Senin, Juni 06, 2011

Bapak Pulang

Tak ada yang bisa melebihi keterkejutanku saat ini. Tak ada firasat apa pun. Sosok tinggi kurus itu entah bagaimana bisa berdiri di depan pintu rumahku. Tak cuma aku. Ibu pun tak kalah terkejutnya. Kami terpana beberapa detik karenanya.

“Bapak? Bapak pulang?” cuma itu yang terlontar dari bibirku.

Akhirnya bapak pulang. Setelah enam belas tahun kakinya tak pernah menjejak lagi di rumah ini. Batang hidungnya tak pernah kulihat selama dua windu. Bahkan aku hampir lupa bagaimana wajah bapak.

Sekarang bapak tiba-tiba muncul. Kenangan lama yang sengaja kusimpan rapat seperti slide film berputar dengan cepat. Menatap wajah bapak membuat segala rasa yang selama ini kutahan tumpah ruah. Marah. Benci. Kecewa. Dendam. Entah bagaimana rupa hatiku saat ini.

“Nur?” bapak memanggilku.

Aku tak tahu harus menjawab apa. Bapak terlihat sangat kurus. Cuma tinggal kulit membalut tulang. Wajahnya juga menyiratkan kelelahan luar biasa, seakan hidup bapak habis untuk merenda penderitaan. Aku cuma tertegun memandang bapak. Ya Allah, itu bapakku.

“Mau apa bapak pulang?”

Itulah yang akhirnya tercetus dari bibirku. Bibirku sempat membisu. Luka di hatiku kini berdarah lagi. Apa bapak pulang untuk menambah panjang daftar kekecewaanku lagi? Apa bapak pulang untuk menguras air mata ibu lagi?

“Nur, biarkan bapakmu masuk dulu. Istirahat dulu. Jangan galak begitu,” ibu berusaha menengahi. Menyambut bapak pulang. Mempersilakan bapak selayaknya tamu kehormatan.

Ah, ibu. Ibu rupanya sudah sembuh dari luka lama itu sampai bisa bersikap ramah pada bapak. Apa ibu lupa apa yang sudah bapak lakukan pada kita? Enam belas tahun lalu, aku masih kelas tiga SD, masih terlalu kecil untuk mengerti, bapak telah menyakiti kita. Apa ibu sudah memaafkan bapak yang tidak ada angin tak ada hujan meninggalkan kita? Kita ini kurang apa, bu? Kita menyayangi bapak. Aku selalu patuh. Ibu juga sudah menjadi istri yang baik. Tapi kenapa bapak lebih menyayangi perempuan muda yang membuka warung di seberang rumah kita itu? Apa ibu tidak sakit hati ketika bapak kabur dengan perempuan itu? Apa surat cerai yang bapak layangkan sanggup menyembuhkan luka hati ibu?

“Bagaimana kabar, mas?” tanya ibu. Aku melengos.

“Baik,”

Baik? Cuma itu? Apa bapak selama ini belum dapat ganjaran atas apa yang bapak lakukan padaku dan ibu? Kenapa Allah begitu baik pada bapak?

Tapi entah kenapa, bapak terlihat lain. Bapak kuyu. Sepertinya sangat lelah. Badan bapak juga menyusut drastis. Helai-helai uban juga mulai mengakar. Sosok bapak terlihat ringkih. Mengingatkanku pada sepotong ranting yang dipatahkan angin dan terbang entah ke mana.

“Kabar Siti bagaimana?”

Aku lebih terperangah. Buat apa ibu menanyakan kabar perempuan itu? Aku saja tidak sudi mendengar namanya. Namanya saja yang bagus, tapi kelakuannya jahat. Dia merebut bapak dariku dan ibu. Sikapnya yang ramah cuma akal bulus untuk menjerat bapak. Untuk menipu ibu dan aku. Seakan sudah habis lelaki di dunia sehingga perempuan itu mengambil bapak dari kami.

“Suci baik. Dia di rumah. Sengaja tidak kuajak,” jawab bapak lirih.

Baguslah. Untung perempuan itu tidak ikut. Mungkin wajahnya sudah kutampar sekuat tenaga. Aku benci perempuan itu. Perempuan yang tega membuatku dan ibu jadi merana.

Ya Allah, kenapa aku begini jahat? Apa sakit hati telah menggerogoti kemanusiaanku? Mau dikata apa. Penderitaan selama ini membuat kenangan bapak adalah petaka di ingatanku. Dan kenangan ini menyulut nyala api kemarahan yang kujaga tetap redup di hati

“Nur, bagaimana sekolahmu? Kamu sekolah sampai tingkat apa?” tanya bapak, “maaf, bapak jarang memperhatikan sekolahmu.”

Darahku mulai mendidih. Apa bapak kira aku drop-out dan jadi gelandangan sepeninggal bapak? Tidak! Aku sanggup menyelesaikan semua sampai tamat kuliah. Semua kujalani. Belajar sampai tengah malam. Mengejar segala macam beasiswa dengan tertatih-tatih. Sampai hilang masa kanakku. Sampai aku tak tahu rasanya tawa anak remaja. Yang kutahu bagaimana meraih nilai terbaik, sekaligus terjun ke usaha katering ibu demi satu dua lembar rupiah. Semua demi ibu. Supaya penderitaan ibu lebih berkurang. Supaya ibu bisa tersenyum dan membanggakanku.

Tidak seperti bapak yang hanya bisa membuat ibu menangis.

“Tanpa bapak pun, aku bisa jadi insinyur.” Aku menjawab ketus. Tapi perih di hatiku lebih menyiksa.

“Alhamdulillah,” ucap bapak jauh lebih lirih.

Sebenarnya aku tidak tega. Sosok di hadapanku itu, tak dapat kupungkiri, memang sangat kurindukan. Tapi bila kuingat apa yang telah bapak lakukan,…

“Nur, maafkan bapak.”

Astaghfirullah, aku tak sanggup melihat sebutir air mata turun di pipi bapak yang cekung.

“Bapak pulang untuk minta maaf padaku?” tanyaku dengan sorot mata tajam.

Bapak menatap ibu. Dalam tatapan mereka, masih kutemukan sisa cinta yang nyalanya sangat redup. Entah di mataku sendiri masih ada cinta untuk bapak. Aku ingin mencintai bapak, tapi kesedihanku selama ini membentengiku dari rasa itu.

“Bapak pulang untuk jadi wali nikahmu,”

Gelegar petir serasa menyambar dan membelahku jadi dua. Jadi wali nikahku? Bapak tidak ingat apa yang telah dilakukan padaku dan ibu. Ke mana bapak ketika aku membutuhkan kasih sayangmu? Ke mana bapak ketika kami butuh perlindungan? Ke mana bapak selama ini? Bagaimana bisa bapak menagih hak itu? Hak itu telah lenyap tepat saat bapak melangkahkan kaki keluar dari kehidupan kami.

“Kamu mau, Nur?” tanya bapak. Memohon tepatnya.

Aku bangkit dari dudukku. Bibirku beku. Rasanya ingin marah. Tetapi menatap mata yang rapuh itu, aku tidak tega. Yang ada cuma air mata. Meluncur mulus membasahi pipiku. Harus kujawab apa? Aku cuma bisa tersuruk menangis di atas kasur, sendiri.

***

Aku melipat mukena sekenanya. Baru waktu maghrib mulai menjauh menjelang isya. Ibu berdiri di depan pintu kamarku. Beliau khawatir. Maklum, sejak bapak pulang, aku mengunci diri. Aku tak mampu berbohong pada ibu. Juga tak tahu apa lagi yang harus kulakukan.

“Nur, ibu minta maaf.” Ibu membelai kepalaku lembut.

“Maaf apa, bu?”

“Ibu yang kemarin mengirim undangan nikahmu ke rumah bapak,”

Aku terhenyak. Ibu?

“Ibu enggak tega, Nur, melihat kamu menikah tanpa didampingi wali yang seharusnya. Ibu enggak mau kamu mengingkari bapakmu sendiri. Bapak masih hidup, kamu tahu itu, kenapa kamu harus meminta wali hakim?”

“Tapi bapak sudah menyakiti aku, bu. Apa ibu lupa? Bapak meninggalkan ibu untuk perempuan lain. Bapak menceraikan ibu. Kita ditelantarkan. Apa ibu lupa gimana susahnya ibu kerja untuk menghidupi kita? Aku yang harus mati-matian hidup dari beasiswa. Baju pun menunggu sumbangan dari saudara. Kita ini hidup melarat karena bapak. Kita nelangsa begini ulah bapak. Kenapa sekarang aku enggak boleh marah? Kenapa sekarang aku enggak boleh menolak permintaan bapak?”

“Bapakmu khilaf. Namanya juga manusia. Kamu toh juga pernah berbuat dosa, kan? Nur, maafkan bapak. Ibu saja sudah ikhlas. Lagipula, biar kamu benci bapakmu seumur hidup, toh tidak akan mengubah nasib. Malah kamu sendiri yang capek,”

“Tapi di sini masih sakit,” ujarku sambil menunjuk dada, “aku enggak rela kalau bapak jadi waliku. Aku malu, bu. Mas Gunadi, calon suamiku, mau bilang apa aku sama dia?”

“Gunadi pasti ngerti, Nur. Dia menikahimu kan lillahi ta’ala. Saat dia bulat tekad untuk melamarmu, dia pasti sudah siap segala resikonya. Menerima kamu utuh apa adanya. Barusan ibu telepon dia. Dia mengerti dan maklum. Bahkan dia sangat senang mendengar bapakmu sendiri yang akan menjadi walimu,”

“Kenapa bapak menuntut haknya? Ke mana dia ketika harus menunaikan kewajibannya pada kita?”

“Ini juga termasuk kewajiban bapak terhadap anak perempuannya. Menjadi wali nikah. Maafkan bapakmu, Nur. Allah saja bisa mengampuni dosa umatnya. Kamu yang manusia biasa malah tidak mau. Maafkan bapakmu, ya? Ijinkan dia jadi walimu.”

Aku diam. Air mataku terus berleleran tanpa henti. Bapak benar-benar pulang tepat waktu. Lusa aku akan menikah. Lusa pula bapak akan melepaskanku. Mempercayakan kebaikanku pada Mas Gunadi. Setelah apa yang terjadi selama ini. Bapak, bapak, kenapa kepulanganmu membuat semuanya jadi serba salah?

***

Aku tak sanggup menatap para tamu. Bahkan aku tak sanggup menatap wajah calon suamiku. Seperti ada beban yang tengah kupanggul. Aku cuma menunduk menatap ujung kebaya putihku. Akhirnya bapak bersanding dengan kami semua. Kukabulkan keinginannya. Biarlah bapak menunaikan kewajiban terakhirnya. Walaupun ratusan kewajiban sempat lalai, tapi biarlah bapak menikahkanku. Toh memang itulah kewajibannya.

“Saya,… saya,…” bibir bapak gemetaran.

Kuberanikan melihatnya. Binar matanya terhalang selaput bening air mata yang hampir jatuh. Bapak menatapku. Bapak menitikkan air matanya untukku.

“Saya nikahkan,… Gunadi Bin Margono dengan,… Nurmi binti Aidin,… dengan,… mas kawin,… se,… seper,… seperangkat alat sholat dibayar,… tunai,”

Ada kelegaan luar biasa ketika bapak tuntas menyatakan kalimat itu. Jantungku makin berdegup kencang. Darahku mengalir dengan cepat. Aku bahkan tak sanggup menenangkan jemariku yang terus bergetar.

“Saya terima nikahnya Nurmi binti Aidin dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai,” jawab Mas Gunadi mantap.

Alhamdulillah. Suara bapak membacakan ijab dan mas Gunadi membaca kalimat kabul, merontokkan seluruh benteng besi yang menaungiku. Kutatap wajah bapak. Lagi-lagi ada air mata. Entah kenapa bapak menangis. Mungkin karena akhirnya bisa menunaikan kewajiban menikahkanku. Atau karena merasa bersalah padaku. Atau mungkin juga air mata penyesalan. Bapak tersenyum menatapku. Senyumnya tulus. Beban yang kulihat menggelayuti matanya mulai sirna. Mungkin bapak lega karena ada Mas Gunadi yang akan selalu menjagaku. Mungkin juga lega akhirnya bisa memberikan kewajiban terakhirnya.

Aku ikhlas, pak. Aku senang bapak pulang. Walau kelihatannya aku sangat membenci bapak, tapi tidak ada yang tahu seperti apa kerinduanku padamu. Bapak, semoga kepulangan ini membawa berkah untuk semuanya.

***

“Nurmi, anak ibu,…” ibu menggenggam erat tanganku. Menatapku penuh haru. Susah payah air matanya ditahan. Aku hanya bisa memeluknya.

“Kamu cantik sekali, nak.”

“Ibu,…”

“Terima kasih, kamu akhirnya ikhlas dinikahkan oleh bapakmu sendiri. Apa artinya kamu sudah memaafkan bapak?”

“Insya Allah, bu.”

Mataku berkeliling di antara tamu-tamu yang menghadiri walimah di rumah kecil ini. Sanak keluarga dan handai taulan datang ke acara sederhana ini. Tapi kenapa tak kutemukan sosok bapak? Ke mana bapak?

“Bu, bapak mana?”

“Bapak pulang, nak.”

“Pulang?”

“Iya, kewajibannya kan sudah selesai untuk menikahkanmu. Makanya bapak langsung pulang. Bapak masih merasa bersalah padamu. Ia tidak tega menghapus senyum kebahagiaan di hari pernikahanmu ini.”

“Tapi bapak belum pamit,”

“Tadi bapakmu sudah pamit sama ibu, juga Gunadi. Bapak enggak berani pamit sama kamu. Takutnya kamu emosional lagi.”

“Aku kan belum minta maaf sama bapak atas kelakuanku kemarin, bu.”

“Bapak akan selalu memaafkan kesalahanmu, sekecil apapun itu. Makanya maafkan bapak. Lupakan semua ulahnya dulu. Toh, selamanya bapak akan selalu jadi bapakmu, kan?”

Aku mengangguk. Kucari lagi sosok bapak di antara tamu. Tapi bapak lenyap bagai ditelan bumi. Padahal, aku belum sempat minta maaf. Padahal, aku belum sempat melepaskan rasa kangen yang sejak lama memelukku. Padahal, aku belum puas mereguk kasih seorang bapak. Aku ingin sekali mencium tangan beliau. Ingin memberitahu bapak betapa aku sangat menyayanginya.

Bapak, pulanglah kembali ke rumah. Nurmi kesayanganmu ini akan selalu menerimamu.

***

Entahlah. Dua minggu lewat, aku tak mendengar kabar apa pun dari bapak. Bapak yang entah ke mana tanpa bilang apa-apa. Biarlah. Aku terbiasa menahan kerinduanku pada bapak. Tapi entah sampai kapan aku sanggup menyembunyikan kerinduanku ini. Dalam darahku mengalir darah bapak juga. Sebesar apa pun dosanya takkan mungkin tidak kumaafkan. Aku hanya ingin bapak pulang. Pulang kembali ke rumah ini.

Aku baru saja menyiapkan sarapan untuk mas Gunadi. Belum ada jam enam pagi. Telepon sudah berdering memecah sunyi.

“Assalamu’alaikum,” sapaku.

Tidak ada jawaban. Yang di seberang cuma terisak-isak sedih. Aku mengernyitkan dahi. Mas Gunadi mengalihkan pandangan dari koran yang dipegangnya. Ibu juga ikut menatapku. Aku sendiri bingung.

“Assalamu’alaikum?” ulangku.

“Sa,… salam lekum,… ini mbak Mimin, ya?” jawabnya sembari terisak.

“Bukan, ini Nurmi, anaknya. Ini siapa?”

“Nurmi? Ini Siti, masih ingat sama saya?”

Aku terdiam. Harus kujawab apa? Apa harus kubentak-bentak, kucaci maki, lalu kubanting teleponnya? Atau harus kujawab penuh keriangan seolah tak pernah ada apa-apa?

“Ada apa?” tanyaku datar. Dingin.

“Mas Aidin, Nur,… bapakmu.”

Perasaan tidak enak menyergapku. Seperti firasat yang mengacaukan degup jantungku dan mulai mengacak-acak isi perutku.

“Kenapa bapak?”

“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Nur, bapakmu pulang kembali ke rumah Gusti Allah.”

“Bohong!”

“Saya enggak bohong, Nur. Baru sejam yang lalu.”

“Bohong!”

Mas Gunadi dan ibu menghampiriku yang berteriak histeris. Memegangi lenganku yang gemetaran.

“Apa bapakmu enggak pernah cerita, Nur? Bapakmu lima tahun ini mengidap kanker paru-paru. Dokter memvonis tidak ada harapan. Makanya bapakmu ngotot,… nekad untuk jadi wali nikahmu,…”

Gagang telepon itu lunglai ke bawah. Seperti aku yang jatuh terduduk lemas. Pikiranku melayang entah ke mana.

“Halo? Halo?”

“Nur, kamu kenapa? Nur,…”

“Istighfar, Nur. Istighfar,…”

“Halo?”

Suara-suara meracau di telingaku. Aku menatap langit-langit yang kosong. Tiba-tiba wajah bapak timbul tenggelam. Mulai menari-nari memutar kembali memori. Bapak yang pernah kubenci. Bapak yang tak henti kusayangi.

Bapak pulang,…

***

(didedikasikan untuk keluarga yang pernah terluka : selamat atas kesembuhannya)

Tangerang, 25 Agustus 2004

Antologi “Sahabat Pelangi” terbitan Lingkar Pena Publishing House, 2005

Tidak ada komentar: