Senin, Juni 06, 2011

Melati Akan Berbunga Kembali

Wanita itu lagi. Dia selalu menyambut pagi dan mengantar malam di ruanganku. Cuma berdiri menatapku. Apakah itu iba? Aku tetap di sudut ruangan. Meringkuk. Sakit. Mataku mulai kabur. Jutaan jarum, mungkin milyaran, seperti menjajah urat-urat nadi. Seperti dirajam. Rasanya ingin mati,… ah jangan,… kata orang akhirat itu mengerikan. Jangan mati sekarang. Aku belum siap. Tapi sakit, pedih, siksa, tak henti menderas tubuhku. Entah sampai kapan. Rasanya raga ini terus melemah. Kutatap balik wanita itu. Ia masih diam. Tolonglah aku, wahai engkau yang digariskan untuk menyelamatkanku! Aku belum mau meregang nyawa. Jangan menangis. Tangismu akan melumpuhkan perjuanganku. Napasku hampir putus. Tarikannya memberat. Aku tak bisa menghentikan dingin yang gigilkan seluruh ototku. Tolong aku!

***

“Bagaimana keadaanmu?”

Dia datang lagi untuk menatapku dalam diam. Selalu begitu. Membiarkan aku melewati detik-detik penyiksaan sendiri. Hampir mati. Entah bagaimana aku masih bisa bernapas lagi ketika hembusan kurasa melesap. Aku masih hidup. Bertahan melewati penyiksaan yang berulang mengoyak tubuh ini.

“Masih sering terasa sakit?”

Pertanyaan itu berlalu lewat diamku. Ada rumpunan bunga melati di taman kecil depan jendela kamarku yang berterali besi. Wangi. Kubiarkan matahari membasuh semua kotoran-kotoran di tubuhku. Hangat. Hangatnya luluhkan dingin yang sering menggerus tulangku belakangan ini. Wanita itu ikut menghayati keheningan yang kuciptakan sendiri. Mungkin benaknya menerka-nerka apa yang tengah kupikirkan saat ini.

Sepasang mata itu terus saja menyimpan rasa. Seperti rahasia. Sama seperti dia yang menerka pikiranku, sesekali aku juga berusaha mengartikan sikapnya padaku. Aku tidak pernah mengenalnya. Tidak sekalipun menerjemahkan sosoknya dalam ingatanku sebelumnya. Tapi dia memandangku seakan aku adalah serpihan hidupnya yang terserak lalu hilang ditiup angin.

***

Rasa sakit yang belakangan melumatku dalam detik-detik yang panjang berangsur-angsur terkikis. Sesekali saja aku kini merasakannya. Dokter Ranti bilang sebentar lagi sakitku itu pupus. Siksaan yang membuat syarafku remuk akan segera berakhir. Lalu tinggallah sugesti seumur hidup. Keterikatan yang mulai samar tapi terus membayangiku. Aku tak pernah menghitung hari di tempat ini. Buat apa? Sakit yang masih kambuh, seakan menjadi ritual harian. Hasrat abadi untuk mencicipi serbuk halus, membiarkan butirannya kembali menyelami darahku, mulai mengantarkanku untuk tak menjejak bumi lagi. Aku takkan bisa sembuh. Aku tak mungkin menjadi manusia baru sesuai jaminan dokter Ranti. Selamanya aku akan tinggal di panti ini.

“Assalamu’alakum,”

Dokter Ranti mengunjungiku untuk kesekian kalinya. Di balik jubah medis putihnya, tersembul baju terusan panjang kuning gading. Senada dengan jilbab yang dia biarkan ujungnya jatuh menutupi dada. Dokter Ranti terlihat segar, juga cerah. Diam-diam aku malu. Sudah berapa hari aku tidak mandi. Pernah kuberanikan diri bercermin. Seperti kelam menggelayuti wajahku. Tak ada sinar di mataku. Cekung. Ke mana rona merah yang menghiasi pipiku dulu? Seperti ada yang menyedotnya masuk membentuk jurang di rahang. Rambutku kusut, ujung-ujungnya mencuat di sana-sini. Ah, pantaskah aku disebut manusia? Aku lebih serupa mayat hidup.

“Alaikum salam,”

Mata ini masih mencoba merekam sosok itu. Matanya yang teduh itu membawa kenangan akan seseorang. Kenangan yang mati-matian kukubur tapi selalu gagal. Kenangan yang pasti datang di malam-malam sepi. Apalagi kalau dokter itu tersenyum. Seperti ada perih lama yang belum sembuh. Mungkin hatiku sudah soak. Terlalu banyak merasakan rasa. Semuanya campur aduk. Lumat dalam masa lalu yang diam-diam kususun kembali.

“Mel, tadi tante Soel menanyakan kabarmu. Beliau kemari. Sepertinya tantemu ingin mengajakmu pulang barang sehari saja. Tanggal sepuluh besok. Hanya saja kondisimu masih belum memungkinkan untuk keluar,”

Tanggal sepuluh? Benang-benang silam seperti tersulur kembali mengetuk ingatan. Tante Soel, adik ibuku, datang. Tante Soel yang merawatku dua tahun belakangan ini. Tepat sebelum jejakku merambah ke panti ini. Apakah sudah lenyap rasa marahnya padaku? Apakah dia tidak membenciku lagi. Ah,… seperti slide yang diputar dengan cepat. Aku masih ingat nyalang matanya. Murka. Mendapati aku yang bergelimang dosa. Ditemani bubuk-bubuk putih bertebaran di penjuru kamarku. Bong. Alat suntik. Belasan pil-pil yang terbungkus dalam plastik obat. Botol-botol kosong yang carut-marut di lantai. Tante Soel menatapku nanar. Aku membalasnya dengan tawa mengejek. Dan itulah pertama kalinya beliau menamparku. Dua kali tamparan yang menyurukkanku di lantai dengan setetes merah di ujung bibir. Aku tidak marah padanya. Bencipun tidak. Aku tahu hatinya lebih sakit. Bahkan sakitnya mulai berlipat saat mengantarku singgah di panti ini. Masih jelas air mata Tante Soel untukku. Sebuah ketulusan yang mendorongku untuk lahir kembali.

Dokter Ranti masih menatapku lekat. Entah mengapa dia begitu suka menatapku. Jemari lentiknya mengusap lembut titik di pipiku.

“Tanggal sepuluh besok tepat dua tahun ibu saya meninggal,”

“Tante Soel sudah cerita,” jawabnya. “Sebenarnya saya bisa mengatur jadwal agar kamu bisa keluar dari panti sehari saja. Tentu saja dengan kawalan saya,”

Aku bangkit dari tempat tidur. Lagi kupandangi rumpunan melati di depan jendela kamarku. Kelopaknya bergoyang-goyang mengantarkan wangi menembus indera.

“Dokter pikir ibu saya senang melihat anaknya datang?”

“Lho kenapa enggak?”

“Dokter tahu kenapa saya diberi nama Melati? Itu doa ibu saya. Agar saya bisa secantik bunga melati. Sikap saya bisa seharum wangi melati. Bunga yang disukai banyak orang. Tapi saya sekarang lebih bau dari bunga bangkai. Ibu pasti kecewa,”

“Tapi kamu hampir sembuh, Mel.”

Aku diam. Sebenarnya bukan cuma narkobalah aku malu bertemu ibu. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Ada satu permintaan beliau tepat sesaat sebelum beliau pergi yang belum mampu kuwujudkan sampai detik ini. Rasa marah, kecewa, benci, juga gengsi menekanku sekian lama. Lalu menuntunku untuk mencicipi dosa yang jauh lebih besar sehingga terpuruk di sini.

***

“Assalamu’alaikum,… iya,… oh, dia,… iya saya mau ketemu dia pagi ini. Iya,… dia baik-baik saja. Hampir sembuh. Saya berusaha, mas. Insya Allah,… iya, mas,… Wa’alaikumsalam,”

Sejenak aku merasa tidak enak menguping pembicaraan itu. Sedetik setelah dokter Ranti mematikan ponselnya, aku memberanikan diri untuk masuk ruangannya. Tanpa mengetuk pintu. Tanpa salam.

“Melati?” Dia seperti tergeragap. Wajahnya pias. Kemudian berangsur normal kembali. Ia tersenyum setelah yakin semuanya baik-baik saja. Tapi aku tak bisa dibohongi. Dokter Ranti juga tidak pandai berdusta untuk menutupi rasa gugupnya.

“Saya boleh masuk, kan?”

Aku tak perlu menunggu jawaban. Dokter Ranti sangat mengharapkan aku untuk bertandang ke ruang konselingnya. Iya, dialah konselorku. Terapisku. Apapun namanya. Tapi aku selalu mangkir dari jadwal. Kenapa untuk terapi saja harus membutuhkan tempat khusus? Kursi beludru merah ini memang sedikit nyaman. Kontras dengan biru muda yang melapisi dinding. Aku suka gordennya, biru tua, cocok sekali.

“Assalamu’alaikum,”

Teguran dokter Ranti membuatku terhenyak. “Wa’alaikumsalam. Maaf, tadi saya nyelonong.”

Plakat itu tertulis dr. Ranti Kartika. Dipajang apik di garis depan mejanya. Ada satu buku diktat tebal yang terbuka di sebelah kiri tepat bersanding dengan pesawat telepon dan lampu baca. Ada jejeran tafsir qur’an di sebelah kanannya.

“Dokter sering baca tafsir?”

“Ya, berguna sekali. Saya sering menggunakan pendekatan islami untuk pasien saya. Tafsir membuat saya lebih mudah memahami isi qur’an.”

“Ah,” kualihkan mtaku pada sebingkai foto. Ada balita tersenyum di balik kaca, memakai kopiah putih dan tersenyum. “Ini anak dokter?”

“Namanya Muhammad Aulia Akbar. Umurnya dua tahun,” jawab dokter Ranti. “Kudengar kamu juga punya adik laki-laki. Siapa namanya?”

Aku tertunduk. Jemariku mempermainkan ujung kemeja, tanda rasa kacau. Entah kenapa aku tak berani memandang wajahnya, “saya tidak tahu.”

Kudengar dia menghela napas berat. “Sudah kuduga. Kamu pasti tidak tahu namanya. Tidak tahu rupanya. Tidak tahu apa-apa tentang dia kan?”

“Saya ingat tanggal lahirnya. Tanggal sepuluh, tepat ketika ibu saya meninggal. Dia pasti sekarang sebesar anak dokter.” jawabku masih tertunduk.

“Jadi kamu menyalahkan adikmu atas perginya ibumu dua tahun lalu?”

Ya Tuhan, ya Allah, masih bolehkah kusebut nama-Mu? Perih yang belum kering itu menguak kembali. Darahnya mengucur deras. Sederas ingatan yang kupaksa untuk lupa, tapi terus berputar. Aku tak mungkin lupa saat ibu berjuang melawan sakratul mautnya. Tertatih-tatih menanti malaikat Izrail. Perjuangan ibu sangat halus, tidak terlihat sakit kanker rahim yang menggerogotinya, tapi aku tahu itu sangat berat. Kalau kuingat ibu, maka datang nama bapak. Cuma namanya saja.

“Pak, ibu ada di rumah sakit. Datang ya pak,”

Gagang telepon itu susah payah kupertahankan dengan tangan yang gemetar. Kesekian kali kutelepon bapak. Aku tak yakin berapa lama lagi waktu ibu. Bapak di seberang malah diam.

“Melati, bapak lagi di Depok, juga lagi di rumah sakit. Ibu,…maksud bapak,…Tante Tika sedang bersalin. Adikmu sebentar lagi lahir,” jawabnya kemudian. “Tapi bayinya terlilit usus,…”

Jatuh gagang telepon itu, berayun-ayun. Tak kudengar lagi omongan bapak. Mataku menangkap derap dokter dan suster menuju kamar ibuku. Jantungku berdetak lebih kencang dari kaki mereka. Aku berdiri di balik tirai sekat kamar. Pasrah kulihat di wajah dokter. Ya Allah, kulihat tangan ibu begitu lemah berusaha menggapaiku. Aku cuma bisa menangis. Sejenak kugenggam tangannya, belum lama asma-Nya kubisikkan di telinga ibu, kurasakan ibu mulai pergi. Matanya terpejam. Ada bulir dingin mengalir di ujung matanya.

Tante Soel menutupkan kain putih ke tubuh ibu. Aku cuma terduduk di lantai, bahu berguncang, menangis sejadinya. Jilbabku sudah basah, oleh keringat dan air mata. Entah berapa lama aku menangis, tak ada yang berani mengusikku.

“Mel, barusan bapak telepon.” Tante Soel merengkuh pundakku. Mengajakku berdiri. Mendudukkanku di kursi tak jauh dari ranjang ibu. Merapikan jilbabku. “Tante Tika sudah melahirkan. Adikmu laki-laki. Namanya,…”

“Tante nggak usah sebut nama bapak, Tante Tika, atau adik itu. Melati benci. Tante pikir kenapa bapak nggak menjenguk ibu? Bapak sibuk sama istri mudanya. Repot sama anak barunya. Lupa sama ibu, lupa sama Melati karena sudah punya anak laki-laki. Buat Melati ini nggak adil. Bapak nikah lagi itu nggak adil. Apa kalau ibu nggak bisa memberi anak laki-laki, itu salah ibu? Kenapa bapak nggak salahkan Allah aja yang nggak menitipkan anak laki-laki di rahim ibu?”

“Huush! Kualat kamu nanti. Itu durhaka namanya.”

“Melati nggak mau tinggal sama mereka. Sama Tante aja, ya? Pliiis,…”

“Apa kamu nggak mau memenuhi permintaan terakhir ibumu untuk hidup rukun dengan keluarga barumu?”

Sampai sekarangpun aku tak pernah tahu bagaimana wajah Tante Tika atau adik laki-lakiku. Benci, marah, kecewa, semuanya meresap ke setiap sel tubuhku. Sejak awal bapak meminta ijin untuk menikah lagi, aku sudah membenci wanita itu. Tapi ibu memberi restu. Bapak menikah, aku tidak datang. Ibu malah menjadi saksi nikah mereka. Ya Allah, terbuat dari apakah hati ibuku? Mengapa tetap setia untuk bapak? Beberapa kali kupergoki ibu menanti di ruang tamu, di balik tirai, mengharap bapak pulang. Sering kulihat ibu menangis diam-diam, mendekap foto bapak di dada. Tapi kesetiaan itu tak terbalas. Bapak pulang seminggu sekali. Uang belanja terbagi dua untuk ibu dan wanita itu hingga ibu membuka toko kelontong. Dan di akhir usianya, beliau tak sempat bersua dengan bapak, lagi-lagi karena wanita itu dan bayi laki-laki yang luar biasa diharapkan bapak.

“Melati?” Panggilan lembut itu menarikku keluar dari silam.“Kenapa kau lepas jilbabmu?”

Aku meraba kepala. Memang tak ada lagi hijab di sana sejak ibu pergi. Sejak kecil ibu dengan telaten mengajariku sholat, berdoa, bahkan mengaji. Semua beliau lakukan sendiri. Aku terpesona akan kelembutan ibu. Maka ketika beliau menghijabiku, aku tak menolak. Bahkan aku merasa sangat bangga. Merasa sangat cantik. Sayang ibu meninggal dengan cepat. Membuatku kecewa. Membuatku merasa sia-sia memakai jilbab. Tak ada lagi dorongan untuk bersyariat. Aku melepasnya. Aku mulai mencicipi gaya hidup keblinger. Aku doyan pakai baju mini. Mempertontonkan aurat. Rokok. Aku juga akrab dengan bar dan segala isinya, sampai narkoba menghampiriku. Semua itu untuk balas dendam. Karena aku kecewa.

“Ibu sudah pergi. Memakai jilbab tidak akan mengembalikan ibu,”

Dokter Ranti mendesah. Dari laci ia mengeluarkan bungkusan. Pelan dia menarikku ke arah cermin yang dipasang di salah satu sudut ruangan. Aku menurut. Aku berkaca. Kini tampilanku lebih baik. Aku sudah mandi. Rambut sudah tersisir. Bahkan kurasa bobotku naik sedikit.

“Kamu islam, kan? Muslimah wajib memakai jilbab,” dokter Ranti memasangkan sehelai kerudung sutra di kepalaku. Warnanya putih, warna kesukaanku. Tercium wangi dari jilbab itu. Aku ingin berontak, tapi tak kuasa. Entah pada apa.

“Dan,” dokter Ranti menyemat peniti. “Jangan cuma tutupi kepalamu. Tutup lehermu, pundakmu, dadamu, itulah inti berjilbab, kan? Menutup aurat.”

Perih sedemikian kilatnya mendera hati. Dadaku terasa remuk. Matanya mengingatkanku pada ibu. Senyumnya mirip senyum ibu. Ah, adakah wanita yang sebegitu samanya? Siapa wanita ini? Mengapa sosoknya mampu membuatku menangis?

Aku masih tersengguk-sengguk. “Dokter tahu cerita anak-anak tentang ibu tiri yang jahat?”

“Kalau ternyata dia baik?”

“Tapi dia merebut bapak dari saya dan ibu. Wanita sepert itu jahat.”

“Mereka tidak akan merebut bapak dari sisimu. Kamu belum mengenal mereka, Mel. Paling tidak adikmu, dia pasti sudah besar, lucu, menggemaskan.”

“Tidak,”

“Jangan buat bapakmu sedih. Dia cukup terpukul karena kepergian ibumu, jangan kamu ikut pergi juga dari sisinya. Anak laki-laki atau perempuan, itu titipan kan? Bapakmu tahu itu.”

“Setiap saya lihat wajah bapak, saya ingat ibu yang menderita.”

“Pernah terpikir ibumu menderita melihat anaknya membenci bapak kandungnya sendiri?”

Aku terperangah. Sepasang mata yang lembut itu berubah tajam. Dokter Ranti mungkin tidak bermaksud menghakimiku. Tapi aku merasa seperti terdakwa yang bersalah pada ibu. Benarkah aku yang membuat ibu menderita? Tidak mungkin. Aku selama ini patuh, penurut,… Apa ibu meninggal karena bebannya memikirkanku terus-menerus? Tidak. Aku bukan anak durhaka. Aku tidak mau menyakiti ibuku sendiri.

“Mel, tunggu!”

Suara dokter Ranti memanggilku. Aku tak peduli. Aku cuma berlari sekencang-kencangnya. Aku berlari menyusuri lorong-lorong bangsal panti yang berkelok. Ah, bukan. Aku berlari meniti jejak hatiku sendiri. Mencari kebenaran. Sampai kaki ini berhenti melangkah.

Di rumah Allah. Mengapa kakiku membawaku kemari? Terus-terusan menyeret ragaku menyeruak ke dalam. Berapa lama tak kusapa masjid? Juga sejuknya air wudhu mengalir di pori kulitku. Menyusup ke dalam hati. Menenangkan goncang yang datang sejenak lalu. Lalu jubah panjang,… mereka menyebutnya mukena,… warnanya putih. Kenapa aku lama tak menyentuhnya? Masih mampukah aku untuk shalat? Aku sedikit ingat beberapa ayat. Tapi, bagaimana kalau Allah masih marah kepadaku karena belakangan ini aku melupakanNya? Ya Allah, masih bolehkah aku bersujud kepadaMu?

“Allahu Akbar,”

***

Ah, wajah itu terlihat makin tua. Gurat-gurat lelah menetap erat. Bapak jauh terlihat tua daripada usianya. Bapak kini tidak malu lagi menangis. Bapak menangisiku. Bapak memegang tanganku. Bapak memelukku. Aku cuma diam. Kenapa aku diam? Bukankah aku sudah berjanji pada Allah untuk berbaikan dengan bapak? Bukankah itu yang ibu harapkan sebelum ibu pergi?

“Maafkan Melati, pak.”

“Bapak juga minta maaf. Bapak bersalah. Bapak berdosa padamu. Maafkan bapak,”

Aku baru sadar bapak jauh lebih sedih. Bapak kehilangan ibu. Hampir kehilanganku. Aku tidak ingat berapa kali bapak mengunjungiku di panti. Membawa makanan kesukaanku. Membelikan aku buku-buku cerita. Semua kutolak dua kali lipat. Berarti aku terlalu sombong. Mungkin itulah penyakitku yang sebenarnya. Sekarang aku baru mau dijenguk. Sekarang aku rela untuk meminta maaf. Inilah yang dimaksud sembuh sebenarnya.

“Mana Tante Tika? Mana adikku? Mereka tidak ikut?” Aku cuma bisa lihat bapak sendiril di bangsal besuk. Tidak ada wanita muda yang membawa anak kecil.

“Assalamu’alaikum,”

“Alaikusalam,” jawabku berbinar. Pagi ini dokter Ranti terlihat cantik sekali. Dokter memakai gamis biru muda yang senada dengan jilbabnya. Tidak ada jubah putih. Tidak ada stetoskop. Hari ini mungkin dia libur. Itulah mengapa dia menggendong Akbar, anak laki-lakinya yang fotonya pernah kulihat itu. Jauh terlihat lebih tampan.

“Dokter, kenalkan ini bapak saya.” Aku semangat sekali pagi ini.

Pelan-pelan dokter Ranti memberikan isyarat agar aku mau menggendong anaknya.

“Lucunya anak dokter,” ujarku. “Adikku pasti sudah sebesar Akbar, ya pak?”

“Kenalkan, itu Akbar. Adikmu,” ujar bapak lirih, tapi penuh senyum.

Jantungku terasa jatuh ke lantai. Aku berharap bapak hanya bercanda. Tidak. Bapak tidak bercanda. Wajah dokter Ranti juga terlihat sama seriusnya. Kutatap adikku. Ah, dia memang mirip bapak. Hidungnya sama dengan hidungku. Dan ada senyum penuh kasih dokter Ranti yang diwarisi jejaka cilik itu. Ada selingkar cincin di jari dokter Ranti. Cincin yang sederhana. Mengapa selama ini aku tidak sadar cincin itu serupa dengan yang dikenakan bapak? Aku baru ingat. Ranti Kartika. Dokter Ranti. Tante Tika. Ah, apa bedanya mereka?

Semuanya luruh bersama angin. Dibawa pergi entah ke mana. Allah memang membawa pergi ibu. Tapi Allah tidak menelantarkanku. Inilah yang diaturNya.

“Bolehkah aku tinggal bersama kalian setelah aku keluar nanti?”

Bukan jawaban yang kudengar. Tapi pelukan semua orang yang mencintaiku. Ya, detik ini, Melati akan berbunga kembali.

***

Tangerang, 3-11 Desember 2003

Juara 3 Lomba Cerpen Majalah Muslimah 2004

Muat Majalah Muslimah no. 27/III/Oktober 2004

Tidak ada komentar: