Senin, Juni 06, 2011

Bunda

Ajeng berbelok menuju gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh sebuah motor saja.. Matahari nampak ramah hari ini. Sinarnya tidak sepanas biasanya. Ia berhenti di rumah berpagar hitam. Ada garasi kecil yang diubah menjadi sebuah tempat jahitan. Ada satu meja yang berisi tumpukan plastik berisi kain, satu meja pola, lalu lemari kaca yang bergantung baju-baju yang sudah selesai dijahit, lalu satu meja dengan mesin jahit di mana ibu Ajeng sering bekerja.

Ia menatap wanita yang sedang menjahit itu. Ajeng tahu Bunda masih muda dan ia tahu betapa susah perjuangan Bunda menghidupi mereka berdua setelah bapak meninggal. Sisa kecantikan Bunda masih nampak jelas di usianya yang menjelang pertengahan tiga puluh.

“Kok sudah pulang, Jeng?”

“Guru-guru rapat, bu,” Ajeng mencium tangan Bunda.

“Kebetulan. Kalau begitu tolong antarkan jahitan ke rumah Bu Hamid, Bu Marti, dan Engkong Kosim, ya?”

Ajeng mendesah. Pupus sudah niatnya untuk bersantai hari ini. Tugas mengantarkan jahitan akan sangat melelahkan.

“Iya bu,” jawabnya lunglai.

***

Selepas Ajeng mencuci muka dan berganti pakaian, ia mendengar Bunda sedang berbicara dengan seseorang. Ada suara laki-laki di sana. Ajeng pun menguping dari balik pintu.

“Kira-kira Bu Asna bisa nggak? Kalau bisa sebulan lagi sudah jadi. Soalnya kebaya-kebaya ini mau dipakai buat hajatan saya itu. Biasalah, keluarga besar. Niatnya sih pakai seragam biar kompak gitu,”

Ajeng mencibir. Itu suara Pak Said. Ia tahu laki-laki itu seorang duda cerai yang belakangan akrab dengan Bunda. Bunda bilang mereka berteman sewaktu SMP dulu. Namun, sekarang hubungan mereka lebih dari nostalgia. Beberapa kali Pak Said menjahitkan baju di sini atau sekedar datang membawa oleh-oleh untuk mereka. Seakan-akan Pak Said sedang PDKT dengan Bunda.

“Bunda, mana jahitan yang mau dianterin?” Ajeng memotong pembicaraan.

“Itu di plastik hitam. Semua bungkusan ada namanya, jangan ketukar, ya?”

“Wah, Ajeng rajin ya. Coba kalau saya punya anak serajin Ajeng,” celetuk Pak Said.

“Assalamu’alaikum,” gadis itupun pamit.

Ajeng berjalan menuju warung makan di ujung jalan. Terbayang pisang goreng buatan Wak Ujang kesukaannya. Lumayan untuk mengganjal perut sebelum makan siang. Tapi begitu hendak membuka tirai kain di pintu masuk warung itu, ada sambutan yang tidak sedap.

“Aduh, makin sering aja ya duda itu main ke rumah Asna. Kayaknya bakal ada undangan pernikahan sebentar lagi,” suara seorang wanita.

“Iya. Bu Asna itu beruntung sekali. Said itu kan orang berada, punya banyak toko kain. Siapa tau kehidupan mereka jadi lebih baik berkat Pak Said, kan? Pintar juga,”

Ajeng memutar langkahnya. Selera makannya hilang. Sudah sering ia mendengarnya. Gunjingan ibu-ibu yang selalu menusuk hatinya. Mungkin mereka sirik pada Bunda. Melihat sebuah pertemanan yang akrab antara janda dan duda sering menggoda orang untuk bergosip. Tapi Ajeng tahu Bunda tidak menilai orang dari hartanya. Ia tahu Bunda cuma sayang padanya dan almarhum bapak, bukan kepada Pak Said. Kenapa sekarang Bunda yang baik sekarang digunjingkan orang-orang? Huuh, itu semua gara-gara Pak Said.

Diin, diin! Ajeng menoleh. Ia kaget saat melihat cowok tinggi keturunan Arab itu. Daru mensejajarkan motornya di samping Ajeng. Gadis itu tersenyum. Ia berusaha terlihat normal di depan cowok paling ganteng di sekolahnya itu. Apalagi saat Daru membalas senyumnya, rasanya jantung Ajeng hendak loncat keluar.

“Mau ke mana, Jeng?”

“Mau nganterin jahitan Bunda,”

“Boleh gue antar?”

Di antara percaya dan tidak, Ajeng mengiyakan. Ia berpegangan erat di jaket Daru. Dug dug dug dug, jantungnya berdetak kencang. Ia tidak bisa membayangkan bahwa dia begitu dengan cowok yang dia taksir sejak kelas satu SMU. Wangi rambut Daru menyesak hidung Ajeng. Dan di tengah terpaan angin siang Jakarta, mereka melaju.

***

“Makasih banget, Ru. Untung ada loe. Coba kalau nggak, gue masih kepanasan, siang-siang nganterin jahitan Bunda,”

“Nyante aja lagi. Besok ketemu lagi di sekolah, ya?” ujar Daru sambil memasang helm teropongnya. Mata Ajeng terus mengikuti arah motor Daru yang derunya menggema di udara. Sampai akhirnya motor itu menghilang di tikungan. Ajeng tersentak saat Bunda mengamatinya dari ruang jahit. Matanya menatap menyelidik.

“Assalamu’alaikum,”

“Waalaikumsalam. Semua jahitannya udah dianterin?” tanya Bunda dengan nada datar.

“Beres. Nggak ada yang ketukar, kok,”

“Tadi itu siapa? Temen sekolah?”

“Iya, namanya Daru. Kebetulan tadi ketemu, terus dia nggak keberatan nganterin Ajeng. Emang kenapa, Bunda?”

“Bunda sih nggak masalah kalau kamu punya banyak teman laki-laki. Asal jaga diri. Asal nggak pacaran sama mereka,”

Kening Ajeng berkernyit. “Kalau Ajeng beneran jadi pacar Daru kenapa, Bunda?”

“Jeng, kamu itu baru kelas 3 SMU. Nggak boleh main-main. Kamu harus mikirin ujian supaya diterima di universitas negeri. Syukur-syukur kalau dapat beasiswa. Nggak ada waktu deh untuk pacaran,”

“Namanya masa puber, jadi naksir-naksiran wajar dong, Bunda?”

“Masa kamu nggak kepingin kuliah, sih?”

“Loh, apa hubungannya naksir cowok sama kuliah? Apalagi nilai-nilai Ajeng bagus. Dapat rangking. Masa naksir cowok aja nggak boleh?”

“Kamu ini ngebantah melulu,”

Ajeng cuma diam.

“Tuh, ada Bolen Pisang dari Pak Said. Cobain deh,” ujar Bunda melumerkan suasana.

Ajeng menatap Bundanya heran, “ini cuma perasaan Ajeng atau emang kenyataannya kalau Pak Said punya perhatian khusus ama kita, ya?”

“Ya iyalah. Dia kan teman lama Bunda. Apalagi Bunda sering beli kain di tokonya. Wajar lah kalau dia baik sama kita,”

“Bunda nggak khawatir?”

“Khawatir apa?” tanya Bunda datar sambil menggambar pola.

“Dia kan duda. Bunda kan janda. Siapa tau dia naksir Bunda,”

“Huss! Dia udah empat puluh lebih, kok, mana kenal sama naksir-naksiran ala SMU,”

“Tapi intinya sama, Bunda. Cowok ngedeketin cewek. Berusaha untuk mendapatkan perhatian dan mengarah ke hubungan yang berstatus. Entah pacaran atau menikah,”

“Jadi kamu pikir kami pacaran? Enggak, lah. Seumur hidup Bunda nggak akan nikah lagi. Bunda ingin konsentarsi sama kamu, Jeng. Supaya kamu sukses. Lagian, apa kedekatan itu selalu berarti hubungan cinta?”

“Nah! Kalau Daru dan Ajeng deket, bukan berarti pacaran, kan?”

Bunda menatap putrinya lekat.

“Ajeng bisa terima kalau Bunda ngelarang pacaran demi sekolah. Tapi Bunda sendiri deket banget ama Pak Said. Bunda nggak denger omongan orang-orang? Ajeng capek ngedengerin ibu-ibu tetangga ngomongin yang jelek-jelek tentang Bunda. Ajeng tuh nggak suka kalo Pak Said sering main ke sini. Kesannya Bunda pacaran ama dia,”

“Jeng! Kamu nggak percaya sama Bunda? Kamu itu nggak tau kondisi sebenarnya,”

“Nggak tau lah!” Ajeng keluar dari rumahnya. Matahari semakin menyengat. Ada butir-butir bening menggelayuti pelupuk matanya dan hampir jatuh meleleh di pipinya.

***

“Lagi ngapain, Win?” tanya Ajeng.

“Lagi bikin kue buat nyokap,” ujar Wina yang sedang tadi sibuk dengan mixer dan adonan kue. Celemek birunya sudah belepotan dengan tepung. Dapurnya penuh dengan alat-alat masak.

“Nyokap loe ulang tahun?”

“Besok kan Hari Ibu, Jeng. Gue belajar bikin kue, pingin bikin surprise buat nyokap. Yaah, walaupun nyokap gue wanita karir yang selalu sibuk di kantor, gue tetep sayang dia,”

Wina terus sibuk dengan adonannya. Ajeng termenung di depan pintu dapur. Tadinya ia ke sini untuk curhat dengan sahabatnya itu. Barusan ia berdebat dengan Bunda. Walau tidak sampai bertengkar, tapi hati Ajeng masih terasa sesak. Eeeh, sampai di sini, ternyata Wina sibuk dengan urusannya sendiri.

“Gue tau nyokap jarang di rumah. Gue sering kesel ama dia. Tapi itu nggak merubah apa-apa, tho?” ujar Wina terus nyerocos tanpa melirik sedikit pun ke arah Ajeng. “Gue kan nggak mungkin masuk lagi ke dalam perutnya terus minta dilahirin sama orang lain,”

Ajeng cuma diam.

“Loe bikin apa buat nyokap loe?”

Ajeng menggeleng.

“Payah loe!”

Ajeng meringis. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Siapa suruh Bundaku cakep sampai banyak yang naksir? Bunda tetap Bundaku, gimanapun juga. Beliau lebih tau bagaimana mengurusi dirinya dan aku,” gumam Ajeng.

“Ngomong apa loe?”

“Eh, enggak. Gue balik dulu, ya?”

Wina cuma menggeleng-geleng melihat tingkah sahabatnya itu.

***

Ajeng mendapati Pak Said ada di ruang tamunya. Kemeja kotak-kotak birunya nampak rapi dipadukan dengan celana hitam. Seperti biasa rambutnya disisir dengan belahan pinggir. Wangi parfumnya pun tidak berubah. Yang berbeda, ada seorang wanita bertubuh agak gemuk dengan rambut ikal sedang duduk di sebelahnya.

“Jeng, jangan lupa datang ya?” ujar Pak Said mengembangkan senyumnya.

Ajeng menerima undangan berwarna coklat muda yang dihiasi lukisan bunga-bunga kecil. Ada foto Pak Said dan wanita itu dengan pakaian adat jawa. Ada inisial huruf S dan H tertera besar di undangan itu.

“Oh iya, kenalin ini Tante Hastuti, calon istri saya,”

Ajeng cuma melongo. Jadi?

Bunda keluar dari dapur sambil membawakan minuman. Matanya mengerling penuh arti ke arah Ajeng. Seperti hendak memberi jawaban atas keberatan Ajeng selama ini. Gadis itu jadi salah tingkah sendiri. Aduuuh, Ajeng sudah salah sangka pada Bunda. Bagaimana minta maafnya, ya? Lalu bagaimana mengucapkan Selamat Hari Ibu? Apalagi dia belum menyiapkan kado. Aduuuh, Ajeng kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.

***
Tangerang, 19 November 2002
Muat Majalah Cinta no. 18/Desember 2004

Tidak ada komentar: