Rabu, Februari 18, 2015

Kota Janji


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari  
#TiketBaliGratis.


oleh: Anggun Prameswari





Tersebutlah sebuah kota; Kota Janji. Di sana, takkan kautemukan bangunan-bangunan menjulang mencakar langit. Atau jalan-jalan beton melintang pukang. Di Kota Janji, yang bisa kautemui hanyalah harapan-harapan yang bertumbuhan, mekar, mengayun-ayun ditiup angin. Harapan yang lahir dari percintaan janji dengan waktu. Dan di sanalah aku memutuskan, di Kota Janji, kita akan bertemu.
Keningmu berkerut saat tahu kita akan melepas rindu di Kota Janji, yang seperti namanya, akan menjanjikan harapan-harapan yang mengembang wangi, persis adonan roti di tungku bakar.
“Di Kota Janji selalu senja sepanjang hari. Langitnya merah. Semburatnya kuning, kadang ungu atau jingga. Di Kota Janji, kita menanam harapan supaya nanti bisa kupetik,” ujarku malu-malu, menyelipkan rambut ke belakang telinga.
“Apa harapanmu?” Lengan kami bersinggungan. Kulitnya berkilat cokelat madu.
“Kamu.”
Dalam debar yang bertubi-tubi, kubiarkan angin menerbangkan rambutku menutupi wajah. Jarimu menyibak, merapikannya kembali. Napas hangat menyapu pipiku. Kini aku tahu, kulitmu lebih mirip dingin embun di tanah bekas hujan. Lembap menelusup bibirku, menggetarkan pundakku.
Aku terpejam. Lirih kutangkap suaramu, “maka tanamlah harapan itu, di Kota Janji.”
Tepat saat kubuka mata, kau hanya berkata, “Aku harus pergi.”
“Kapan kembali?”
Kau tak menjawab.
“Kalau begitu, biar aku menanam harapan,” ujarku tersenyum. “Nanti kita sama-sama petik saat bertemu.”
Kupejamkan mata. Bibirmu mengecupku sekali lagi. Lebih lama, seakan berpesan, bahwa perpisahan ini tak lebih lama dari sebuah ciuman.
***
Di Kota Janji, kutanam harapan. Kini bibitnya menyeruak, tumbuh meliar, menjalarkan tunas-tunas menjadi kembang.
Kukenakan gaun terbaikku. Sebuah gaun bertali spaghetti, berbahan brokat putih, yang kecil di pinggang, berlipit mengembang di bawah.
“Aku pasti datang, tapi tidak sekarang. Aku sedang bersamanya,”
“Tapi kau selalu bersamanya.”
“Karena dia terlalu mencintaiku.”
“Menurutmu, aku tidak cukup mencintaimu, sehingga hanya bisa menunggu?”
Kurasakan lembar kelopak harapan yang kutanam berguguran.
“Cintamu tak pernah kurang,” katamu. “Kadang cinta saja tidak cukup.”
“Cintaku cukup,” ujarku. “Kau yang selalu merasa kurang.”
***
Kau adalah harapan yang kutanam di Kota Janji. Namun, di Kota Janji tak selalu senja sepanjang hari. Ada kalanya akan turun malam-malam yang gelap. Saat harapan yang ditanam berguguran, maka malam akan datang. Langit akan terlalu pekat untuk ditembus cahaya. Bukankah seperti itulah hidup, gelap bila harapan ternyata padam, pekat tak ternoda?
Aku tahu betul, di Kota Janji, pantang menangis. Bila ada air mata yang tumpah, artinya ada harapan yang telah patah. Tapi aku telanjur menangis. Di bulirnya, tersimpan rindu yang lama kutabung, untuk suatu hari kuhamburkan di pelukmu.
Malam turun makin cepat. Kelamnya mengganti merah senja. Aku memeluk diri sendiri yang menggigil kesepian. Kulihat harapan yang pernah kutanam, perlahan menguncup, layu, merunduk menyambut malam.
Kelak, aku akan datang ke Kota Janji, bisikmu diantarkan angin.
Kapan?
Kau membisu. Air mataku meluncur lagi ke pucuk rerumputan yang menyapu telapak kakiku. Kujumput sisa harapan. Kutanam sekali lagi. Seperti hukum di Kota Janji, saat harapan kembali ditanam, maka hari kembali senja. Di langit muncul warna jingga seperti titik noda, meluas, hingga senja datang sepenuhnya.
Maka kau tetap kutunggu di Kota Janji, kembali kutangkupkan tangan di atas paha. Kuatur gaunku hingga menutupi dudukan bangku panjang. Kubiarkan kakiku mengayun tak terbalut apapun. Aku terus menunggumu di Kota Janji, yang selalu senja sepanjang hari.
***

Tidak ada komentar: