Rabu, Juli 03, 2013

MATA SERUNI

Marwan tak henti melirik jam dinding. Detiknya berirama. Jika didengarkan seksama, terdengar bersahutan dengan degup jantungnya sendiri. Jam sepuluh lewat. Makin jarum panjangnya bergeser, makin morat-marit batinnya. Selarut ini, Seruni belum pulang juga. Ke mana dia? Sudah enam jam sejak ia pamit keluar sebentar, tanpa bilang hendak ke mana.
Tak lagi sanggup Marwan menghitung batang rokok yang ia isap. Peduli apa umurnya memendek karena napas yang tersumpal asap. Gemuruh di batinnya perlu ditenangkan dari bayangan buruk berkelebatan silih berganti menghuni benaknya yang sempit.

Disibakkannya lagi tirai putih jendela depan yang menguning oleh usia. Jalanan sudah sepi sejak sejam lalu. Cuma ada suara jangkrik dan bisikan nalurinya sendiri. Tak ada yang bisa ia lakukan selain duduk dan menyedot dalam-dalam tembakaunya.

Seruni terlahir dengan wajah cantik luar biasa. Kulitnya seputih susu dengan bibir ranum strawberry. Matanya bulat besar, berbulu mata melentik, yang tiap kali mengibas, mengingatkannya pada mata seorang perempuan tak bernama, yang mati-matian Marwan coba lupakan.

Jack, teman premannya yang terlahir bernama asli Zakariya, pernah bilang Seruni kelak tumbuh menjadi gadis yang bisa mematahkan hati banyak lelaki. Marwan tersenyum kecut. Kecantikan Seruni diwarisi dari sang ibu yang memang kembang desa, begitu jawab Marwan. Jack hanya mencibir, menertawakan keberuntungan kawannya. Marwan tahu betul, Jack iri padanya. Semua orang tahu, Jack pernah menyukai ibu Seruni.

Marwan mendadak ingat pertama kali Seruni pulang terlambat. Kala itu ia masih empat belas tahun. Walau masih bau kencur, Seruni adalah kencur yang tumbuh di surga, hingga sanggup mengalihkan pandangan siapa saja. Termasuk yang selalu hidup di tempat tergelap, siap meloncat menerkam siapa saja.

Marwan selalu mengantar Seruni mengaji di surau selepas Ashar. Ia baru berani pergi setelah melihat Seruni duduk di barisan terdepan, persis di depan meja ustadzahnya. Lepas sholat Maghrib, baru ia akan menjemputnya. Selalu begitu.

Namun hari itu, Marwan tak mendapati Seruni duduk menunggu dijemput selepas sholat Maghrib. Ustadzahnya mengira Seruni sakit karena tak mengaji sore tadi. Segala pikiran buruk mendera batin Marwan. Ia menanyai tiap teman Seruni, setengah panik sisanya mengancam. Mereka mengkeret ngeri melihat bapak Seruni siap meledak seperti granat. Ah, semua orang tahu bapak Seruni mantan jawara penguasa terminal pinggir kota. Siapa berani melawannya?

Seruni main sama anak juragan batik ke hutan pinggir kali, celetuk seorang teman anaknya. Marwan pun mengumpulkan teman premannya dulu, membawa parang dan obor, hendak mencari Seruni. Namun, tepat selepas azan Isya, Seruni berjingkat-jingkat di beranda depan. Sekejap Marwan tak bisa mengendalikan diri. Hampir saja ditampar pipi tirus Seruni cilik, kalau tidak ditahan Jack.

Dia masih kecil, bisik Jack di telinganya. Yang salah bocah itu. Kamu tahu betul kan bagaimana liciknya lelaki membujuk perempuan.

Wajah Marwan memerah seketika. Dicengkeramnya bahu kurus Seruni, ”Kamu diapain sama dia? Kalau dia kurang ajar sama kamu, biar bapak potong kemaluannya.”

Wajah Seruni telanjur sembab oleh air mata dan keringat. Ia menggeleng lemah. Lagi-lagi di wajah Seruni, Marwan mendapati sepasang mata yang selalu berusaha ia lupakan.

Lelaki dan perempuan berdua di tempat gelap begitu, yang ketiganya setan, suara Marwan menggelegar, merobek nyali Seruni untuk membela diri. Tahu apa anak gadisnya itu tentang apa yang ada di balik kehidupan tergelap.

Suara Seruni lenyap, persis bulan purnama yang ditelan raksasa saat gerhana. Marwan menyeret Seruni layaknya kain kumal. Ditendangnya pintu kamar mandi. Seruni menjerit saat Marwan melemparnya seperti segumpal kertas, lalu mengunci pintu. Lampu pun dimatikan. Seruni makin histeris tak karuan. Tangan mungilnya menggedor-gedor pintu dan meraung mohon ampun. Dalam bayangannya, ada tangan-tangan keluar dari kegelapan, mencengkeramnya, dan melumatnya lamat-lamat.

”Di mana rumah bocah itu?” tanya Marwan pada istrinya yang sesenggukan di samping pintu kamar mandi. Sayup terdengar suara desing golok membentur sarungnya.

Ngeri merayapi tengkuk Seruni. Ia sungguh tak berani membayangkan. Apa bapak akan menghajarnya? Mencincang kemaluan bocah itu persis seperti rajangan tipis cabe rawit dalam tumisan yang sering dimasak ibu? Tangannya makin kuat menggedor pintu, tapi makin cepat pula tenaganya terkuras. Ia terkulai di ubin kamar mandi yang lembab dan dingin.

Seruni bangun keesokan paginya, di kamarnya sendiri, dengan handuk dingin menempel di dahi yang membara. Wajah ibu lelah, begitu pula dengan raut muka Jack. Seruni sesenggukan dan Jack menepuk kepalanya berulang kali. Marwan hanya melihat dari jauh. Bukannya tak ingin mendekat, tapi langkahnya tertahan. Mata Seruni kini berubah. Nyalang memerah, seakan merekah oleh benci.

Sejak itu, tak ada lagi yang sama. Bocah lelaki itu dan keluarganya pindah tiga hari kemudian. Tak ada lagi yang berani mengajak Seruni main. Tak ada pemuda yang berani menatap Seruni, secantik apa pun ia tumbuh dewasa. Tiap lampu kamar dimatikan atau tiba-tiba listrik padam, Seruni jadi sering menjerit-jerit. Gelap mengingatkannya pada ketidakberdayaan, persis saat ia dikurung bapaknya.

”Kasihan Seruni,” ujar Jack suatu hari, ”dia butuh disayangi bapaknya sendiri.”

”Aku lebih dari sekadar menyayanginya,” Marwan membela diri. ”Aku melindunginya.”

Jam sebelas dan belum ada suara langkah berjingkat di beranda seperti waktu itu. Sayup-sayup terdengar suara petir di kejauhan. Mendung pekat akan pecah menderas. Apa Seruni kabur? Toh kini ia sudah dewasa, sanggup menentukan arah hidupnya sendiri.

Istrinya pernah bertanya, kenapa Marwan begitu keras pada anak mereka.

”Seruni itu cantik luar biasa. Kamu tahu apa yang terjadi pada perempuan yang cantiknya luar biasa,” tanya Marwan. Istrinya menggeleng. ”Mereka akan mengundang lelaki-lelaki yang tak pernah puas.”

Istrinya tersenyum, ”Makanya kamu mengurungnya seperti ini?”

Marwan melotot protes, ”Aku melindunginya. Aku ini lelaki. Aku tahu betul lelaki bisa jauh lebih jahat dari setan.”

Istrinya mengernyitkan dahi, ”Tapi kamu lelaki terbaik yang kukenal. Kamu sama sekali bukan setan. Iya kan?”

Sekali lagi, diembuskannya asap rokok yang mengaburkan ingatan akan istrinya, yang keburu meninggal sebelum ia sempat menjawab pertanyaan itu. Istrinya tak tahu apa-apa. Mereka menikah setelah Marwan menutup erat masa lalunya di jalanan, bersama Jack, serta kehidupan tergelap mereka.

Di luar, hujan terus menderas. Pada kepekatan rinai seperti ini, Marwan dipaksa mengingat noda besar masa lalunya. Persis malam ini, malam itu juga hujan. Derasnya persis liris air mata yang membasahi pipi ranum seorang perempuan cantik tak bernama di sebuah gudang gelap di sudut pasar yang sepi. Bau anyir minuman menyeruak di sana-sini. Tawa dan isak memenuhi langit-langit gudang gelap itu. Marwan mestinya ikut tertawa, tapi ia malah bergidik melihat mata Jack memerah, persis mata setan. Isakan perempuan itu terbaurkan suara hujan. Namun, Marwan tak sanggup mengacuhkan nuraninya yang menjerit-jerit. Dan di pantulan mata perempuan cantik tak bernama itulah, Marwan mendapati dirinya sendiri berubah menjadi setan.

Jack meludahi perempuan itu. Tangan ringkih perempuan itu menggapai apa pun untuk menutupi tubuhnya yang telanjur tercabik. Seumur hidup, ia takkan bisa melupakan bagaimana Jack membekap mulutnya dari belakang dan Marwan mencengkeram kakinya, lalu melemparkannya ke sudut gudang tergelap. Seakan tak pernah puas pada perempuan cantik tak bernama itu, keduanya merobek-robek jiwanya yang setipis selaput dara.

Sepasang mata perempuan tak bernama itu basah oleh air mata; membuat sesak hati Marwan. Malam itu, malam selanjutnya, bertahun-tahun kemudian, sepasang mata itu menjelma menjadi sepasang mata cantik Seruni. Seakan untuk menghukum Marwan, Seruni selalu mengingatkannya pada perempuan cantik tak bernama, yang tak lama setelah malam itu, ditemukan mati gantung diri.

Marwan tak sanggup menunggu lebih lama lagi. Ia menerobos menembus rinai hujan. Mungkin Jack bisa menemaninya mencari Seruni. Jack menyayangi Seruni. Saat Seruni sakit demam berdarah beberapa tahun lalu, Jack mendampinginya di rumah sakit. Menggenggam tangannya. Menyuapinya makan. Bahkan dalam igaunya, Seruni menyebut nama Jack. Tebersit rasa cemburu di hatinya. Namun, pria itu tahu, Jack hanyalah kepingan pelengkap kekosongan yang tak bisa Marwan isi di hati Seruni, karena anak gadisnya begitu membencinya. Bagi Seruni, Jacklah ayahnya, bukan Marwan.

Beranda rumah Jack sepi. Bagian dalamnya tampak gelap. Kawannya hidup sendiri, tak pernah mau menikah, bahkan tidak mencari kekasih. Mungkin hatinya telanjur remuk tak tersambung sejak Marwan menikahi gadis idamannya.

Tepat hendak ia mengetuk pintu, Marwan mendengar suara itu. Tawa perempuan, terdengar asing, sekaligus melekat di ingatan. Persis seperti kenangan lampau yang nyaris terhapus. Marwan berjingkat masuk. Rasa ingin tahu meletup-letup minta dipuaskan. Siapa perempuan yang ikut tertawa, sesekali menghela napas berat, diikuti derit kaki ranjang menggores lantai, itu?

Hanya tersisa sinar remang di kamar tidur Jack. Jantung Marwan berlompatan tidak karuan. Jack dan wanita itu saling bercakap di antara tarikan napas yang berat. Lirih sekali, nyaris ditelan sunyi.

”Pulanglah,” ayahmu menunggu.

”Tidak. Aku membencinya.”

Marwan menerjang pintu kuat-kuat. Sepasang mata indah menyambutnya. Matanya persis mata perempuan cantik tak bernama di suatu sudut gudang yang gelap di masa lalunya. Mata yang kini menjelma menjadi sepasang mata Seruni. Hanya bedanya, mata itu tak bersimbah air mata. Lidah api menjilat-jilat seraut sorotnya yang puas, karena kebenciannya akhirnya terbalas.

Marwan melintasi ruangan. Jack sibuk mengalungkan selimut di tubuh Seruni. Tapi gadis itu tetap duduk tegak. Tenang. Persis permukaan kolam, yang entah menyimpan apa di kedalamannya. Tangan Marwan terkepal erat, menahan panas menggelegak di dada.

Ada yang berdansa penuh kemenangan di balik kegelapan yang tak terjangkau bohlam-bohlam terbaik buatan manusia. Mereka terus bersukacita di ruang-ruang gelap tak tersentuh cahaya.

Termasuk hati Marwan yang gelap.


 dimuat di harian KOMPAS Minggu, 30 Juni 2013

6 komentar:

perahukayu mengatakan...

Setelah baca dari koran, akhirnya di sinilah lahan yang tepat untuk berkomentar.
Pertama, cerpen ini layak diberi aplaus selama 3x Lebaran. Keren!

1. Judul
Singkat dan menarik. Pemilihan nama "Seruni" yg sekaligus ada di dalam judul, entah kenapa terkesan seksi dan kontradiksi. Lembut, tapi menipu pada akhirnya. "Mata Seruni" judul yang tepat karena "roh"-nya berkelindan dari awal hingga akhir cerita.
2. Produksi Kata
Indah, tapi tidak sok puitis memanis-maniskan suasana. Contoh: "...suara Marwan menggegelar, merobek nyali Seruni untuk membela diri." Saya terhantui, membayangkan suara robekan itu.
3. Tema dan Plot
Sepertiga awal, saya khawatir ceritanya akan berakhir klise. Tapi selanjutnya, konflik sederhana yang di awal mulai terasa mencurigakan, membuat saya pasrah akan menerima kejutan yang tidak biasa. Plot terbangun terbangun dengan baik. Mendukung situasi yang penuh teka-teki.

Karena ketiga kesan utama tadi, saya sampai bingung mencari bagian mana yang saya tidak suka. Walau penulisnya saya kenal, saya merasa perlu mengkritisi, bukan sekadar memuji-muji hingga ke ujung mimpi. Sebel banget, cerpen ini menyisakan tugas rumah yang nakal!

Akhirnya ketemu juga. Yang saya kurang menikmati:
1. Ada beberapa kalimat yang terlalu panjang. Padahal ini kebiasaan saya juga. Duh, keciduk hidung sendiri :)
2. Kenapa harus Om Jack??? Eh, ini justru gong ceritanya ya? Kok saya yang cemburu? Hehehe

Sudah ah, nanti kelihatan terlalu "menggemari" #umpan. Sebagai pembaca, saya punya harga diri juga, kan? Hehehe

Anonim mengatakan...

An***g Keren..!!!

Anggun Prameswari mengatakan...

@ mas Oddie..., Makasih ya atas komentar unyunya. Kapan kita ketemu dan saling melempar #umpan nih?

@Anonymous..., makasih buat komentarmu. Btw, kamu siapa?

Wulandari Amor Ganelsa mengatakan...

mbak keren loh mbak,, aku pengen jadi penulis hebat jugaaaaa :(((

VJ Smart mengatakan...

nice story ms.anggun :D

di tunggu updated selanjutnya

Aprie Janti mengatakan...

ampunnn.. ceritanya bagus pisann! Saya nahan napes sampai akhir cerita :D