Selasa, Maret 01, 2011
my #MarchWish
Aku merindukan Maret karena Februari membuatku sesak
Dengan aroma cinta dan rindu yang menggelegak
Jadi kali ini akan kukatakan TIDAK
Pada setiap kenangan yang datang mendesak-desak
meminta ruang untuk tinggalkan sisa kerak
Jadi kutuliskan satu keinginan hati
Bulan Maret berdenyut tiga puluh satu kali
Dan setiap denyutnya, kuingin ada satu kisah bernyanyi
Sebagian pecahan mimpi, sisanya patahan hati
my #MarchWish is to write 31 short stories in 31 days
Yes, I'm completely sober when I wrote this.
Senin, Februari 28, 2011
Kisah Bunga Matahari
Bunga matahari jatuh cinta pada sang mentari
Tapi sang mentari memutuskan berhenti
Menyinari bunga matahari lagi
Karena tugasnya itu untuk seluruh penghuni bumi
Bukan cuma bunga matahari sendiri
Tapi bunga matahari diam-diam masih menanti
Sang mentari sudi untuk sekali lagi
Tersenyum menghangatkan hati
Yang sekarat hampir mati
Sebenarnya bunga matahari lelah bermimpi
Menanti senyum hangat yang tak kunjung kembali
Hanya saja bunga matahari tak bisa berhenti
Karena cuma ada satu mentari di dunia ini
Maka tiap titik hujan berjatuhan di bumi
Dan di balik awan, sang mentari bersembunyi
Bunga matahari mulai bernyanyi
Rangkaian lagu rindu untuk sang mentari
Agar mau kembali untuk menerangi bumi
Dan begitulah bunga matahari tetap hidup
Dengan rindu yang terus meletup-letup
Karena sang mentari pun takkan meredup
Sinarnya selalu cukup
Untuk semua makhluk bumi, yang bernafas dan yang berdegup
Termasuk bunga matahari yang telanjur basah kuyup
Oleh kenangan yang tak kunjung menguncup
Kamis, Februari 17, 2011
cuplikan cerpen baru "Barbie"
cuplikan cerpen "Barbie" :
Dia selalu memanggilku Barbie. Katanya aku secantik boneka barbie dengan tubuh tinggi semampai dan rambut yang sengaja kuwarnai kemerahan. Panggilan itu tercetus saat dia menanyakan padaku, kado apa yang cocok diberikan untuk ulang tahun puterinya yang keenam. Aku mengusulkan belikan saja boneka barbie dan sejak itu dia memanggilku Barbie. Akhirnya dia membelikan putri bungsu kesayangannya sebuah boneka Barbie lengkap dengan rumah-rumahan dengan beberapa set pakaian yang cantik. Semua dipilihnya sendiri satu demi satu dengan penuh perhatian.
Aku bilang aku iri karena dia begitu menyayangi putrinya. Aku juga bilang betapa beruntungnya gadis kecil itu bisa memiliki ayah seperti dirinya. Andai saja aku ada di posisi si gadis kecil itu.
Dan dia seperti tahu apa yang ada di pikiranku.
Dia hanya menjawab.
Keluarga itu seperti sebuah rumah yang indah. Rumah cantik dengan beranda yang hangat dan ruang keluarga yang ditata sangat rapi. Kau tidak bisa begitu saja datang dan mengaku sebagai pemiliknya. Kalau kau ingin memiliki rumah cantik itu, kau harus membangunnya sendiri. Menyusun bata satu demi satu, mengecatnya satu pulas demi satu pulas, menata sendiri perabotanmu. Barulah kau bisa puas dan bahagia.
Aku paham maksud jawabannya.
Pahit memang, tapi aku tetap mencintainya.
-----------------------------------------------------------------------------------cerpen baru "Fitri Benci Idul Fitri"
Berikut ini paragraf pembuka di cerpen "Fitri Benci Idul Fitri":
Fitri benci Idul Fitri. Sudah sejak lama dia membencinya. Padahal semua orang muslim menanti hari raya Idul Fitri karena mereka semua mempercayai itulah hari kemenangan melawan hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa. Bukan itu masalahnya. Bukan masalah akidahnya yang membuat Fitri sangat membenci hari raya lebaran. Tapi tradisinya. Ya, tradisinya yang serba baru itulah yang membuat Fitri membenci Idul Fitri.
Semoga hari ini bisa selesai.
*siapkan kacamata kuda, sumpal telinga, jajanan ringan, dan kopi hangat*

