Sabtu, September 05, 2015

[Cerpen] - Haruan Baubar Uma


Dimuat di majalah Good Housekeeping edisi Agustus 2015 


 Jarang-jarang Ratih nampak gundah. Dua tahun lewat pernikahannya, tak sekalipun Akhmad, suaminya gagal melengkungkan senyum di wajah bulat telurnya. Namun, selalu ada satu hari dalam setahun, hatinya mengembang risau. Begitu pandai awalnya dia menyembunyikan cemarut itu dari raut wajah, sampai-sampai Akhmad tak menangkap gelagat apa-apa. Hari semakin dekat dengan masa yang ia cemaskan. Hari meninggalnya sang ibu mertua, karena di hari itulah, Akhmad mendadak manja tak keruan. Selalu minta dimasakkan Haruan Baubar1. Tak mau makan jika bukan itu menunya.
Ketika tiga tahun lalu, kali pertama Akhmad minta dimasakkan Haruan Baubar, Ratih mengernyitkan dahi. Kenapa bukan Soto Banjar yang jelas-jelas lebih terkenal sebagai makanan khas daerah suaminya? Sebagai perempuan Jawa, tentu Ratih tidak fasih dengan menu-menu itu. Dia masih ingat, tiga bulan pertama pernikahannya, Ratih memasakkan Soto Banjar nyaris tiap dua kali seminggu. Akhmad tertawa saat tahu alasannya, semata ingin menyenangkan hati suami di masa bulan madu. Lelaki jangkung kurus itu membelai rambut Ratih dan berbisik, masaklah apa saja, karena masakan penuh cinta selalu memuaskan selera. Mendengar itu, berjam-jam tak pudar pipi bulat Ratih memerah persis tomat buah, tersipu karenanya.
Kembali ke Haruan Baubar tadi, Akhmad tadinya enggan menjelaskan. Matanya dilemparkan ke sudut bertentangan dari tatap teduh Ratih. Namun, Ratih perempuan liat, giat mencari jawaban menuntaskan penasarannya. Akhmad akhirnya bercerita dan hati Ratih langsung tergerus saat menyimaknya.
Uma2, begitu Akhmad memanggil ibunya, dulu susah sekali hamil. Maka saat Akhmad lahir, sukacita itu tumpah ruah di dada uma dan memanjakan Akhmad tak kira-kira. Akhmad kecil susah makan, sama susahnya dengan rupiah yang tersemat di dompet uma. Sebagai buruh cuci, tak seberapalah uang yang bisa mereka genggam setiap bulan. Bapaknya sopir ekspedisi, lebih sering singgah lalu berangkat tugas kembali, sampai-sampai ingatan Akhmad tentang bapak melamur.
Mata Akhmad menerawang saat ceritanya henti sejenak. Ratih mengusap punggung suaminya. Akhmad pun melanjutkan, sembari menyemburkan bulat asap rokoknya ke sisi berlawanan wajah istrinya. Suatu hari, seperti biasa Akhmad kecil bertingkah tak mau makan. Tentu uma bingung tak kepalang, berusaha membujuk agar anak tunggalnya mau makan barang sesuap saja. Tak lama tercium aroma gurih iwak baubar3 dari jendela tetangga.
“Biar kutebak, kau minta ibumu memasak iwak baubar?” tanya Ratih dengan bola mata membulat.
“Aku bilanglah pada uma, masakkan Haruan Baubar, ulun4 janji akan habiskan dua piring lah.”
“Ah, ibumu pasti bersemangat.”
“Padahal waktu itu badan uma meriang karena sehari sebelumnya kelelahan membantu di pernikahan saudara.”
“Tapi ibumu tetap berangkat ke pasar?”
“Iya. Padahal hari hujan. Petir menyambar rasanya nyaris membakar ubun-ubun. Tapi tetaplah uma berangkat.”
“Lalu?”
“Aku yakin di kepala uma sudah merancang akan juga memasak Terong Baparung5 dan sambal acan6. Sepertinya aku di rumah juga membayangkan hal yang sama. Manalah aku tahu kalau ternyata uma tak pulang-pulang lagi.”
Ratih menghela napas. Ia tahu cerita selanjutnya. Tentang mertua perempuan yang tak pernah ia temui karena kecelakaan. Pick-up sayur penuh muatan tergelincir di jalan kampung yang licin, memelantingkan tubuh ibu Akhmad. Napasnya terpenggal tepat saat raganya mendarat di tanah becek. Ikan yang dibelinya ikut tergeletak di sana-sini, tak menemukan jalan tiba di piring Akhmad untuk disantap.
“Kalau aku tidak memaksa uma memasak Haruan Baubar, mungkinkah...,” Akhmad mematikan bara di batang rokok. “Sejak itu, di hari kematian uma, aku selalu mengingat cintanya dengan memakan Haruan Baubar.”
Mana bisa Ratih menolak memasakkannya menu itu, melihat duka yang melayang-layang di mata suaminya. Lagipula, apa susahnya sekadar memasak ikan bakar. Jika menu serumit Soto Banjar saja ia menuai pujian, tentu Haruan Baubar bukanlah masalah besar.
***
Ratih salah. Ada hal-hal yang luput dari perhitungannya. Memang mudah sekadar memanggang ikan dan menghidangkannya di atas meja. Yang sukar justru memuaskan dahaga Akhmad akan kenangan ibunya.
Tahun pertama Ratih memasakkan Haruan Baubar, kalau tidak salah di bulan kelima pernikahan mereka, Akhmad nyaris dibuatnya muntah. Haruan yang cokelat kehitaman itu hanya disentuh suaminya secuil saja.
“Tidak enaklah,” begitu ujarnya.
Ratih mengernyitkan dahi, mengingat-ingat di bagian manakah ia salah meracik bumbunya. Bawang putih, asam, dan garam, cuma itu yang ia perlukan sebelum memanggang iwak tersebut. Ketika Ratih mencicipinya, dengan nasi mengepul hangat dan secolek sambal, rasanya tak ada yang aneh, walau tak bisa dibilang wah juga.
Seharian itu Akhmad tak mau menyuapkan apapun ke mulutnya. Hanya rokok dan air putih yang sudi ia kecap. Lelaki itu duduk di depan rumah. Matanya menatap ke langit, mungkin sedang meminta izin pada Tuhan, untuk diredakan gulana di dadanya. Atau sekadar menikmati rindu yang menggulung-gulung siap pecah di ujung mata. Namun, Akhmad pantang menangis. Baginya menangis pekerjaan perempuan. Lelaki cukup diam dan meredam kecamuknya bersama puntung-puntung tembakau yang bergelimpangan.
Tahun kedua, sesuai permintaan Akhmad, Ratih memasakkan Haruan Baubar lagi. Kali ini ia tak hendak main-main. Ia memilih iwak terbaik. Walau bumbu rendamnya sama, kali ini Ratih juga menyertakan cacapan asam7 sebagai pendamping menyantap Haruan Baubar.
Akhmad masih menggeleng, walau tak sampai mual seperti tahun lalu. Ratih tak sabar lalu bertanya tentang rasanya.
“Ada yang kurang,” jawab Akhmad.
“Apanya?”
“Entahlah. Tidak bisa kujelaskan.”
“Terlalu asin? Pahit karena terlalu gosong?” Ratih makin tak sabar. “Bilang padaku.”
“Sudahlah. Kenyang.”
Hanya dua suap yang bisa lelaki itu habiskan. Lagi-lagi ia menyendiri di beranda rumah. Merokok dan minum air putih, sampai larut sekali. Selepas tengah malam, barulah ia masuk ke rumah dan memeluk Ratih dari belakang. Pulas sekali tidurnya sampai-sampai subuh tiba, membuat Ratih terkunci di rengkuhannya. Seberapa dalam suaminya tenggelam dalam duka kehilangan ibunya, batin Ratih mengusap dahi Akhmad lalu mengecupnya beberapa kali. Lelaki itu menggeliat, sehingga Ratih bisa beranjak dari tempat tidur, menyambut azan dari arah seberang.
***
Maka tahun ini, Ratih benar-benar enggan. Ia tak mau memasakkan Haruan Baubar lagi. Semalam sebelum hari meninggal mertuanya itu, Ratih duduk tegak di depan suaminya. Nadanya dipertegas, seakan Akhmad harus tahu bahwa ia tak main-main.
“Kenapakah begitu?” tanya Akhmad dengan nada tak kalah tegas. Sejenak Ratih gentar. Namun, tangannya mengepal lebih kuat mempertegas niatnya.
“Aku memasakkanmu Haruan Baubar dua kali, dan dua-duanya tak kau makan. Mubazir. Setiap tahun, aku harus memberikannya ke tetangga kanan-kiri karena kau tak sudi menghabiskannya.”
“Rasanya kurang. Tidak seperti masakan uma.”
Ratih terdiam.
“Kalau uma yang masak, entah kenapa, rasanya nikmat sekali.”
“Tapi aku bukan ibumu. Aku istrimu. Tentu saja berbeda.” Ratih bangkit dari duduknya. Siapa yang tidak kesal diperbandingkan. Apa Akhmad tidak tahu, wanita itu pada dasarnya pencemburu. “Aku sudah berusaha memasak sebaik mungkin, seenak mungkin. Tapi kurasa juru masak selihai apapun takkan memuaskanmu, karena sebenarnya bukan perutmu yang lapar, tapi hatimu. Lapar akan rasa bersalahmu sendiri.”
Akhmad menatap lekat istrinya. Tak sekalipun Ratih pernah berkata keras sepanjang usia pernikahan mereka. 
“Ratih, semalam aku bermimpi. Uma datang membawa sepiring iwak baubar. Haruan Baubar, komplit dengan nasi, cacapan asam, terong baparung, dan sambal. Yang aneh, uma tidak mau menyuapiku seperti ketika aku kecil dulu. Uma cuma berdiri, tersenyum, lalu membalikkan badan membawa piringnya pergi,” Akhmad menatap kosong ke arah langit-langit. “Menurutmu, pertanda apakah itu?”
“Aku tidak tahu,” jawab Ratih setelah berpikir sejenak.
“Apa menurutmu uma masih marah padaku?”
“Kenapa kau selalu berpikir begitu? Sungguh, aku tidak tahu jawabannya. Yang pasti, aku tidak akan memasakkanmu Haruan baubar.”
Ia pun ikut bangkit. “Baiklah. Biar besok aku saja yang masak Haruan Baubar itu.”
Ratih tercenung mendengarnya. Dengan cepat, Akhmad berbalik badan meninggalkan rumah. Ratih belum sanggup menyurutkan kesal di dada, setengah melampiaskannya pada punggung Akhmad yang menjauh, “jangan lupa sekalian panggang juga hatimu yang penuh rasa bersalah itu.”
Tak ada yang tahu, bagaimana raut wajah suaminya selepas Ratih mengucapkan kalimat itu.
***
Kini ganti Ratih yang duduk gelisah di beranda rumah. Beberapa kali ia memanjangkan leher menatap ke ujung jalan, kalau-kalau sosok jangkung suaminya tertangkap mata. Akhmad pasti akan kerepotan membawa belanjaan di satu tangan dengan payung di tangan lainnya.
Sudah beberapa jam hujan tak putus-putus mencurah dari langit yang gelapnya bukan kepalang. Guntur dan kilat saling berkejaran, seakan berlomba mana yang lebih ampuh menciutkan hati manusia untuk keluar dari rumah.
Sejak pagi, Akhmad belum kembali. Ia pergi ke pasar selepas azan subuh. Sekarang lewat beberapa jam, Ratih masih sendiri di rumah. Sedari tadi ia menyesal, kenapa ia membiarkan suaminya pergi sendiri. Apakah Akhmad kehujanan? Ataukah tengah berteduh di pinggir jalan menanti langit kembali cerah, sebelum melanjutkan langkah menuju rumah? Atau jangan-jangan, persis seperti mertuanya bertahun-tahun silam, ada truk muatan sayur yang menghantam telak suaminya? Jantung Ratih nyaris ikut berhenti berdegup membayangkannya.
Tak seharusnya ia cemburu pada ibu mertuanya. Ia tak mengalami duka itu sebagaimana Akhmad menjalaninya. Di usia semuda itu, belum genap sepuluh tahun, Akhmad menyuburkan rasa bersalah di dada, merasa bahwa kepergian ibunya adalah murni salahnya.
Ratih mempererat genggaman di sisi tubuhnya. Tapi siapa juga yang rela diperbandingkan dengan mertua sendiri? Memang tidak ada yang mengalahkan cinta ibu dan anak. Namun, cinta suami dan istri tentulah beda bentuknya. Memintanya memasakkan haruan baubar persis sebagaimana cara ibunya dulu, rasanya Ratih sedang dituntut menjadi sosok yang bukan dirinya sendiri. Menjelma jadi ibu untuk lelakinya. Cemburu merambat naik melewati tengkuk Ratih, membuat kepalanya berdenyut-denyut.
Hujan menderas, tak menyisakan celah di antara rintiknya. Ratih membulatkan tekad. Ia harus menyusul Akhmad. Tak hendak ia dikubur rasa bersalah, persis yang membenamkan hati suaminya bertahun-tahun.
Ratih mengembangkan payung paling kuat dan lebar yang mereka punya, lalu membawa satu lagi, kalau-kalau Akhmad masih marah padanya dan tak mau berbagi payung. Setiap kakinya melangkah, ia mengucap doa, semoga Akhmad tengah berteduh tak kurang suatu apapun. Duh Gusti, Ratih tak sanggup membayangkan gambaran jahat yang tanpa permisi melintas. Akhmad tersungkur di tanah becek, dengan iwak haruan mengelilinginya. Persis ibunya dulu.
Rinai air mulai menipis saat Ratih meninggalkan jalan setapak kampung menuju jalan besar. Tak lama, ia nyaris terlonjak kegirangan saat melihat sosok jangkung berdiri merapatkan tubuh di sebuah pos jaga ronda yang atapnya mulai lapuk. Ratih berlari cepat menghampiri suaminya, yang menyambutnya dengan binar yang tak kalah gemilangnya.
“Kau kebasahan?” tanya Ratih.
Akhmad menggeleng. Bibirnya biru. Biru yang hampir sama bila Ratih hendak mengingat bayangan suaminya yang tumbang dihantam truk sayur.
“Ayo pulang. Cepat-cepatlah kita masak iwak itu.”
Ulun tidak beli iwak haruan,” ujar Akhmad tersenyum. “Sepanjang jalan, aku berpikir apa maksud mimpi uma. Mungkin uma menyuruhku berhenti makan iwak baubar dengan perasaan sedih seperti itu.”
“Lalu, hari ini mau masak apa?”
“Aku mendadak ingin menyantap soto banjar bikinanmu lah,” ujar Akhmad, “kurasa cuaca seperti ini memang lebih cocok menyantap makanan berkuah yang hangat.”
Ratih terperanjat lalu cepat-cepat melihat ke arah kantung di tangan suaminya. Segala bahan untuk memasak Soto Banjar ada di tentengan suaminya.
 “Tapi...,”
“Aku pernah bilangkah, Ratih,” ujar Akhmad setengah berbisik tepat di telinga istrinya, “soto banjar bikinanmu lebih enak dari yang dimasak uma?”
Begitulah Akhmad yang tak pernah gagal melengkungkan senyum di wajah bulat telur Ratih. Selepas itu, selama beberapa jam, sipu merah yang membulat di pipi wanita itu tak kunjung memudar.
***
Notes:
1 Haruan Baubar: ikan bakar, sejenis ikan gabus, khas Banjar yang dibakar (di-ubar) di atas bara api yang berasal dari tempurung kelapa.
2 uma : sebutan ibu untuk orang banjar hulu
3 iwak baubar : ikan bakar
4  ulun : aku, saya
5  Terong baparung: terong yang bakar di atas bara api dengan santan kelapa
6 Sambal Acan :  Sambal terasi
7 Cacapan asam : semacam side dish untuk menikmati iwak baubar

Tidak ada komentar: