Rabu, Februari 18, 2015

Berjanji Seribu Tahun





Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari  
#TiketBaliGratis.

oleh: Anggun Prameswari 
 

Tak ada yang tahu bahwa di Kota Janji, menjulang sebuah patung perempuan. Jika kau pendatang seperti diriku, maka tentu kau takkan tahu apa sejarah patung itu. Namun, kalau kakek buyut dari kakekmu sempat menurunkan cerita, turun-temurun tak kurang suatu apapun, maka kau akan tahu bahwa patung itu jelmaan seorang perempuan yang menunggu kekasihnya.
“Berapa lama?”
“Jari siapa yang bisa menghitung?”
“Cari saja angka yang mudah.”
“Seribu tahun.”
“Kenapa seribu? Buka sejuta?”
“Kenapa pula bukan seratus?”
“Ah siapa yang peduli? Intinya, ada perempuan yang jadi batu, dikutuk perasaan merananya sendiri .”
“Apa kutukan itu bisa dihilangkan?”
“Tentu. Tidak ada kutukan yang abadi.”
“Caranya?”
Orang-orang yang bergumam itu saling berpandangan. Mereka saling melemparkan sorot mata, sebagian tak tahu, sisanya entah bermakna apa.
Aku yang mematung, menyapukan tangan ke permukaan batu itu. Tingginya hanya beda dua senti, dengan lumut nyaris melumuri setiap jengkal  permukaannya. Tiap kusentuh, makin lekat di telapakku, makin erat pula perasaan aneh yang menyelimutiku.
Ada lubang besar yang menganga, yang tak tersentuh kedalamannya, mendadak muncul di hatiku. Begitu tanganku tak lagi menyentuh permukaan batu itu, perasaan itu cepat  menguap. Namun, sekejap kembali begitu aku menyentuhnya.
Maka, aku menekankan telapak tanganku, membiarkan dinginnya memboboti kulit, menarikku lebih dalam. Kesedihan begitu mudah menarik hati siapapun yang tengah berduka.
Sejak itu, setiap hari aku datang ke batu itu. Awalnya hanya untuk makan siang. Lama kelamaan, aku makan tiga kali—sarapan, makan siang, dan makan malam—di samping batu itu. Aku sering menawarinya macam-macam. Kadang bubur ayam, kue lapis, roti isi, atau susu coklat. Kuharap makanan bisa membantunya kembali bahagia. Siapa tahu, setelah bahagia, batu itu kembali menjelma menjadi perempuan yang dulu pernah menunggu kekasihnya di Kota Janji. Sayangnya, batu itu bergeming, tetap membatu.
“Kau lihat perempuan itu?”
“Iya, aneh. Setiap hari mengunjungi batu.”
“Penyembah berhala?”
“Ah, dia sekedar perempuan patah hati lainnya, senasib dengan legenda si batu.”
Aku diam saja, berusaha abai. Tak ada yang memahamiku. Memahami betapa besarnya perasaan cinta yang harus kupendam selama seribu tahun. Hanya batu berlekuk tubuh perempuan inilah yang mengerti.
Maka, kami makin akrab. Makin tak terpisahkan. Aku tidur di sana. Membaca, mengudap, melamun, bahkan memeluknya minimal tiga kali sehari. Berbagi kesedihan tidaklah dosa, bukan?
Sampai akhirnya dia menemuiku. Kekasih yang selama ini kutunggu. Yang matanya bulat purnama dengan kulit cokelat madu. Dia menjemputku, di Kota Janji yang berprasasti batu perempuan merana.
Tanpa sadar pipiku basah. Haru mengembangkan dadaku dengan harapan-harapan.
“Pa,” tanya gadis cilik itu lagi. “Batunya aneh. Bentuknya mirip manusia.”
“Iya, batunya ada sepasang. Dua-duanya perempuan.”
“Pa, lihat, yang di sebelah kiri wajahnya basah.”
“Mungkin kena hujan.”
“Mungkin menangis?”
“Mana ada batu perempuan menangis, Sayang?”
Lelaki itu menjauh membawa putrinya yang berpipi bakpao merah jambu. Meninggalkan sepasang patung batu perempuan, yang membatu karena merana. Dimakan rindu, digerus cinta. Hanya Tuhan yang tahu sudah berapa lama, mungkin seribu tahun lamanya.

Tidak ada komentar: