Kamis, November 01, 2007

Aku Cemburu, Sayang...

“Aku cemburu karena aku mencintaimu, sayang!”

Kalimat ini sering sekali meluncur dari bibir seorang pencemburu. Sebuah ucapan yang teramat klise. Bahkan aku juga beberapa kali menjadikannya suatu tameng atau cadar dari sesuatu yang lebih dalam.

Ada orang yang sempat mencetuskan pertanyaan, “apa sih yang ada di otak orang yang terlalu cemburuan? Kenapa selalu ada ketakutan-ketakutan yang sifatnya enggak nyata?”

Apa orang yang cemburuan itu – dalam taraf tertentu – sedang mengalami halusinasi? Dia berhalusinasi, membiarkan ketakutan-ketakutan di otaknya untuk bebas berlarian ke sana kemari, bahkan hampir menjelma menjadi kenyataan,… sehingga dia tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana ketakutan belaka. Apakah orang cemburuan itu sakit jiwa? Tapi bukannya setiap orang memang memiliki – seberapapun tingkatnya – ketidakseimbangan kesehatan jiwa.

Setahuku – dan memang aku bukan seorang ahli – cemburu hanya output dari rasa tidak aman dalam diri seseorang di mana dia merasa tidak cukup layak bersaing untuk mendapatkan perhatian dari orang yang dia sayangi atau setidaknya, dari orang yang dia harapkan untuk memperhatikannya. Panjang yah,…?

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan tentang halusinasi itu. Aku tidak terlalu ambil pusing tentang itu. Aku hanya ingin tahu bagaimanakah menghilangkan segala ketakutan-ketakutan yang makin lama makin menyerap dan mengambil alih akal sehatku.

Kemaren aku sempat belajar Pragmatics sedikit, dan ada yang namanya Illocutionary act, bahwa sesuatu yang diutarakan pasti memiliki suatu maksud dan pesan. Maka ketika kalimat itu meluncur, penerjemahannya adalah :

“Sayang, aku takut kehilanganmu. Aku merasa tidak aman dengan posisiku sekarang. Aku cemburu, bukan karena aku mencintaimu, tapi aku mencintai egoku yang takut kehilanganmu.”

Tidak ada komentar: