Senin, Maret 20, 2006

Catatan Lama [banget]

:P
Baru aja buka-buka blog yang ada di frenzter, trus ga sengaja nemu tulisan ini. Udah lama banget. Dibikin tanggal 13 Oktober 2005, tapi lumayan lah, gak nyangka bisa nulis yang beginian, well, di-paste aja ke - singgasanaku - yaaa,... baca yaaaa?

Hindari Kenyamanan

Kenyamanan, satu selimut yang mengekangku, memberikan kenikmatan yang membuatku enggan berpaling. Kenyamanan, betapa satu hal ini sebenarnya tak lebih dari kata pembelaan kalau aku itu hampir saja menjadi pengecut. Kenyamanan hamper membuatku terlena. Kenyamanan membuatku stagnan, aku tahu itu, tapi tetap saja nekat kujalani. Kenyamanan membutakan. Aku terlalu nyaman selama ini, sehingga banyak indera yang kurang peka, banyak pengalaman yang terlewatkan, tak kurang ilmu yang meninggalkan dalam keterlenaan.

Aku selama ini selalu nyaman naik angkot. Walau ongkos makin mahal, udara pengap, bau keringat, tapi aku telanjur terbiasa. Walaupun sudah mengantongi SIM A sekali pun tetep naik angkot jadi pilihan utama. Males kena macet, males cari tempat parkir, takut nabrak, males antri beli bensin, segala macam alasan membuatku makin nyaman saja naik angkot.

Kuliah pagi pulang sore dari kampus tercinta terus makan and tidur memberikan kenyamanan luar biasa. Segala rutinitas membuatku mampu mengerjakan semuanya lancar. Sama sekali tak terlintas di kepala untuk menambah satu aktivitas lagi. Kenapa? Karena memang sudah nyaman seperti ini.

Nyaman memang memabukkan. Saking memabukkannya, aku sampai tak sadar di luar sana banyak hal-hal indah yang tak sempat kukecap.

Misalnya, karena terbiasa naik angkot atau diantar jemput sama para lelaki tercinta (thx ma dad, lil bro, and beloved darling), ketika harus bawa mobil sendiri, segala ketidaknyamanan muncul. Efeknya bisa ditebak, ban mobil hampir melindas kaki pak satpam, menyerempet portal, mesin mati pas di tanjakan, semua itu membuatku tak nyaman karena aku harus keluar dari rutinitas yang selama ini kurasakan. Aku harus mengalami pengalaman baru, belajar dari awal, mulai beradaptasi, dan tak bisa menebak apa yang akan terjadi satu detik mendatang. Aku jauh dari kenyamanan.

Hi-heels juga termasuk sesuatu yang membuatku tak nyaman. Aku harus merasakan ketidaknyamanan ini pas acara resepsi pernikahan sepupuku. Aku harus berdiri (lengkap dengan setelan kebaya) dengan hi-heels 12 cm,… walhasil pulang dari acara, aku mendadak sangat mencintai kaki-kakiku. Tapi aku tak bisa pungkiri kalau aku terlihat lebih feminin dengan sepasang hi-heels itu. Jalanku jadi lebih anggun. Aku terlihat seperti perempuan (lha emang selama ini apa?) Pakai hi-heels memang awalnya tak nyaman, awalnya sekedar paksaan situasi, tapi efeknya yang begitu mengejutkan memberikan shock-therapy yang membuat mataku terbuka. Aku bisa terlihat lebih baik kalau aku mau keluar dari kenyamananku (baca : pecinta alas teplek) selama ini. Aku cuma tidak berani. Itu saja.

Akhirnya aku belajar untuk menghindari kenyamanan. Aku mulai mencoba tawaran mengajar bahasa inggris untuk anak-anak kecil. [PS : ketika tulisan ini dibuat, aku baru saja 2 minggu menjadi part-timer di suatu kursus bahasa inggris, tapi officially februari kemaren aku resigned,...] Memang awalnya tidak nyaman. Aku harus bersikap lebih sabar, harus banyak senyum, harus disiplin, harus rela waktu istirahatku terpotong demi bayaran yang tak seberapa. Aku bisa saja menyesalinya dan ingin kembali ke kenyamanan masa lalu yang begitu menggoda. Tapi jika aku nekat berteman lagi dengan kenyamanan itu, bagaimana dengan pengalamanku, kenanganku akan masa muda? Aku akan selalu terlena, padahal dunia sendiri tak akan pernah berada dalam kondisi yang nyaman.

Aku akan seperti anak bayi dalam gendongan ibunya bila tetap berada di zona kenyamanan. Toh anak bayi akan melepaskan diri dari kenyamanan pelukan sang ibu untuk belajar berjalan. Dia tentu tak nyaman kalau terus bolak-balik jatuh tersungkur karena kakinya belum mantap menjejak. Tapi toh harus dijalani kan. Toh di suatu hari nanti sang bayi akan menikmati manis dari jerih payahnya jatuh bangun ini. Aku masih belajar untuk memahami ini semua. Bukan hal yang mudah melepaskan kenyamanan selama ini aku rasakan untuk sesuatu yang belum pasti, entah akan membuatku nyaman atau tidak. Tapi hidup itu kan proses belajar, itu kata orang bijak. Berhubung bijak bukan sifatku, aku mending nurut saja. Siapa tahu di beberapa waktu ke depan aku bisa memetik buah dari pengorbananku meninggalkan kenyamanan.

Amin. Amin. Amin.

PS : God, give me more strength to finish the unfinished. And for you all, leaving behind all the comfort doesn’t mean that you act carelessly. Mark this, you leave today’s comfort to get greater comfort in return.

Tidak ada komentar: