Senin, Maret 05, 2007

Seminggu oh Seminggu...

Sudah ada satu minggu berjalan di semester baru. Semester ini mungkin akan lebih mencekik dari semester sebelumnya yang bikin senewen karena ada satu nilai yang belum keluar. Tapi aku yakin IP semester ini turun dari yang kemaren. Memang ada rasa sesak, tapi waktu itu pernah baca artikelnya Mas Ringgo Agus Rahman. Lupa sih detilnya, tapi kesan yang aku tampak bahwa being smart could be sad… Dosen-dosen pasti pada protes dengan kesimpulan ini. Mas Ringgo bilang ada bagusnya dia tidak terlalu smart jadi dia bisa merasa lebih bahagia karena IP-nya naik dari 2,1 jadi 2,2 tapi temannya ada yang stress berat karena IP-nya terjun lima poin dari angka 3,5… Padahal IP temennya itu masih berkisar di angka 3 walaupun berkoma nol, tapi mas Ringgo merasa lebih berbahagia walaupun IP-nya (cuma) 2,2. Ternyata adil itu bukan mitos, hanya perlu perenungan yang sedikit lebih intens. Jadi tiap kali aku merasa nilaiku terjun bebas, aku selalu mengingat analogi ini. Toh protesnya temanku yang tak mau disebut namanya ini selalu membuntuti proses mengingat analogi ini,… Target itu cambuk, kalau kepala kebanyakan lihat yang ada di bawah, maka kita lama-lama jadi orang-orang kelas “bawah”,... Walah, berat amat jeng!

Semester ini banyak mata kuliah berbasis paper. Mungkin jurusan mau menggembleng supaya semuanya sukses di skripsi (Amin!!!). Tapi ada beberapa temen yang merasa tiba-tiba di pundak mereka digelayuti berton-ton beban. Satu paper aja bikinnya setengah hidup, kata salah satu dari mereka. Iya sih. Karena memang lebih asik memelototi layer komputer yang dijejali adegan-adegan dari dvd bajakan yang di dekat kos-ku harganya @6Ribu/keeping (Mahal ya?) daripada deretan huruf yang berbaris lebih rapi dari sekumpulan anak SD yang setiap senin selalu ikut upacara bendera.

Tapi yang bikin aku bahagia adalah aku dikelilingi oleh teman-teman yang “se-aliran”… Hehehe memang tidak bisa dipungkiri di dalam satu kelas bisa didiami oleh anak-anak yang membentuk cluster-cluster yang internalnya dihubungkan oleh benang merah yang diberi nama “kenyamanan”… Nyaman berbicara, nyaman berbagi cerita, nyaman bercanda, nyaman mencontek, nyaman mencela, nyaman meminjam uang, dan nyaman-nyaman lainya,…

Bicara tentang kenyamanan yang menurutku adalah kemewahan itu, aku jadi ingat seseorang. Kakang Prabu-ku ditawari mutasi kerja di cabang baru perusahaannya di Cikarang. Dia langsung desperate mendengar kata Cikarang itu yang sama dengan jauh dari mana-mana, jauh dari Jakarta, jauh dari banyak saudara yang memang berbasis massa di Tangerang, jauh dari bandara Soekarno-Hatta yang jadi tempat mendaratnya para saudara jauh, dan jauh-jauh lainnya,… Memang sih, membangun suatu bentuk kenyamanan di tempat yang masih asing memang butuh tenaga besar. Presentase keberhasilannya pun tidak 100%. Kalau gagal, yang namanya menyesal dan perandaian pasti tak pernah absen menghantui. Walaupun di Cikarang mungkin (sekali lagi mungkin) akan membawa dampak positif pada laju karir, tapi tetap saja di Tangerang sudah terbangun kenyamanan. Sekali lagi, kenyamanan adalah kemewahan. Untungnya enggak lama, kebijakan manajemen perusahaan pun diambil dengan solusi yang begitu melegakan. Perusahaan membebaskan lahan untuk dibangun proyek yang mestinya dibangun di Cikarang itu. Hehehe, masalah selesai dengan sendirinya,… cihuuuyy!!!

Super malas rasanya. Selesai aku mengetik semua entry ini,… ada tiga tugas menanti dari mata kuliah Research Methodology, Public Relations, dan Scientific Writing. Kalau boleh dibuat analogi nih, hubunganku dengan perkuliahan ini seperti hubungan sepasang suami istri yang dilanda kejenuhan karena telah terlalu lama menikah. Butuh yang namanya bulan madu yang kedua. Dan aku baru mempertanyakan kenapa bangku-bangku kayu di kelas-kelas berhembus pendingin ruangan menjadi begitu akrab dengan kulitku, apa karena begitu lekatnya aku mengencani mereka?

(kalau sok puitis gini, pasti diketawain sama Burung deh,…)

2 komentar:

BuRuNG mengatakan...

iyalah pasti, mayan menghibur kok tapi hihihi

btari-yang-anggun mengatakan...

BUruuuuuuuuuuuuuuuuuung,...
apa sekarang dipanggil CooodoooT??

BTW salam bwt mbak2 yg bengong setelah lo dg polos berkata "... penyembah pohon..."