Senin, Juni 06, 2011

Syukur Selalu Indah

Fauzi duduk di pinggir lapangan. Matanya tak lepas dari kambing-kambing yang sedari tadi merumput. Ada dua puluh dua kambing yang harus dia beri makan setiap hari sepulang mengaji. Kambing-kambing ini milik para dermawan yang disumbangkan ke masjid menjelang Idul Adha ini. Ustadz Said meminta bantuan Fauzi untuk menjaga kambing-kambing ini.

Dan di sinilah dia. Duduk sambil memandangi calon hewan-hewan kurban itu. Fauzi mulai terbiasa dengan bau tahi yang menyengat hidung. Ia sering geli melihat mulut hewan itu yang tak henti-hentinya mengunyah rerumputan. Dan ia mulai sayang pada hewan-hewan itu. Rasanya tidak tega melihat hewan-hewan itu tinggal menunggu hari sebelum akhirnya disembelih.

“Zi, belum pulang?” suara itu memecah lamunan Fauzi.

“Ustadz bikin kaget,” Fauzi mencium tangan guru ngajinya itu. “Saya masih betah di sini,”

“Kayaknya kamu sayang banget sama kambing-kambing ini,”

Fauzi menunduk diam. Ada hening di antara keduanya.

“Saya nggak tega melihat mereka disembelih, pak Ustadz. Mereka kan sama seperti kita, makhluk hidup juga,”

“Tapi kita manusia, Zi. Manusia adalah ciptaan Allah paling sempurna. Kita punya akal pikiran dan hati nurani,”

“Justru itu. Seharusnya hati nurani kita tetap membiarkan kambing-kambing itu hidup sebagaimana mestinya. Kalau dipikir-pikir, karena kita dianugerahi akal, untuk apa diciptakan kambing bila nanti akhirnya mereka harus disembelih?”

“Di sinilah peran hati nurani kita. Relakah kita mengorbankan seekor kambing atau sapi demi sedikit amal kepada fakir miskin yang lebih membutuhkan?” jawab pak Ustadz. “Coba kamu pikir, mana ada ciptaan Allah yang sia-sia?”

Fauzi kembali diam.

“Sudah, lebih baik kamu pulang. Bukankah kamu harus membantu ayahmu?”

“Assalamualaikum,” Fauzi mencium tangan gurunya.

“Wa’alaikumsalam,”

***

Fauzi melewati gang sempit yang becek karena hujan tadi siang. Rumah-rumah saling berdekatan dengan sekat dinding saja. Sepanjang pagar tergantung jemuran-jemuran yang tidak sedap dipandang. Ada satu-dua ekor ayam yang berkeliaran di gang dan ada pula ibu-ibu tetangga ngemong anak-anak mereka sembari bergosip menghabiskan sore.

Rumah petak sempit tanpa teras bernomor empat. Itulah rumah Fauzi.

“Assalamualaikum,”

“Wa’alaikumsalam!” suara melengking khas itu menyambut.

Fauzi mendapati ibunya, dengan daster coklat lusuh dan rambut agak acak-acakan, sedang memandikan Doni, adik bungsunya. Bocah cilik itu menciprat-cipratkan air ke arah ibu sampai ibu berteriak-teriak kesal. Fauzi beralih ke arah dapur yang sempit. Diintipnya meja makan. Ada nasi, sayur kacang, tempe goreng, dan sambel uleg tertata seadanya. Nafsu makannya menyurut.

Fauzi mendengar suara ribut di kamarnya. Ada Retno dan Ratih, adik kembarnya, sedang berebutan boneka panda yang bulu putihnya mulai kusam.

“Ini punyaku!”

“Punyaku!”

“Punyakuuu!!!”

“Hei, apa-apaan ini?” Ibu tiba-tiba muncul di sebelah Fauzi. “Jangan ribut! Mainannya gantian dong. Kalo nggak, mendingan bonekanya dikasih ke orang aja,”

Kedua anak itu langsung diam.

“Uzi, mestinya sebagai anak paling gede, kamu bisa melerai mereka dong! Masa semuanya ibu yang urus?”

Fauzi cuma mengangguk. Ia terduduk lemas di ranjangnya. Kamarnya terasa pengap. Di ruangan sekecil ini, ia harus berbagi dengan ketiga adiknya. Rasanya ingin ia memiliki satu kamar pribadi dan suasana yang tenang, bukan rumah seramai ini.

“Uzi, kita berangkat ya?” wajah ayahnya muncul dari balik pintu. Beliau sudah memakai topi pancing lusuh dan handuk tergantung di lehernya.

“Iya,” Fauzi memaksa bangkit dari duduknya. Hampir setiap hari ia menemani ayahnya berjualan sate kambing di alun-alun, mulai pukul lima sore sampai menjelang malam. Ia masih mengumpulkan tenaga untuk melewati satu hari lagi. Satu hari yang berat.

Dan kini ia merasa Allah jauh darinya.

***

Takbir bertalu-talu. Di mana-mana terdengar gema yang mengagung-agungkan kebesaran nama Allah. Idul Adha datang dengan penuh kemuliaan. Langit terlihat cerah. Birunya terlihat damai sedamai hari ini.

Fauzi duduk di ruang tengah. Sepulang sholat Ied, enggan rasanya untuk bergabung dengan remaja masjid lainnya menyembelih hewan-hewan kurban. Ia tidak tega. Ia tidak kuat bila harus memaksakan nuraninya di hari agung ini.

“Assalamu’alaikum,”

Fauzi tersentak. “Wa’alaikumsalam. Ada apa pak Ustadz datang kemari? Bukankah bapak harus mengkoordinir penyembelihan kambing?”

“Bapak harus ke panti asuhan. Kamu mau kan menemani bapak?”

“Kenapa saya?”

“Yang lain sibuk menyembelih hewan kurban. Ada waktu luang?”

Fauzi ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.

***

Ada sesuatu yang beda saat menjejakkan kakinya di panti asuhan. Anak-anak kecil duduk manis di aula. Usia mereka beragam, dari sekitar tiga tahun sampai tujuh belas tahun. Mereka berdandang rapi. Semuanya memakai baju muslim. Ceria menghiasi wajah mereka menyambut hari raya ini.

“Zi, bapak mau ketemu kepala panti asuhan. Kamu tunggu di sini, ya?”

Fauzi diam.

Selama beberapa menit ia duduk di pojok ruangan memandangi keriuhan yang ada. Memang di sini lebih riuh dari suasana rumahnya, tetapi entah ia merasa ada yang kurang.

“Kakak siapa?”

Kening Fauzi berkerut melihat anak perempuan sekitar enam tahun datang ke arahnya. Lengan anak itu memeluk boneka yang jauh lebih lusuh dan kotor dari milik adiknya.

“Kakak orang baru di sini, ya?”

“Nggak, saya cuma sillaturahmi di sini. Namamu siapa?”

“Fatimah. Saya tinggal di sini. Kakak tinggal di mana?”

“Saya tinggal di gang pemuda,”

“Enak ya kalau punya rumah,”

“Nggak juga. Rumah saya kecil. Berisik lagi. Adik-adik saya selalu ribut setiap hari sampai ibu marah-marah. Kamar saya sempit dan diisi empat orang. Pokoknya pengap deh,”

Fatimah tertunduk.

“Kenapa?”

“Kakak enak masih punya saudara. Saya sudah nggak punya siapa-siapa. Nggak punya ayah, ibu, atau saudara. Di sini satu kamar isinya lima belas orang. Ramai sih, tapi lebih ramai kalau dengan keluarga sendiri,”

“Waktunya makan!” teriak seorang bapak sambil membagikan piring-piring ke dalam aula.

Fatimah mendongak. “Asyik! Kita makan daging kambing. Fatimah belum pernah makan daging kambing, lho. Untung aja ada Idul Adha, kita bisa makan enak! Bisa makan daging!”

Fatimah setengah berlari menuju depan aula untuk mengambil piringnya.

Rasanya gadis itu telah meruntuhkan segala keangkuhan di hati Fauzi. Keangkuhan yang menyebabkan ketidakpuasan. Fauzi menutup mata atas segala anugerah Allah padanya.

Beruntungnya punya keluarga. Ada ayah, ibu, dan tiga adik. Ia tidak perlu merasa kesepian seperti Fatimah. Walaupun ibunya cerewet, ia tetaplah wanita yang mengajarkan kebaikan pada Fauzi. Beruntung rasanya masih bisa makan enak, walaupun tidak mahal. Ia terkadang bisa makan daging, terutama kambing, karena ayahnya penjual sate kambing. Jadi tidak perlu menunggu Idul Adha untuk kenikmatan seperti itu.

Satu persatu gambaran muncul di benaknya. Ada rumah, ada kamar, ada keluarga, ada kesempurnaan tubuh, ada pak Ustadz, ada kesempatan sekolah, ada umur dan segalanya. Ia merasakan pipinya basah. Fauzi merasa dirinya jauh lebih beruntung dari siapapun. Mungkin Allah menyentilnya. Mungkin Allah menunjukkan kuasaNya hari ini.

“Alhamdulillahirrobbil’alamiiin,”

Rasa syukur mengantarkan Fauzi melihat lebih dekat sesamanya. Dan mungkin inilah yang diajarkan Allah hari ini, kasih sayang. []

Tangerang, 10 Februari 2003

Juara I Lomba Karya Cipta Cerpen 2003 SMU Insan Cendekia

1 komentar:

Gamis Baru mengatakan...

alhamdulillah,
selalu beryukur
:-)