Sabtu, Maret 28, 2015

[CERPEN] - Kembang Pulang



Jika ada yang bertanya mana yang lebih dingin, udara malam atau hawa hatinya, Ros akan meraba dadanya. Ada gunung es tumbuh di sana. Sekarang pukul tiga dini hari. Yu Jum terkantuk-kantuk di meja kasir. Pendar papan iklan bir berneon merah-hijau di beranda wisma, tengah meregang kelip terakhir sebelum benar-benar padam. Tamu kelimanya di hari ini baru pulang dengan langkah terseok, setengah mabuk. Ros keburu lupa wajah tamunya itu. Baginya, lelaki selalu tak lebih dari sosok tak berwajah.
Termasuk lelaki itu, yang seharusnya dihukum karena telah mendinginkan dadanya. Dari cerita masa kecilnya, lelaki itu suka sekali pada rumpun kembang ros yang berayun-ayun di bawah jendela kamar tidur ibunya.
Masih nunggu tamu, Ros? Yu Jum menaikkan resleting jaketnya tinggi-tinggi. Kejar setoran ya. Jangan lupa, sisakan buat yang lain.
Tak mengacuhkan Yu Jum, matanya menatap neon box sebuah merk bir. Suaranya terdengar berderak-derak nyaris padam. Angin menjelang fajar semakin kejam. Jalanan di depan pintu wisma mulai sepi. Denting penggorengan tukang tahu tek beradu dengan sayup musik dangdut. Bahkan di masa seharusnya dunia terlelap, kehidupan masih berdenyut. Kalau hatinya sudah sedingin ini, biasanya Ros berlari ke pinggir jalan dan menatap ujungnya. Ada harap yang menggelembung, kalau-kalau lelaki itu––ayahnya––pulang.
Ke mana ayah?
Kapan pulang?
Kenapa ayah pergi tidak mengajak kita?
Ros kecil yang cerewet. Kata orang-orang dulu, bibir Ros serupa butir anggur ranum, menggemaskan. Kata orang-orang kini, bibir Ros layak disebut berpulas anggur merah, memabukkan. Bibir itu Ros warisi dari ibu, yang sepanjang ingatannya pula, tak pernah ia dapati bibir itu banyak berbicara.
Tak sekalipun Ros tahu apa ayahnya kurus atau tambun. Berkumis atau berjenggot. Beraroma kretek atau wangi parfum murahan. Yang ia tahu, ayah tak pernah. Kadang Ros berharap ibu sama cerewetnya seperti Yu Jum, yang selalu mengurusi hidup orang hingga ia tak perlu meraba sosok ayahnya dalam sosok lelaki yang berganti lebih cepat dari guguran daun meranggas.
Minggu depan wisma tutup, Ros, Yu Jum menyalakan rokoknya. Dapat uang kamu nanti. Tiga juta.
Derak tembakau di kiri Ros beradu dengan pendar neon box yang menyedihkan. Yu Jum ikut-ikutan menatap ke arah yang sama.
Apa rencanamu, Ros?
Pulang, Yu.
Ke mana? Memangnya punya rumah untuk pulang?
Ros diam.
Gang ini mau disapu, Ros. Biar bersih, katanya. Memangnya kita sampah ya, Ros? Padahal mereka menyebut kita perempuan harapan, yang masih bisa hidup lebih baik walau ditukar dengan uang tiga juta, asap embusan rokok Yu Jum melayang-layang lebih jauh. Kasihan papi-papimu nanti, Ros. Pasti mereka kangen kamu.
Dada Ros makin dingin. Entah berapa lelaki yang ia senangkan, tapi tak sebanding untuk menambal lubang di dadanya. Tak ada ayah yang bermain ayunan bersama, mengantarkannya ke sekolah, menepuk manja kepalanya. Menyelimutinya saat demam, memarahinya saat pulang pacaran terlalu malam.
Mungkin karena itu Ros lebih suka tamu lelaki yang lebih tua, yang sebenarnya lebih pantas ia sebut ayah. Seluruh penghuni wisma maklum itu. Mereka selalu menyodorkan lelaki setengah baya ke pangkuan Ros untuk disenangkan, berharap Ros juga bisa menyenangkan hatinya sendiri.
Tiap ada lelaki masuk ke wisma, melewati pintu yang dinaungi neon box bir itu, asa di dadanya menyerupai balon. Mengembang besar. Namun, Ros belajar sejak lama tentang cara lelaki menatap dirinya. Mereka yang datang tak pernah menatapnya penuh rindu, sebagaimana dirinya merindukan ayah. Ia hanya dianggap kembang, untuk dihirup wanginya, menghias sepi, lalu ditinggalkan bila waktunya tiba.
Dingin di dadanya menjadi-jadi. Ros tinggal menunggu hari di mana hatinya benar-benar mati. Persis wisma ini. Mirip neon box itu.
Aku pengin ketemu ayah, Yu.
Di mana dia? Ayahmu bahkan sudah pergi sebelum ibumu tahu dirinya hamil. Kamu lahir di sini, besar di sini, cari makan juga di sini. Gang ini boleh disapu, Ros, tapi ini kampungmu. Ibumu dulu kembang di sini. Sekarang kamu juga. Buat kita, inilah rumah. Mau ngapain ketemu lelaki itu lagi?
Ada skenario di kepalanya kalau ia bertemu ayah. Pertama, ia akan marah sebesar-besarnya. Bagaimana bisa ayah sekejam itu, meninggalkan anak perempuannya seorang diri, tanpa membekali pengetahuan tentang hidup. Bagaimana caranya naik sepeda. Bagaimana mengerjakan PR matematika. Bagaimana menghadapi teman sekolah yang centil. Bagaimana membedakan laki-laki yang benar-benar baik dari sekian banyak lelaki yang tampak baik.
Lalu ia akan menangis. Air matanya berjatuhan persis hujan di Desember. Segala momen yang hilang akan ia tangisi. Bukankah lelaki lemah pada air mata wanita? Ayah akan semakin sedih hatinya, lalu memeluknya. Maka, gunung es di dadanya akan pelan mencair, sehingga airmatanya menjadi air bah yang menenggelamkan mereka berdua.
Selanjutnya, Ros akan bercerita. Tentang luka di lututnya karena terjatuh saat belajar sepeda sendiri. Tentang pacar pertama yang diam-diam menciumnya di atas becak selepas nonton dangdut di kampung sebelah. Tentang ibu yang tak pernah berhenti menangis tiap tengah malam. Tentang sulitnya hidup perempuan yang bertahan seorang diri. Tentang lembar rupiah yang cepat menguap entah menjadi apa. Tentang tamu pertama yang menaiki tubuhnya, dengan dengus napas seperti kerbau mengamuk, tapi tak juga Ros bisa ingat seperti apa wajahnya. Tentang dingin di dadanya, yang tak bisa dihangatkan oleh lelaki yang silih berganti menghangatkan ranjangnya di wisma.
Sampai tiba akhirnya Ros memaafkannya, karena toh ia telanjur mencintai ayahnya. Bukankah cinta pertama seorang perempuan adalah ayahnya, dan konon cinta pertama itu takkan mati?
Kalau wisma ini tutup, kita bagaimana ya Ros?
Ya pindah. Pulang ke kampung, buka warung atau apalah.
Ngomongmu sudah seperti Walikota saja.
Ros membalikkan badan. Tubuhnya mendadak begitu lelah. Sendi-sendinya mulai berlepasan, entah karena tamu terakhir membolak-balik tubuhnya seperti adonan panekuk setengah matang atau karena tak ada lagi tenaga untuk berpikir. Derak neon box itu kini lebih cepat, tapi sekaligus melemah.
Pulang, Yu. Aku pengin pulang.
Pet!
Mata Yu Jum dan Ros bertautan tepat saat neon box itu padam, seakan menandai usainya kehidupan di sebuah lekuk jalanan yang disesaki wisma-wisma penuh kembang yang wangi, yang tinggal menunggu hari untuk hilang.
***
Ros menutup berkasnya sembari menghela napas. Setengah mati dia berusaha mengabaikan sorot mata dari ujung ruang tunggu. Padahal dia sudah berpakaian teramat sopan. Kemeja lengan panjang dan pantalon hitam. Pagi tadi dia malah menghabiskan setengah jam hanya untuk memutuskan apakah rambutnya diurai atau digelung. Mana yang terlihat tak terlalu “mengundang”. Namun, prasangka buruk memang selalu lebih mudah dilakukan.
Mantan “itu” ya?
Nyari dana katanya. Buat LSM tempatnya sekarang kerja.
Sekalian jualan?
Ngawur!
Sayang sekali, padahal cantik.
Jangan-jangan masih terima order.
Kalau sama aku, dia mau nggak ya?
Wani piro kowe, Mas, hahaha?
Pagi tadi, sebelum Ros tiba di kantor institusi swasta yang konon mengajaknya meeting untuk urusan pendanaan, Ros melewati gang itu. Jalanan di sana tak lagi sama ramainya. Lokalisasi itu memang resmi ditutup. Gang yang dulu begitu hidup kini mati. Kembang-kembang yang dulu tumbuh merekah, dicabut paksa kemudian mati. Atau tertatih-tatih mencari tanah, untuk kembali menancapkan akar di tanah lain yang masih sudi menerimanya.
“Mbak Ros ini mantan penghuni gang ya? Sekarang kerja di LSM pemberdayaan perempuan?” tanya pimpinan itu dengan sorot menyelidik. Tadinya Ros kira, begitu masuk ruang pimpinan, dia terbebas dari tatapan menghakimi di ruang tunggu. Sayangnya tidak. Ros menggenggam tangannya erat-erat.
“Iya. Saya ditawari kerja di sana.”
“Kalau mantan penghuni lainnya, pada ke mana, Mbak?”
“Ada yang pulang ke keluarganya, membuka usaha, pergi ke kota lain, dan ada juga yang meneruskan profesi lama diam-diam.”
“Wah, percuma dong lokalisasinya ditutup.”
“Oleh karenanya, LSM kami membantu mengedukasi mereka, terutama kesehatan seksual dan kemandirian ekonomi. Bantuan dana dari perusahaan bapak sangat berarti.”
“Angkanya besar juga ya,” pria itu mengalihkan pandangan dari berkas proposal ke arah Ros. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Bisa dong kita bahas ini di tempat yang lebih privat. Kamu tahulah maksud saya.”
Ros hapal betul itu. Raut wajah lelaki yang mencari persinggahan, bukan rumah untuk pulang. Dadanya memanas. Kembali menggelegak kenangan tentang ayah yang asing, tentang ibu yang mati pelan-pelan oleh kesedihan, tentang kembang-kembang lain yang dicerabut paksa tanpa bisa dicarikan tempat untuk tumbuh merekah indah, tanpa dipandang sebelah mata.
Dia perempuan. Mereka perempuan. Apa begitu sulit menjadikan perempuan sebagai rumah untuk pulang, bukan hanya tempat persinggahan. Bahkan ketika Ros mencoba jalan yang berbeda, orang-orang di sekelilingnya terus kembali mendorongnya kembali ke taman yang sama. Taman yang mereka anggap cocok untuk kembang seperti dirinya.
Termasuk pesan pendek dari Yu Jum tadi pagi.
Sudah ketemu ayahmu? Kujamin belum. Nggak usah mimpi-mimpi tentang ayahmu atau hidup benar. Ayo balik. Tak ada ayah, papi pun jadi. Telepon aku, nanti kukasih tahu alamat hotelnya.
“Bagaimana, Mbak Ros?” tanya lelaki itu sekali lagi.
Ros merasakan dadanya ditumbuhi gunung es. Lebih besar. Makin kokoh. Yang terbayang di matanya hanya pendar neon box sebuah merk bir yang sekarat, nyaris mati. Mengingatkannya pada diri sendiri
Ros langsung menarik kembali berkas proposal, dengan sekali sentakan paksa. Wajah pimpinan itu memerah, nyaris meletus oleh penolakannya. Ros tak menoleh ke belakang. Sudah lama dia menyerah akan masa lalu yang lebih sulit dihapus ketimbang sebuah tato atau tanda lahir. Apapun yang dia lakukan, mereka akan selalu memandangnya sama.
Maka, kalau Ros tak bisa menemukan rumahnya untuk pulang, maka biar dia yang membangunnya sendiri.[]



Catatan: Karena miskomunikasi, cerpen ini dimuat ganda di majalah Femina no.12/XLIII (edar 21-27 Maret 2015) dan tabloid Nova no.1412/XXVIII (edar 16-22 Maret 2015). Bukan sesuatu yang membanggakan karena pemuatan ganda adalah kesalahan besar. Masalah pemuatan ganda ini sudah selesai antara aku dan kedua media yang bersangkutan. Lihatlah dari sisi positifnya. Lebih banyak orang yang membaca cerpen ini. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar: