gumaman teman-temannya yang bergerombol di depan pabrik. Hampir saja megaphone di tangannya jatuh ke tanah. Ia seperti melayang ke awan yang mendesak-desak langit, seperti kerumunan yang kini mendesak-desaknya. Mereka membawa spanduk dan karton bertuliskan provokasi pemecatan Rosyid.
“Jo, belum telat untuk berdiplomasi. Banyak yang dipertaruhkan,“ ujar Mas Pram.
Tejo tak mengangguk atau menggeleng. Ia hanya ingat wajah Berlian saat menyodorkan surat dari sekolah. Surat itu meminta Tejo menemui kepala sekolah untuk membahas kemajuan pendidikan Berlian tanpa jelas apa masalahnya. Baru Tejo akan bertanya, Berlian telanjur tertunduk. Ia jadi tak tega. Apa nilai Berlian merosot karena lampu di kontrakan terlalu sering mati? Apa karena bayaran sekolahnya yang sudah telat dua bulan?
“Hari ini ayah nggak bisa. Ada demo di pabrik. Bilang sama kepala sekolah, ayah datang besok pagi. Gimana?”
“Janji ya Yah?”
“Jo!” ujar Mas Pram.Lamunannya terbang ditiup angin.Tangannya terkepal kuat.
“Iya, Mas. Ini buat kita-kita juga kan. Buat anak saya. Buat anak-anak Mas Pram juga,” jawabnya gemetar seakan mempertanyakan keyakinannya sendiri.
Anak perempuanlah yang bisa melembutkan hati seorang bapak.
Tejo menaiki undakan untuk berorasi. Megaphone di tangannya kini mengacung di udara. Kata-katanya meluncur menyirami semangat kawan-kawan seperjuangan. Spanduk dan karton teracung tinggi, tak peduli matahari memanggang ubun-ubun mereka. Dari posisi yang lebih tinggi, Tejo mendongak menjawab bisikan istrinya ke arah langit. Dinda, mungkin seorang bapak harus keras hatinya demi masa depan putrinya.
Gerombolan buruh berubah menjadi ombak panas yang menghantam kokohnya gerbang pabrik. Semuanya mulai tak terkendali. Di kejauhan sirine truk polisi memuntahkan belasan petugas. Ketika seragam cokelat susu buruh berbaur dengan seragam coklat polisi, Tejo tak sanggup lagi membedakan wajah dan suara. Semuanya berteriak. Benda-benda beterbangan. Spanduk dan karton melayang. Ada batu terpental membentur perisai polisi. Entah siapa yang melempar. Tejo menjatuhkan megaphone-nya dan berusaha memisahkan pergulatan di depannya.
Kerah bajunya ditarik. Tak lama, ia didorong kuat dari belakang sampai terjerembab dan dagunya terparut aspal. Sebuah laras hitam tak henti menumbuknya. Lengan kiri. Punggung atas. Pinggang. Betis. Lalu lengannya lagi. Warna hitam pentungan itu tiba-tiba ikut melunturi warna-warna di sekelilingnya.
 Hanya suara Janji ya Yah?” terngiang di telinga. Suara itu memudar seiring ditelan pandangan hitam pekat.
***
Berlian bangkit dari tempat tidurnya. Ia tak bisa tidur semalaman. Ranjang Ayah masih rapi tanpa ada kerut bekas ditiduri. Sepatu kerja ayah yang biasa ditaruh di balik pintu juga tidak ada. Ayah belum pulang.
Hari ini ayah janji akan ke sekolah bersamanya. Sengaja ia tak bercerita bagaimana dirinya lolos ujian seleksi beasiswa sebuah bank swasta. Ia ingin membuat kejutan untuk ayah. Ia ingin melihat wajah bangga ayah karena tak perlu lagi membayar uang sekolah dan buku sampai lulus SD berkat beasiswa itu. 
Berlian melongok ke arah gang kecil di depan kontrakan. Ia ingin sekali meminta ayahnya untuk tidak berdemo di pabrik. Tapi wajah ayah begitu keras, sekeras niatnya. Mana berani ia membujuk ayah. Melunakkan hati ayah yang keras? Mana mungkin ia bisa. Ditemani ujung rok merahnya yang mulai pudar, Berlian hanya bisa duduk di pintu menunggu ayahnya pulang sambil ditemani suara detik jam yang terasa makin lambat.
***
 Tangerang, 17 April 2008
Pemenang 1 Lomba Cerpen Ummi. Muat edisi November 2012

2 komentar:

Anonim mengatakan...

waaahhh akhirnya ada yang baruuuu

perahukayu mengatakan...


Oh ini tho cerpen yang katanya realis banget. Bener kok realis hehehe

Aku suka dengan ekspos dua makna yang bertolak belakang: seorang putri melembutkan hati seorang ayah dan kerasnya hati seorang ayah demi putrinya.

Deskripsi suasana demonya juga ciamik.

Satu yang mengganggu: "semburat jingga.."
Ahhh ini gaya cerpen 90-an banget. Terlalu sering dipakai! Hehehe

Tapi, gak heranlah cerpen ini juara..