Senin, Juni 06, 2011

Jeruk Untuk Mereka

Matahari bersinar cukup terik pagi ini. Tugu jam yang berdiri di tengah alun-alun menunjukkan pukul setengah sebelas lebih sedikit. Mang Sadi mengusap peluh dari balik topi rotan lusuhnya. Handuk yang tergantung di pundaknya telah bolak balik menyeka setiap butir keringat yang meluncur melewati kulitnya yang gelap.

Sudah tidak terhitung berapa mobil yang berseliweran di hadapan Mang Sadi. Namun, tak satupun yang menyempatkan waktu untuk membeli dagangannya. Dua keranjang besar yang penuh berisi Jeruk Pontianak belum tersentuh satu pembelipun.

Mang Sadi menghela napas berat. Sebenarnya hari ini tidak terlalu panas. Badannya saja yang agak kurang sehat. Rasanya ingin sekali ia pulang untuk beristirahat sekedarnya. Tapi dagangannya masih banyak yang belum laku.

Saat mobil sedan itu melambat, matanya mulai terang. Apalagi begitu menyadari mobil itu berhenti tepat di depannya. Mang Sadi merasakan darahnya bergejolak. Ia bersemangat.

“Ma, adek pingin jeruk!” seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun melongok dari kaca mobil yang terbuka. Tangannya menunjuk-nunjuk jeruk-jeruk Mang Sadi. Jeruk yang bulat-bulat, kulitnya mengkilap berwarna oranye, dan wanginya yang khas menggoda hidung.

“Ayo coba dek, jeruknya manis-manis lho.” tawar Mang Sadi. “Murah lagi,”

“Hussh! Adek apa-apaan sih?”

Senyum Mang Sadi menguncup. Seorang wanita setengah baya memasang wajah galak pada Mang Sadi. Matanya dihiasi alis yang dilukis tinggi dan bibirnya dipulas warna merah tua. Rambutnya disasak mengembang. Mang Sadi bisa mencium parfum yang wanginya menyengat.

“Adek pingin jeruk itu. Beli ya ma,” bujuk anak itu.

“Nanti mama beliin jeruk yang di supermarket aja ya. Jeruknya lebih manis dan lebih gede. Jeruk sunkis lebih seger lho dek,”

“Tapi jeruk saya ngga kalah seger, bu. Manis-manis lagi,” Mang Sadi menyahut.

“Saya ngga percaya sama tukang-tukang jualan yang di pinggir trotoar begini. Banyak bo’ongnya. Mendingan saya beli di supermarket. Lebih bagus kualitasnya,”

“Tapi adek pingin jeruk, ma. Adek pingin jeruk,” rengeknya makin menjadi-jadi.

“Iya iya, mama beliin. Pak sopir, kita langsung ke supermarket ya!”ujarnya sembari menutup kaca mobilnya yang gelap.

Mang Sadi ingin sekali mengutuk ibu yang sombong tadi. Dari dandanannya, Mang Sadi tahu dia orang berada. Boleh saja ia tidak membeli jeruk-jeruknya, tapi bukan berarti wanita itu boleh mencerca Mang Sadi sembarangan. Ia menatap jeruk-jeruknya. Mereka masih saja tergolek segar di sana tanpa mengeluh sedikitpun.

Matahari makin bersinar terik. Kepala Mang Sadi mulai berdenyut-denyut. Tubuhnya agak meriang. Mungkin debu-debu dan asap kendaraan bermotor yang ia hirup tiap hari ssebagai hasil kerjanya berjualan jeruk di trotoar mulai menunjukkan pengaruhnya. Setiap pagi Mang Sadi suka berpikir. Mengapa orang-orang kaya begitu jahat. Mereka hanya memberinya asap-asap mobil yang kotor, padahal ia tidak pernah memberikan hal buruk pada mereka.

Bapak sih tidak beternak ayam di kampung. Daripada keliling kota jualan jeruk, ngga menjanjikan, bergitulah ocehan Idah, istrinya. Pasti Idah akan meracau tentang nasibburuknya dan mulai menyalahkanku karena tidak bisa memberikan hidup yang lebih baik, batinnya menjawab miris.

Ingin rasanya Mang Sadi pulang. Ia masih kuat memikul dua keranjang besar yang penuh berisi jeruk. Tapi Idah pasti akan ngambek bila ia pulang tidak membawa uang. Semalaman ia pasti akan memasang wajah masam. Bahkan akan mulai mengomelinya. Tapi ada yang masih Mang Sadi syukuri. Idah selalu saja setia mendampinginya dalam kondisi apapun, walau keadaan ekonominya yang tidak pernah bisa diperkirakan.

Mang Sadi pun bertekad pulang lebih awal hari ini. Badannya terlalu lelah. Rasanya tulangnya akan rontok dalam hitungan detik bila ia tidak segera beristirahat. Dengan sisa kekuatannya dan kepalanya yang masih berdenyut-denyut, ia memikul dagangannya pulang.

Panas. Jakarta panas. Peluh Mang Sadi makin membasahi tubuhnya.

Ada pemandangan menarik sepasang matanya yang sayu. Di halaman sebuah kantor penerbitan, ada orang-orang berkerumun dan berkumpul. Ada yang berdiri di atas kotak kayu dan berbicara lantang ke arah teman-temannya. Lalu teman-temannya menyambut dengan mengelu-elukan sesuatu. Ada yang membawa karton, ada yang membawa spanduk, atau cuma sekedar berteriak sambil mengacung-acungkan tangannya. Mang Sadi jadi teringat demo-demo yang sering ditayangkan di tivi.

“Pak, ada demo ya?” tanya Mang Sadi kepada seseorang yang berjalan di sebelahnya.

“Iya, demo karyawan PT Percetakan Express. Mereka demo dari kemarin pak,”

“Buat apa mereka demo?”

“Menuntut pengunduran diri bosnya. Katanya sih bosnya itu dipilih karena KKN, apalagi orangnya diktator. Mungkin mereka tidak betah,”

Mang Sadi memperhatikan para pendemo itu. Seumur hidupnya ia tidak pernah berdemo. Seperti apa ya rasanya berdemo. Berdiri di tengah tempat lapang di bawah sengatan matahri sambil berteriak-teriak menuntut banyak hal. apakah tidak capek? Apakah tidak haus? Apa tidak kepanasan? Mang Sadi yang setiap hari bekerja di bawah matahari saja masih suka kalah tempur karena kepanasan.

Dua orang yang baru saja lewat menarik perhatian Mang Sadi. merka memakai pakaian yang sama dengan para pendemo itu. Mereka sibuk membicarakan sesuatu agak keras, sampai-sampai Mang Sadi bisa ikut mendengarkan.

“Aduh, bagaimana lagi? Kasihan teman-teman kalau terus-terusan berdemo. Hari ini terlalu panas. Aku takut banyak yang pingsan nanti,” ujar laki-laki yang bertubuh tinggi gempal.

“Habis bagaiman? Apa mau beli minum? Uang dari mana?” tanya temannya yang berkumis tipis dan badannya agak bungkuk.

“Dasar bos gendut. Punya hati nurani ngga sih,” umpat orang pertama. “Kita sudah susah payah berdemo sampai hampir pingsan, masa dia masih ngga tahu diri.”

Mang Sadi tercenung. Ia semakin penasaran bagaimana rasanya berdemo di bawah matahari yang hari ini sangat garang. Mang Sadi melihat mereka kelelahan, kepanasan, dan seperti hilang semangat. Ia tahu rasanya bertempur di bawah matahari. Tiba-tiba terbersit keinginannya untuk membantu ala kadarnya.

“Anu,…” Mang Sadi menghampiri kedua orang itu. “Boleh saya membantu?”

“Bapak siapa?” tanya laki-laki pertama.

“Saya penjual jeruk. Kebetulan hari ini jeruk saya masih belum terjual sama sekali. Bagaimana kalau semua jeruk saya untuk mereka? Jeruk saya manis-manis dan bikin segar tenggorokan,” ujarnya sambil menunjukkan kedua keranjangnya.

Pria yang kedua makin heran, “Apa bapak tidak rugi?”

Mang Sadi terdiam. Di benaknya terbayang Idah yang akan ngambek saat ia pulang tanpa membawa hasil. Apalagi ditambah jeruknya telah diamalkan untuk para pendemo. Namun, jeruk-jeruk ini akan membusuk bila tidak segera dimakan. Apalagi mereka nampak sangat membutuhkan jeruk ini.

“Ah, tidak apa-apa. namanya juga amal,” Mang Sadi membulatkan tekadnya. Ia tidak tega membiarkan orang-orang itu setengah terkapar.

“Yakin pak?” tanya mereka berbarengan diikuti anggukan mantap Mang Sadi.

Dengan sigap mereka bertiga menggotong keranjang besar jeruk itu ke arah kerumunan massa. Mang Sadi bisa menangkap sinar mata yang cerah dari para pendemo itu. Satu orang bisa mendapatkan sampai tiga jeruk sekaligus. Mereka tersenyum tidak percaya. Kedua lelaki menunjuk ke arah Mang Sadi dan mengelukan kebesaran hati Mang Sadi. para pendemo tersenyum dan tertawa. Mereka menepuk pundak Mang Sadi sebagai tanda bangga dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Rasanya Mang Sadi ingin menangis. Ia merasa seperti seorang pahlawan yang telah menyelamatkan hidup banyak orang. Orang-orang semakin terus menyalaminya. Hatinya langsung terasa sejuk. Walaupun kepalanya semakin terasa sakit.

***

“Apa? bapak memberikan semua jeruk bapak kepada orang-orang yang berdemo tanpa ada imbalan sedikitpun?” teriakan Idah hampir memekakkan telinga Mang Sadi.

“Amal bu,”

“Apanya yang amal? Pak, kita ini bukan orang kaya, jadi jangan meniru tingkah orang kaya.”

“Memang cuma orang kaya saja yang boleh beramal. Kita juga boleh kok,”

“Repot banget tho pak, orang kaya juga banyak yang ngga beramal. Sekarang bapak pulang ngga bawa duit, mana bapak juga lagi sakit. Kita hidup ini sudah susah pak, jangan dibikin tambah susah,”

“Udah bu, bapak lagi sakit. Ibu masih mau ngomel atau mengantarkan bapak ke Puskesmas?”

Idah diam. Dia ngambek.

“Yo wis, aku tak pergi dhewe,” Mang Sadi langsung bangkit menuju pintu.

Idah menatap suaminya. “Ya udah, aku temani bapak berobat,” Idah tidak tega membiarkan suaminya yang sakit itu berjalan sendiri ke Puskesmas.

Bau obat menyambut saat mereka tiba di Puskesmas yang sedang sepi. Tak banyak orang yang berobat. Selain mereka, cuma ada seorang ibu hamil tua dengan suaminya serta seorang bocah berusia empat tahun yang meringkuk di pelukan bapaknya.

TV 14 inch yang diletakkan di sudut ruang tunggu sedang menayangkan siaran berita sore. Mata Mang Sadi hampir terbelalak saat melihat siaran itu. Kamera mengarah ke halaman kantor yang tadi disinggahinya. Seorang reporter mewawancarai lelaki tinggi tegap yang tadi membantunya membagikan jeruk.

“Wah, saya bersyukur sekali ternyata bos-bos besar sudah memberhentikan bos gendut. Ternyata aspirasi kami didengar juga. Tidak sia-sia kami berdemo panas-panas begini,”ujarnya mantap.

“Oh iya,” tambahnya. “Saya ingin berterima kasih kepada penjual jeruk yang membantu kami tadi. Dia rela membagikan jeruknya cuma-cuma agar kami tidak kehausan. Saya salut padanya di jaman begini masih ada orang yang memperdulikan sesamanya seperti ini,”

“Ada pesan yang ingin bapak sampaikan?” tanya si reporter.

“Terima kasih ya, bapak penjual jeruk. Terima kasih sekali. Semoga amalmu dibalas Yang Maha Kuasa,” ujarnya sambil mengembangkan senyum yang sangat lebar.

Diliriknya Idah. istrinya itu melemparkan pandangan penuh tanya. Mang Sadi mengangguk beberapa kali seakan tahu apa yang sedang dipertanyakan Idah. Mang Sadi t

(Mengenang satu-satunya demo yang pernah aku lakukan)
Tangerang, 18 September 2002
Muat Kakilangit Horison Maret 2003

Tidak ada komentar: