Senin, Juni 06, 2011

Cerita Dari Toilet

12 Desember, jam delapan tepat di toilet sekolah

Ya Tuhan, perutku terasa melilit. Kram perut yang biasa mendatangiku saat datang bulan seperti ini benar-benar membuatku sangat menderita. Aku menatap diriku di cermin. Jeleknya wajahku saat aku meringis menahan sakit sambil mengelus-elus perutku yang kacau itu.

“Eva!” tiba-tiba Hana, teman sekelasku datang. “Kamu yakin baik-baik saja?”

“Tenang saja,” jawabku sambil mencuci tangan di wastafel. “Aku mengalaminya sebulan sekali. Sudah biasa,”

Hana tampak tidak yakin. Wajahku pucat dan berkeringat dingin. badanku agak membungkuk sambil melindungi perut. Wajar saja dia kelihatan cemas.

“Aku cari obat dulu di PMR, ya? Kamu di sini saja,” hiburnya.

“Jangan lama-lama.”

Begitu Hana keluar, aku langsung masuk ke salah satu bilik. Toilet memang sepi saat jam pelajaran. Untung saja Pak Maryo, guru sejarah, sedang absen. Aku duduk di atas closet sambil menggosok-gosok perutku. Baru semenit Hana pergi, tapi aku mulai tidak sabar.

Braaakk!! Pintu toilet dibuka keras. aku mendengar suara berdebam membentur tembok lalu suara pintu ditutup kembali dengan keras. spontan saja aku mengangkat kakiku bersila. Suara langkah kaki dua orang memasuki toilet. Salah satu dari mereka mengecek bilik toilet satu-persatu dari bawah pintu. Aku benar-benar baru bisa bernapas saat salah satu dari mereka berkata, “Bersih,”

“Menyebalkan!” teriak salah satu dari mereka. suaranya agak melengking.

“Tahu tidak? Gara-gara test pack sialan itu, kelas kita jadi jelek. Siapa sih yang usil menaruh barang begituan di meja guru. Mana tandanya positif lagi. Sudah dua hari guru-guru bersikap seperti mata-mata di kelas kita. Sialan!”

“Tenang, Pop! Omongan kamu nanti kedengaran.”

Aku manggut-manggut. Aku mendengarkan dari dalam bilik. Mungkin gadis yang berteriak itu adalah Poppy-anak kelas sosial satu-dan mungkin teman satunya lagi adalah Tara. Mereka selalu ke mana-mana berdua.

“Tar, menurut kamu siapa yang menaruh test pack itu?”

“Mungkin salah satu dari Abel and the gank. Siapa tahu Maudy? Rien? Dona? Atau Abel sendiri. Mereka kan terkenal gaul, doyan dandan, pokoknya cewek populer deh.” ujar Tara agak berbisik.

Aku berusaha keras menguping pembicaraan mereka sambil berhati-hati agar tidak ketahuan mereka.

“Pokoknya kita harus cari tahu siapa yang hamil itu.”

“Pasti mereka, deh.” Celetuk Tara penuh semangat.

“Udah ah, sebentar lagi jam Bu Henny yang killer itu. Yuk!”

Aku baru berani keluar setelah suasana toilet benar-benar hening. Aku agak merinding mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan. Perutku sudah tidak terasa sakit lagi. Mungkin karena terlalu asyik mendengarkan pembicaraan mereka.

“Eva?” Hana kemudian muncul. “Gimana perutmu?”

“Baikan!” aku menepuk pelan perutku dua kali.

“Barusan Tara dan Poppy keluar dengan wajah sangar. Kamu tahu sesuatu ngga?”

Aku cuma menggeleng dan tersenyum

12 Desember, jam setengah sepuluh di tempat yang sama

Empat jam pelajaran di kelasku kosong. Dan sekarang aku sedang duduk di atas closet yang tadi kududuki. Aku duduk bersila. Barusan aku kebelet buang air kecil, tapi sekarang aku jadi terperangkap di sini. Gara-gara Poppy dan Tara tiba-tiba masuk. Hal ini menarikku untuk menguping sekali lagi.

Anehnya sekarang mereka diam. yang bisa kudengar adalah suara kloset disiram di bilik sebelahku dan suara keran wastafel dibuka. Tak lama kemudian, suara langkah beberapa orang memasuki terdengar.

“Lihat siapa yang datang. Para cewek cantik.” sindir Poppy.

Aku berusaha melihat dari sela-sela sekat bilik. Meskipun sela-sela sekat agak kecil, aku bisa melihat Abel dan teman-temannya tampak tidak senang dengan sambutan Poppy.

“Maksud omonganmu apa?”

“Jangan pura-pura bego. Aku cuma menyambut kedatangan para cewek yang sering gaul di pub atau diskotek. Apa itu salah?”

To the point aja deh!” Abel mulai kehilangan kesabaran.

“Menurut kalian, siapa yang lebih dicurigai guru-guru sebagai pemilik test pack itu?”

“Ooo, jadi kalian menuduh kamu yang punya benda itu?” tanya Rien.

“Eeh, kami ngga bilang begitu. Atau ada salah satu dari kalian yang merasa?” ujar Tara.

“Gini-gini kami masih punya moral, jangan kurang aja kalo ngomong.” Maudy mulai marah. “Apa buktinya?”

“Hei, aku tahu kamu benci sama aku, Pop. Kamu iri kan sama popularitas kami,” ujar Abel. “Tapi jangan nuduh salah satu dari kami hamil dong. Itu fitnah!”

“Iri? Iri sama apa? Keglamoran kalian? Duit kalian? Yang ada kalianlah yang iri sama otak Poppy,” sambar Tara sengit.

“Eh, jangan ikut campur provokator!” sambung Dona ketus.

“Udah deh, biar nama kelas jadi baik lagi, terang-terangan deh! Siapa yang kemarin naruh test pack positif di meja guru? Becandanya keterlaluan, tau! Atau memang benar ada yang hamil di kelas kita?” tanya Poppy.

“Ketua kelas yang baik,” ujar Abel. “Jangan jadi sok pahlawan. Jangan merasa sok benar dengan menuduh kami. Kami ini bersih!”

“Aku ngga peduli omonganmu!” Tara mendorong Abel. “Cewek populer macam kalian bikin mataku pahit, tau!”

“Apa-apaan sih!” Abel balas mendorong.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah mereka saling adu mulut dan saling dorong. Toilet berubah menjadi riuh rendah. Aku benar-benar menikmati pemandangan dari dalam bilik, sekaligus juga ngeri. Bagaimana jika mereka saling pukul kemudian bergelut di lantai? Siapa yang menang? Parahnya, bagaimana jika aku ketahuan bersembunyi sini?

Braaakk!!

Terdengar kembali suara pintu toilet yang dibuka dan membentur dinding dengan keras. aku tidak bisa melihat siapa yang datang. Namun, para kakak kelasku itu langsung diam. suara hak sepatu yang menggema membuatku berkesimpulan ada guru yang datang.

“Kalian semua! Masuk ruang BP!”

Aku langsung membeku. Itu adalah Bu Juwita, guru BP yang terkenal akan ketegasannya. Rupanya pertengkaran mereka terdengar sampai keluar. Mungkin Bu Juwita tak sengaja lewat dan mendengarnya. Huh, apes sekali.

Kupasang telingaku erat-erat untuk mendengarkan suara-suara lankah kaki yang meninggalkan toilet. Dan aku benar-benar berani keluar dari bilik saat suasana menjadi sunyi kembali.

15 Desember, di salah satu toilet sebuah mal

toilet ini sepi. Saat keran mengucurkan air, aku teringat kejadian tiga hari lalu di toilet sekolah. Aku cuma tersenyum-senyum sendiri.

“Hei,…” celetuk Hana. “Ketawa sendiri. Gila, ya?”

Aku cuma menggeleng.

Kriieett,

Kami refleks langsung menoleh ke arah orang yang baru datang itu. Darahku seakan-akan berhenti mengalir melihat gadis yang mengenakan u can see hijau dan celana courdoray coklat itu. Dia adalah Tara. Ia melirik sekilas ke arah kami, tapi ia menatap kami seakan-akan kami adalah orang asing. Ia tidak mengenali kami.

Ia mencuci tangannya di wastafel sebentar lalu mengeluarkan kantong plastik hitam dari tasnya. Aku benar-benar tidak bisa melepaskan mata darinya.

“Hei!” hardiknya membuatku tersentak. “Apa lihat-lihat?”

“Memangnya dia tidak tahu kalau kita adik kelasnya?” bisik Hana setelah Tara masuk ke dalam bilik toilet.

Aku cuma mengangkat bahu.

“Aku pipis dulu, ya? Tungguin sebentar,” ujar Hana buru-buru masuk ke dalam bilik di sebelah bilik di mana Tara berada.

Tak lama kemudian Tara keluar. Wajahnya kelihatan sangar. Aku menunduk sambil pura-pura menata bajuku dan mematut diri di cermin. Diam-diam aku melirik ke arahnya saat dia tak memperhatikanku. Ia melongok sebentar ke dalam kantong plastik yang tadi dibawanya dan dilemparkannya kantong itu ke dalam tong sampah yang tak jauh dari situ. Ia sempat melirikku sebelum meninggalkan toilet. Untung saja aku langsung pura-pura mengoleskan lipgloss dan ia pergi begitu saja.

Aku benar-benar penasaran dengan isi kantong plastik itu. Buru-buru kuambil kantong itu dan melihat isinya. Jantungku hampir berhenti dan mataku terbelalak saat melihat apa yang ada di dalam sana. langsung saja kuikat kantong tersebut dan dengan cepat kubuang kembali.

“Kenapa kamu pucat, Va?” tanya Hana yang baru keluar dari bilik. Ia mencuci tangan sambil menatapku cemas. “Kamu sakit?”

“Tidak,”

aku menarik napas dan berusaha menormalkan degup jantungku. Ya Tuhan, aku tidak mempercayai apa yang kulihat. Pikiranku langsung berkecamuk dan menghubungkan semua kejadian yang kualami belakangan ini. Baru saja Tara membuang test pack yang bertanda positif di depan mataku. Jangan-jangan? Jadi dia yang sebenarnya,…

Tangerang, 17 Juli 2002

Muat Majalah Kawanku no.24/XXXII 9-15 Des 2002 dan antologi “Jati Diri” (Primamedia Kawanku,2004)

Tidak ada komentar: