Senin, Juni 06, 2011

Sabtu Bersejarah

SEMUA TERJADI DI HARI SABTU,…

Pukul setengah tujuh kurang sedikit

Sasa merasakan ada sesuatu yang salah pada dirinya. Kepalanya agak pening. Perutnya terasa sakit, walau cuma agak sedikit. Yang paling mengganggunya adalah moodnya yang tiba-tiba bete, padahal tidak ada yang salah dengan hari ini. Sasa sendiri tidak tahu apa yang terjadi.

Sebuah lengan merangkul pundaknya. Farah mengedipkan sebelah matanya. Sasa cuma tersenyum. Sahabatnya ini selalu saja membuat kejutan.

“Rambutmu wangi banget, Far. Abis creambath, ya?” tanya Sasa.

Farah menyibakkan rambutnya yang agak mengombak itu. “Iya,sekalian nemenin mama.”

Sasa ternyum lagi.

“Kapan-kapan kamu ikut yuk, kita creambath bareng mama. Asyik lho,”

“Farah enak, ya? Semuanya masih diurusin mama. Beda banget sama aku. Papa mana ada waktu untuk hal semacam itu,”

“Iiih, kok ngomong gitu. Jangan sedih, dong. Kan mamaku mama kamu juga. Nanti siang ke rumahku,yuk. Mama lagi eksperimen resep baru. Udang Pedas Saus Tiram Spesial. Hmmm,”

“Boleh, boleh,”

Brakk! Bahu Sasa membentur bahu seseorang. Wajah Sasa memerah saat melihat cowok yang menabraknya minta maaf dan berlalu pergi

“Cieee, yang lagi puber.” sindir Farah. “eheemmm,…”

“Ah, biasa aja. Siapa sih yang gugup ditabrak sama cowok sekeren Rico,”

“Udah, deketin aja. Ntar nyesel lho kalo nggak kenalan. Tahun depan dia mau masuk SMU , kan?”

“Tapi mana mau dia kenalan sama anak kelas satu seperti kita ini. dia populer di mana-mana. Ketua ekskul band yang ditaksir banyak cewek. Ngga berani, ah!”

“Payah!”

Sasa merasakan perutnya agak melilit. Dipaksakannya pula untuk tersenyum. Dan rok biru mereka melambai-lambai rendah tertiup angin pagi yang sejuk.

Pukul setengah delapan

Perut Sasa semakin terasa dipilin. Dari tadi ia menahan sakit sampai keringat dingin mengalir sebutir demi sebutir.

“Ah, kenapa soal biologi ini jadi terasa susah?” ujar Sasa sambil menatap kertas ulangan.

Farah melihat sahabtnya dengan cemas.

Pukul delapan lebih tujuh belas

Sasa seperti orang paranoid. Jantungnya derdetak kencang. Kepalanya berdenyut-denyut walau pelan. Ia meraba perutnya. Tidak ditemukan satu utaspun tali tambang di sana. tapi kenapa perutnya semakin terasa kencang dan melilit.

Bolak-balik ia menyeka keringat. Huh hah huh hah.tarikan napasnya itu tidak berhasik menormalkan degup jantungnya.

“Apa yang terjadi padaku?” pertanyaan itu sejak tadi hilir mudik di kepalanya.

“Kamu kenapa?”

Sasa cuma menggeleng. Farah makin cemas.

Pukul sepuluh kurang sepuluh

Sasa semakin senewen melihat jarum jam yang terasa lambat sekali. Detik yang berdetik seakan mengejeknya dengan sara melambatkan langkahnya. Ia makin gelisah. Perutnya makin terasa sakit. gadis itu bersumpah, begitu bel berbunyi, ia akan langsung melesat ke ruang PMR untuk mencari obat.

Waktunya istirahat

Ia bangkit dari kursinya dan setengah berlari ia meninggalkan Farah yang masih membereskan buku. Farah cuma terbengong-bengong.

Lima menit menjelang bel masuk

Sasa merasakan darahnya mengalir begitu cepat melintasi setiap inci pembuluh darahnya. Panas menyelimuti wajahnya. Sepasang mata sengaja dibuka lebar-lebar untuk memastikan apa yang dilihatnya itu. Jantungnya semakin berdetak kencang.

Apa yang dilakukan Farah di sana? Untuk apa ia berbicara akrab dengan Rico di depan perpustakaan tanpa mengajakku? Kenapa ia tidak bilang kalau ia kenal dengan Rico? Apa-apaan ini? Jadi,…

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Sasa kesal. Dihentakkannya kaki keras-keras di lantai sebelum ia berlari menuju kelasnya. Kesal. Sebal. Marah. Semua itu ditujukan untuk Farah.

Kriiiing,… bel masuk berbunyi

“Sa, kamu kenapa sih? Dari tadi tingkahmu aneh. Kamu sakit? Atau ada masalah?” tanya Farah tiba-tiba mengejutkannya.

Sasa tidak menjawab.

“Kok ngga dijawab sih?”

“Kamu tadi kenalan sama Rico ya?” tanya Sasa dengan nada tinggi. Dipasangnya tampang sebal. “Kok kenalannya ngga ajak-ajak aku sih?”

“Ituuu,…”

“Aku sebel sama kamu, Far. Kalau kamu emang temenku, buat apa kamu kenalan sama Rico di belakangku kayak gini. Keseeell!! Apa kamu juga suka dia?”

“Sa?”

“Ah, ngeselin!” Sasa menggebrak meja. Hampir seisi kelas melihatnya. Farah cuma terheran-heran melihat sahabatnya.

Sasa sendiri juga heran. Kenapa ia jadi seemosi ini. terhadap Farah pula. Aduuuuh, Sasa makin tersiksa dengan sakit perutnya sampai setetes air mata menggantung di ujung pelupuk matanya.

Hampir pukul setengah dua belas

Sasa sekarang duduk di sebelah Titin yang memang tidak punya teman sebangku. Dibiarkannya Farah duduk sendiri. Diam-diam ia memperhatikan sahabatnya itu. Farah memang manis. Kulitnya kuning tampak serasi dengan rambut ombaknya yang rapi terurai ke belakang. Alisnya tebal dan rapi. Kalau tersenyum, sepasang lesung pipi menghiasi wajahnya.

Farah lebih manis dariku, pikir Sasa. tiba-tiba ia merasa minder. Semakin ia memperhatikan Farah, semakin ia merasa bahwa dirinya bukan apa-apa. Mungkin Rico lebih pantas dengan Farah daripada dengan aku, batin Sasa. Apa jadinya kalau Farah ternyata juga suka kepada Rico? Akapah kami akan bersaing. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Sasa melamun tanpa memikirkan kembali sakit perutnya.

Kriiiing, waktunya pulang sekolah

Farah menghampiri Sasa yang sedang membereskan buku-bukunya. Dipasangnya wajah menyesal. Sasa hanya meliriknya sekilas.

“Sa, kamu marah sama aku, ya?” tanya Farah lirih.

Sasa diam.

“Aku mau minta maaf. Aku ngga punya niat apa-apa kok waktu kenalan sama Rico. Itu demi kamu juga,”

Sasa tetap diam.

“Sa, kok kamu diam aja sih?”

“Bodo!” Sasa langsung bangkit dari kursinya dan berjalan membelakangi Farah tanpa berkata apa-apa lagi.

Farah melotot. “Sa!”

“Saa!”

Ia menengok sebentar.

“Sasaaa!!” Farah langsung menarik tangan Sasa dan berbisik di telinganya.

“Kamu lagi dapet, ya?”

“Dapet apa?” tanya Sasa mengerutkan dahi.

“Lagi datang bulan, ya? Rok kamu tuh!”

Refleks Sasa menengok ke roknya di bagian belakang. Kakinya hampir lemas saat melihat noda merah tercetak di atas rok birunya. Sebuah noda yang besar. Tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit dan melilit.

Farah meraih tasnya dengan cepat lalu berjalan tepat di belakang Sasa, “Ayo ke kamar mandi dulu,”

Sasa cuma menurut saja.

Sepuluh menit kemudian

“Jadi ini haid pertama kamu, Sa?” tanya Farah.

Sasa cuma mengangguk. Ia melihat roknya yang dicuci seadanya dan memasukkannya ke dalam tas plastik.

“Untungsaja aku tadi bawa pembalut dan rok cadangan. Hampir saja,” ujar Farah lagi. “Kebetulan sekitar tiga hari ini mungkin aku juga mau dapet. Jadi mama sudah siapin semuanya di tas,”

“Farah beruntung masih punya mama yang mengurusi semuanya. Coba kalau seperti aku. Mamaku kan sudah lama meninggal. Cuma ada papa dan mas Bimo di rumah. Wajar lah kalau hal-hal seperti ini aku tidak mengerti,”

“Pantas saja tadi tadi kamu kelihatan aneh. Pasti lagi bete ya? Aku juga sering begitu kalau pas hari-hari pertama dapet, suka bete sendiri. Bawaannya kepingin marah melulu,”

“Apa sakit perutnya juga wajar, Far?”

“Namanya juga haid pertama. Wajar kok. Mendingan nanti kamu nanya aja ama mama. Kamu jadi kan makan siang di rumahku?”

Sasa mengangguk beberapa kali. Ia merasakan pembalut yang baru dipakainya pertama kali itu membuatnya agak aneh. Untung saja ukuran pinggang Farah sama dengan ukuran pinggangnya. Diam-diam ia melirik ke arah Farah. Farah baik sekali. Ia merasa bersalah telah bersikap kasar kepada sahabatnya sejak TK itu.

“Sa, masalah Rico yang tadi itu,…”

Sasa langsung menegakkan telinganya seperti kucing. Ia menarik napas panjang dan mengatur emosinya. Farah juga tampak sedang mengatur kata-kata yang tepat untuk Sasa.

“Aku bukannya suka sama Rico, tapi,…”

“Tapi apa?”

“Eeh, kalian belum pulang?”

Sapaan itu membuyarkan semua pembicaraan. Rico mencegat mereka. Pipi Sasa langsung merona menjadi merah jambu. Ditatapnya lekat sosok di hadapannya itu. Tinggi, kulitnya cokelat, dan senyumnya manis sekali.

“Rico,… kenalin ini Sasa yang tadi aku ceritain itu,” ujar Farah tiba-tiba.

Sasa hampir melompat mendengarnya. Tapi tangannya menyambut uluran tangan Rico. Sasa merasa tangannya mungil sekali tergenggam telapak tangan Rico yang kokoh. Jantungnya terasa menggedor-gedor dada dan hampir menerobos keluar. Sasa benar-benar speechless.

“Kamu cerita apa ke Rico, Far?”

“Kebetulan Rico sedang mencari vokalis baru untuk bandnya.Jadi aku promosikan kamu,”

“Iya. Aku jadi penasaran sama kamu, Sa. Tadi waktu ketemu Farah di depan perpustakaan dia cerita kalau kamu sering menang lomba nyanyi. Berarti suara kamu bagus, kan?”

Jadi begitu,…? batin Sasa.

“Besok Minggu bisa datang ke ruang band sekolah buat audisi, Sa? Jam sembilan pagi ya? Jangan telat, lho!”

Suara Rico terasa meresap di setiap pori-pori tubuhnya. Spontan saja Sasa mengangguk beberapa kali.

“Kalau begitu aku pulang dulu ya?” ujar Rico. “Daaah!”

“Dadaaah!” sambut Sasa dan Farah berbarengan.

Sasa mengamati sosok Rico yang berjalan menuju pintu keluar. Jantungnya masih berlompatan kegirangan, begitu pula dirinya.

“Makasih ya, Far!” Sasa memeluk sahabatnya kegirangan.

Sabtu bersejarah. Sasa merasa hari ini indah sekali. []

Tangerang, 28 September 2002

Muat Majalah Kawanku no. 28/XXXII tgl. 6-12 Januari 2003

Tidak ada komentar: